Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km: Surganya Penikmat Tanjakan

Gambar

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti event gowes tahunan yang diadakan oleh Jawa Pos yaitu Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km. Niatan awal tertarik mendaftar event ini karena penasaran ingin mencoba tanjakan Bromo dengan rute yang berbeda yaitu Pasrepan, Pasuruan – Tosari – Wonokitri. Kedua, banyak teman sepeda yang bilang kalau ikut acara sepeda Jawa Pos sangatlah menyenangkan karena ditanggung semua fasilitas dan keamanan bersepeda selama event langsung dari Polda Jawa Timur. Flashback aja, bulan Maret 2013 saya juga pernah touring ke Bromo lewat rute: Probolinggo – Tongas.

Sejak informasi pendaftaran online Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km dibuka, paginya saya langsung menghubungi teman touring di Surabaya Mbahpolenk Gowes untuk dibantu pendaftaran offlinenya. Mbahpolenk sangat dekat dengan panitia Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km ini, jadi persyaratan seperti mengisi formulir pendaftaran, fotocopy KTP dan uang pendaftaran saya titipkan beliau. Pengurusan pendaftaran tidak terlalu lama, selang 1 hari saya mendapatkan kiriman email dari panitia menjadi peserta Jawa Pos Cycling Bromo 100 km.

Bersama Mbahpolenk sebelum gowes Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km

Surly Cross Check – Mbahpolenk Gowes

Senangnya bisa ikut Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km. Pukul 06:00 saya sudah di lapangan Polda Jawa Timur sebagai tempat start event ini. Menurut rundown acara panitia yang dikirimkan melalui email mulai start pukul 07:00. 1 jam menunggu peserta yang datang baiknya melakukan hal yang asyik seperti berkenalan dengan peserta lain dari segala penjuru wilayah dan berfoto-foto.

Untuk gowes kali ini saya memakai sepeda balap besi Surly Cross Check. Kenapa memakai sepeda balap (roadbike) tidak pakai mountain bike? Karena saya ingin menikmati setiap kayuhan dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam, ketika memakai mountain bike kemungkinan akan tertinggal jauh.

Peserta lokal dan international Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2014

Etape 1: Surabaya – Pasuruan (63 km)

Tepat pukul 07:00 WIB panitia sudah memberikan tanda ke semua peserta untuk segera memulai perjalanan. Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km ini dibagi 3 etape sekaligus tempat peristirahatan yaitu Surabaya – Pasuruan (kota), Pasuruan (kota) – Pasarpan dan Pasarpan – Wonokitri. Di etape 1: Surabaya – Pasuruan (63 km), peserta dimanjakan dengan rute yang flat dan jalan bergelombang di wilayah Sidoarjo. Bisa diibaratkan rute etape 1 yaitu pemanasan kaki dan otot. Peserta tidak boleh menyalip road captain dan dibatasi dengan kecepatan maximal 30 km/jam.

Dibatasi dengan kecepatan maximal 30 km/jam ada positifnya, kita bisa menikmati pemandangan kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan beberapa wilayah Jawa Timur. Dari awal Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km bukan adu kekuatan fisik (kompetisi) untuk mendapatkan nomor podium. Untuk keamanan selama gowes dijaga ketat di setiap titik persimpangan oleh pasukan dari Polda Jawa Timur, jadi tidak perlu khawatir ada motor/mobil warga yang masuk di jalan utama.

Tepat pukul 10:00 WIB peserta sampai di check point 1 (kota Pasuruan). Di check point panitia sudah disiapkan segala makanan ringan, minuman dan buah-buahan segar. Panitia memberikan waktu 30 menit waktu istirahat yang dihitung dari waktu kedatangan peserta awal yang datang di check point 1. Saya makan-makanan yang mudah dicerna tubuh, seperti buah-buahan segar dan minuman ber-ion agak tidak dehidrasi.

30 menit waktu berjalan panitia sudah memberikan informasi untuk segera berkumpul di garis start. Untuk etape 2: Kota Pasuruan – Pasarpan panitia sudah mengingatkan untuk berhati-hati dan jangan emosi untuk adu kekuatan. Di etape 2 ini adalah pemanasan tanjakan di kaki gunung Bromo. Jalan yang berliku-liku sekaligus menanjak akan didapat di etape ini. Road captain sudah membebaskan kecepatan dari tiap-tiap peserta.

Pemandangan pohon dan jalan di Bromo

Pemandangan pepohonan, jalan yang menyempit dan berkelok-kelok adalah khas dari Bromo. Sepanjang 20 km sampai check point 2 Pasarpan, banyak warga yang memberikan support semangat untuk terus mengayuh. Anak-anak kecil berlarian mengejar peserta, mungkin jarang sekali pesepeda melewati tempat ini. Masuk Pasarpan jalanan mulus hampir tidak ada lobang, karena jalur yang dilewati ini bukan jalan utama menuju Bromo. Wisatawan banyak melewati Tongas – Sukapura.

Akhirnya sampai di etape 2 Pasarpan. Mulai banyak pesepeda yang kakinya kram dan kehabisan air saat perjalanan, kebetulan saat itu sedang panas-panasnya. Saya melihat di check point 2 teman saya Masudi Jauhari dari Riau berteriak kesakitan karena kram otot. Kemungkinan karena kurang pemanasan, kurang minum selama gowes dan terlalu emosi memainkan power kaki saat nanjak. Solusinya perbanyak minum walaupun kerongkongan belum berasa haus dan mengatur ritme kayuhan secara konstan.

Etape terakhir dari Pasarpan – Wonokitri (30 km). 30 km sampai Wonokitri adalah rute dahsyat buat penikmat tanjakan. Surly Cross Check saya memakai groupset Tiagra (2 x 9 speed) masih kurang melahap tanjakan ini. Karena kehabisan gigi untuk perpindahannya saya sering berhenti, menarik nafas dan berdiri untuk memainkan power saat melewati tanjakan. Udara juga sudah mulai dingin, air minum sudah hampir habis, kabut mulai turun. Saya memutar musik di handphone agar tidak bosan menyelesaikan etape terahir ini.

Dalam hati saya kepikiran, sepeda besi dan drivetrain cuma 9 speed bukan alasan untuk berhenti dan meminta pertolongan panitia untuk mengevakuasi saya. Sebagai penikmat tanjakan, melewati setiap tanjakan yang tajam adalah kegembiraan tersendiri. Ada peserta lain juga yang masih jauh dibelakang, saya berpikiran masih mampu untuk menaklukkan tanjakan Bromo ini. Pukul 13:30 saya finish di Wonokitri, Bromo. Saya terlambat 15 menit dari aktu yang diberikan panitia 13:15. Bagi saya waktu keterlambatan 15 menit bukan masalah, karena berhasil menaklukkan tanjakan Bromo via Pasarpan – Wonokitri itu yang utama. Salam gowes!

Finish bersama Jend. Royke – teman Jelajah Sepeda Kompas Sabang – Padang

Finish Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2014

 

[FOTO] Gowes Klasik ID-Folding Bike: Bandung – Tangkuban Perahu

Start di Dago, Gowes Bandung - Lembang | doc. Prastowo

Start di Dago, Gowes Bandung – Lembang | doc. Prastowo

Foto bersama ID-Foldingbike di Dago | doc. Prastowo

Foto bersama ID-Foldingbike di Dago | doc. Prastowo

Gowes santai melewati Dago | doc. Prastowo

Gowes santai melewati Dago | doc. Prastowo

Gowes santai melewati Dago | doc. Prastowo

Gowes santai melewati Dago | doc. Prastowo

Gowes santai melewati Dago | doc. Prastowo

Gowes santai melewati Dago | doc. Prastowo

Menikmati tanjakan di sebuah perkampungan Bandung | doc. Prastowo

Menikmati tanjakan di sebuah perkampungan Bandung | doc. Prastowo

Menuju Lembang dengan tanjakan hits! | doc. Prastowo

Menuju Lembang dengan tanjakan hits! | doc. Prastowo

Pit stop 1 di Lembang | doc. Prastowo

Pit stop 1 di Lembang | doc. Prastowo

Dari Lembang menuju Tangkuban Perahu 1 | doc. Prastowo

Dari Lembang menuju Tangkuban Perahu 1 | doc. Prastowo

Dari Lembang menuju Tangkuban Perahu 2 | doc. Prastowo

Dari Lembang menuju Tangkuban Perahu 2 | doc. Prastowo

Sepeda lipat Downtube Nova Prastowo | doc. Prastowo

Sepeda lipat Downtube Nova Prastowo | doc. Prastowo

Foto dengan view kawah Tangkuban Perahu | doc. Prastowo

Foto dengan view kawah Tangkuban Perahu | doc. Prastowo

Gowes Kulineran, Belanja sampai Solo

Kadang banyak orang yang bingung, emang gak capek gowes jauh-jauh? Apa lagi selo? Kemarin 1 Februari 2014, ada teman saya Revo - Mahasiswa S2 Teknik Sipil UGM asal Padang, Sumatra Barat mengisi waktu liburnya 14 hari dengan bersepeda: Jogja – Bromo – Bali (kalau khilaf sampai Lombok). Sabtu pagi saya dan teman-teman komunitas sepeda MTB Federal Jogja berkumpul di bawah jembatan janti untuk memberikan support samul semangat dan doa, supaya selamat sampai Jogja lagi.

Gambar

Setelah doa, ngobrol ngalor-ngidul teman-teman MTB Federal Jogja ada yang pulang, ada juga yang mengantarkan sampai gapura batas Candi Prambanan. Saya, Aristi, Anto dan Triyono melanjutkan pengantaran Revo sampai Solo. Perjalanan menuju Solo dari Jogja pasti melewati Klaten, kita sepakat untuk sarapan pagi di kota Klaten. Hmm.. Karena saya menjadi road captain gowes ke Solo kali ini, saya pilih makanan favorit saya: Nasi Tumpang Koyor dan Bubur Letok khas Klaten langganan saya. ^^

Gambar

Gambar

Setelah makan nasi tumpang koyor dan minum teh anget, kami melanjutkan perjalanan ke Solo. Karena perbatasan Surakarta dan Sukoharjo lebih dekat dengan Solo Baru, kami sengaja tidak mengambil jalan utama Kartasura – Surakarta. Setelah masuk kota Delanggu ada jalan ke arah Baki dan Solo Baru, memang jalan yang kami lewati lebih jauh dari jalan utama. Pemandangan sawah dan anak SD pulang sekolah mewarnai gowes ke Solo kali ini.

45 menit perjalanan dari warung nasi tumpang sampai Solo Baru dengan jalan yang lumayan rusak sepanjang 1 km, membuat kami extra hati-hati karena banyak lobang dan truk pasir yang membawa muatan. Jalan ke arah Solo Baru lewat Baki ini memang jarang orang yang tahu, karena masuk-masuk kampung perbatasan antara Klaten dan Surakarta. Akhirnya kami tiba di perbatasan Surakarta dan Sukoharjo tepat pukul 12:00 siang. Kami menyempatkan foto-foto sebelum Revo melanjutkan perjalanan.

Gambar

Gambar

Oke.. Tugas mengantarkan Revo sampai Solo sudah selesai, mari kita belanja part sepeda! Rencana awal saya gowes ke Solo mengantarkan Revo dan berbelanja part sepeda. Kebetulan Aristi juga mencari beberapa aksesoris sepeda touring seperti handlebar bag Ortlieb dan extended bar untuk memasang tambahan lampu. Dari arah Solo Baru menuju Jln. Slamet Riyadi, Solo melewati beberapa toko sepeda seperti Ace Hardware Solo, Rukun Makmur, Roda Link Solo dan Bike Colony Solo.

Toko sepeda pertama yang kami datangi Ace Hardware Solo di Solo Paragon. Masuk 10 menit di Ace Hardware tidak menemukan barang yang dicari, lalu iseng-iseng jalan di bagian rompi saya membeli rompi reflector seharga: 39.000,- luamayan laah buat touring kalau malam-malam. Toko sepeda kedua yang kami singgahi yaitu Toko Sepeda Rukun Makmur. Di toko sepeda Rukun Makmur, menemukan extend bar merk Minoura Japan (new old stock), tapi setelah dicoba bongkar kurang praktis dipasang di sepeda. Toko ketiga yaitu Roda Link Solo, beruntungnya kita mendapatkan barang-barang yang kita cari. Yeaay..!!!

Gambar

Lokasi toko sepeda terahir sebelum kita pulang kembali ke Jogja yaitu Bike Colony Solo di Solo Square. Baru kali ini sepeda dibolehkan masuk mall (lewat pintu belakang), hehe.. Saya lihat di Solo Square tidak ada parkiran sepeda seperti di Ambarukmo Plaza, Jogja. Satpam dari Solo Square membolehkan kita karena ingin berkunjung ke Bike Colony. Sesampai Bike Colony sepeda kita di taruh tepat di depan display sepeda jualannya Bike Colony seperti Merida, Mongoose, dll. Barang yang kita cari lagi kosong di Bike Colony, kita ngobrol dengan Pak Andry – Kepala Toko Bike Colony Solo dan mencoba sepeda yang dijual Bike Colony. ^^

Gambar

Gambar

Gambar

Gambar

 

Gowes dan Keberuntungan Akhir Tahun 2013 (1)

YEAAAY…!!! 2013 sebentar lagi akan berakhir hapus semua foto mantan dan gebetan, selamat datang tahun 2014. Sudahkan membuat resolusi? Targetan? Alhamdulillah salah satu resolusi saya 2013 yaitu memiliki sepeda touring Surly Troll dan gowes ke beberapa wilayah di Indonesia sudah tercapai. OK! Kembali ke judul “Gowes dan Keberutungan Akhir Tahun 2013″, pasti banyak yang penasaran dengan judul tersebut, hehe.. *dikeplak*

Gowes bulan Desember bisa dibilang paling special dan WOW..!!! Bermula dari teman sepeda Mbahpolenk Gowes (Surabaya) yang menanyakan rute bersepeda dari Jogja menuju Surabaya via jalur selatan (Pacitan dan Trenggalek) di akhir November. Tahun 2010 saya bersama Kompas Gramedia Cyclist mengikuti Jelajah Sepeda Surabaya – Jakarta (1200 km) melewati rute jalur selatan tersebut. Perencanaan rute dan waktu yang ditempuh saya atur untuk kenyamanan bersama saat touring tersebut. Penentuan tanggal dan tempat menginap Mbahpolenk sudah mengatur.

Sabtu malam (7/12) teman-teman dari Surabaya sampai di Jogja: Mbahpolenk, Pak Miko, Tarzan, Dargombez, Agus Ambon dan Tompel dilanjut makan malam dan langsung menuju penginapan. Minggu pagi (8/12) kita berangkat menuju kota Pacitan (120 km dari Jogja) melewati Wonosari, Pracimantoro, pinggiran Wonogiri dan Pacitan. Etape 1: Jogja – Pacitan bisa dibilang rute yang permulaan dan lumayan berat bagi pemula. Bisa disamakan dengan Jogja – Bukit Buah Mangunan 10X lipatnya kalo saya kuat-kuat aja. Sepanjang perjalanan menuju Pacitan hambatan terberat yaitu sebentar-bentar hujan, panas, angin dari segala arah dan jalannya yang relatif berlobang dan sempit.

Tanjakan Menuju Wonosari

Tanjakan Menuju Wonosari

Tanjakan Masuk Pracimantoro

Tanjakan Masuk Pracimantoro

Salam Gowes!

Salam Gowes!

Hari ke-2 Senin (9/12) memulai perjalanan dari Pacitan menuju Trenggalek. Pacitan sejak malam diguyur hujan hingga pagi, saya berangkat masih menggunakan jas hujan sampai jalur baru lintas selatan Pacitan (JLS). Sepanjang perjalanan menuju JLS ditemani bukit kapur yang dibelah untuk jalur baru ini. Jalanan relatif lebar, rolling dan aspal halus. Untuk etape 2 ini kami perbanyak foto-foto narsis di bukit kapur tersebut, pantai pasir putih juga terlihat disepanjang perjalanan.

Untuk touring kali ini ditargetkan waktu 3 hari sampai Surabaya. Alhamdulillah.. Sepanjang perjalanan kita selalu silaturahmi ke saudara dan teman lama yang ada di kota yang kami singgahi. Keluar perbatasan Pacitan menemui teman Mbahpolenk yang dulu pernah bekerja di HERO Supermarket, kita silaturahmi ke rumahnya dan makan siang. Pacitan sampai Trenggalek masih jauh kata temannya Mbahpolenk, perlu melewati beberapa bukit untuk sampai di kotanya. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Trenggalek.

Bukit Kapur Pacitan

Bukit Kapur Pacitan

Diantara Bukit di Pacitan

Diantara Bukit di Pacitan

HOLLA..!!!

HOLLA..!!!

OK! Memasuki hari terakhir dan etape ke-3 yaitu Trenggalek – Surabaya via Pare, Kediri. Begitu ada kabar akan melewati Kediri, teman touring Om Widodo Abdul menelpon untuk mampir ke rumahnya. Bersama komunitasnya Lebak Tumpang Cycling Community (LTCC) Om Widodo menjemput kami di perbatasan masuk kota Kediri, kami beristirahat sebentar di warung kopi pinggir jalan. Rencana kembali berubah, kami diajak ke rumah Pak Widodo yang selanjutnya menuju Gunung Kelud. Yeaaay…!!!

Kami bersama-sama bersepeda ke rumah Om Widodo yang letaknya di kota Kediri, sesampai di rumah Om Widodo sepeda kami diloading masuk pick up menuju Gunung Kelud. Saya menikmati kenyamanan di dalam mobil menuju Gunung Kelud, tanjakannya sangat tajam dengan elevasi 1200 Mdpl – suatu saat saya ingin mencoba bersepeda dari bawah sampai puncak Gunung Kelud. Karena penasaran ingin bersepeda, dari pos terakhir Gunung Kelud sampai pos tiket awal saya gowes mencoba turunan dan beberapa menemui tanjakan yang tajam. Cuaca saat itu memang sedang gerimis, jalan sempit dan licin.

Kami ber-6 melanjutkan perjalanan menuju Surabaya dari perbatasan Kediri – Mojokerto. Karena sudah lelah, malam dan hujan kami sangat berhati-hati saat melewati jalur by pass Kriyan – Mojokerto yang banyak bus malamnya. Kami sepakat untuk menyimpulkan perjalanan ini sukses dan menyenangkan. Silaturahmi dan sodaqoh di tiap tempat yang kami singgahi, salah satu keberuntungan perjalanan ini. Alhamdulillah.. Kami semua sehat sampai rumah dan tidak ada trouble selama perjalanan. :D

Tanjakan di Gunung Kelud

Tanjakan di Gunung Kelud

Perjalanan menuju Kediri

Perjalanan menuju Kediri

Bersama Mbahpolenk di Gunung Kelud

Bersama Mbahpolenk di Gunung Kelud

Selamat Datang di Gunung Kelud

Selamat Datang di Gunung Kelud

Sisi lain Gunung Kelud

Sisi lain Gunung Kelud

Salam Gowes dari Gunung Kulud

Salam Gowes dari Gunung Kulud

 

 

Gowes Uphill: Curug Silawe, Lereng Gunung Sumbing

Yes, curug atau air terjun silawe ini di Magelang. Lebih tepatnya di bawah kaki Gunung Sumbing, saya datangi akhir bulan November bareng goweser dari berbagai komunitas: MTB Federal Jogja (Fedjo), Jogja Folding Bike (JFB), Basen Cycling Club (BCC) dan MTB Federal Magelang. Bermula dari wacana Anto Fedjo dan Mas Prastowo JFB ingin bersepeda ke Curug Silawe. Sebelumnya Mas Prastowo pernah mengunjungi Curug Silawe ini menggunakan motor, penasaran ingin bersepeda dari Jogja. Tidak perlu banyak orang dan perencanaan mengajak saya dan Pak Effendy dari BCC, diputuskan Sabtu (30/11) untuk gowes ke Curug Silawe. Namanya juga komunitas sepeda kalau tidak mengajak komunitas lain tidak asik, akhirnya mengajak tuan rumah dari MTB Federal Magelang yang lebih paham rute cepat menuju lokasi.

Let's Go!

Let’s Go!

Berangkat dari Bundaran UGM tepat pukul 6 pagi, dengan 5 personel: saya, Anto Fedjo, Prastowo JFB, Pak Effendy BCC dan Pak Jajang dari UGM, gowes santai menuju pit stop pertama untuk sarapan dan bertemu Pramudi MTB Federal Magelang di Candi Mendut ternyata butuh waktu 2,5 jam. Kontur jalan dari Jogja menuju Muntilan dan Magelang memang nanjak, nikmati aja dengan suka cita. Pukul 8:30 kami sampai di komplek Candi Mendut dan sarapan soto ayam warung tanpa nama di Pasar Borobudur.

Komplek Candi Mendut

Sarapan soto ayam di Pasar Borobudur

Setelah perut saya kenyang menghabiskan satu mangkok soto ayam dua gorengan tempe dan satu gorengan bayam, kita melanjutkan perjalanan menuju Curug Silawe. Lokasi Curug Silawe ternyata mudah untuk dicari, sampai Candi Borobudur cari arah menuju Salaman – Purworejo ikuti jalan terus sampai di kiri jalan ada papan berwarna coklat bertuliskan Curug Silawe (15 km). Namanya juga gowes uphill, menuju papan tersebut bikin keringetan dan berdarah-darah buat newbie tanjakannya lumayan hits!

Jam menunjukkan pukul 12 siang, tidak ada papan lagi setelah papan 15 km tadi. Kami beristirahat di warung cendol samping SMK di Desa Kajoran. Kami bertanya ke Ibu penjual cendolnya jarak ke Curug Silawe tinggal 5 km lagi sampai. Namanya juga di kampung, ketika ditanya jarak pasti selalu bilang dekat dan ternyata 10 km menuju Curug Silawe dengan jalan yang terus menanjak aaaaak…!!!

Pemandangan indah menuju Curug Silawe

Tanjakan menuju Curug Silawe

Dahsatnya tanjakan menuju Curug Silawe

Tepat pukul 2 siang kami sudah berada di komplek Curug Silawe dengan perasaan senang. Kami sepakat untuk tidak berlama-lama di Curug Silawe ini, karena perjalanan pulang masih jauh dan kemungkinan bisa malam sampai Jogja. Kami berfoto-foto dan menikmati keindahan alam Curug Silawe ini. Kebetulan saat kami sampai Curug Silawe, ada marinir yang sedang foto pre-wedding dan meminjam sepeda saya dan Mas Pratowo untuk properti fotonya, hehe..

Jam menunjukan pukul 3 sore saatnya kami pulang ke Jogja dengan melewati rute yang berbeda yaitu menuju kota Magelang lewat Kaliangkrik. Di kota Magelang kami berfoto di Alun-Alun Kota Magelang sambil menikmati Sop Serenek khas Magelang. Gowes ke Curug Silawe ini banyak pengalaman yang didapat, yaitu kekompakan, manajemen waktu dan kesabaran saat melahap tanjakan. Terima kasih teman-teman komunitas sepeda!

Berfoto bersama di Curug Silawe

Alun-Alun Kota Magelang

Sop Senerek dan Susu Kedelai khas Magelang

 

Polygon Xtrada 4.0 – 27,5 Review

Polygon Indonesia kembali membuat inovasi terbaru setelah berhasil pada lini sepeda 29′er (baca: rims ukuran 29). Nah, 2013 ini Polygon mengeluarkan sepeda baru dengan ukuran rims dan ban yaitu 27,5/650b. Untuk kesempatan ini saya mencoba sepeda Polygon Xtrada 4.0 – 27,5.

Fullbike Polygon Xtrada 4.0 - 27,5"

Fullbike Polygon Xtrada 4.0 – 27,5″

Seatstay Bridge Polygon Xtrada 4.0 - 27,5"

Seatstay Bridge Polygon Xtrada 4.0 – 27,5″

Crankset SR Suntour XCM 44/32/22T

Crankset SR Suntour XCM 44/32/22T

Rims ARAYA 27,5/650b

Decal Polygon Xtrada 4.0 - 27,5

Decal Polygon Xtrada 4.0 – 27,5

Tektro Hydraulic Discbrake

Tektro Hydraulic Discbrake

Bagaimana rasanya?

Saya merasakan hal yang berbeda ketika menaiki Polygon Xtrada 4.0 – 27,5 ini. Terlihat lebih tinggi, menggunakan ban lebih besar dan geometri frame lebih nyaman. Tinggi badan saya: 175 cm dan setiap harinya memakai sepeda dengan ban ukuran 26 X 1.50, berasa terlalu pendek sepeda saya setelah mencoba Polygon Xtrada ini.

Spesifikasi groupset dan wheelset sangat mumpuni untuk pemula yang ingin memiliki sepeda offroad/cross country. Crankset SR Suntour XCM: 44/32/22T sangat nyaman untuk melibas tanjakan. Ketika menghadapi turunan, Shimano Tektro Disc-Brake hydraulic berkarakter empuk ketika disentuh satu jari. Fork SR Suntour XCM 100mm untuk kelasnya berada di tengah setelah XCT dan diatasnya XCR, buat pemula sudah cukup ringan.

Polygon mengelompokkan Xtrada 4.0 ini di kelas MTB hardtail XC. Polygon Xtrada 27,5 ini hadir dengan beberapa tipe dan spesifikasi: 1.0, 2.0, 3.0, 4.0 dan 5.0. Bagi yang sudah profesional dan butuh akselerasi yang lebih bisa mencoba tipe diatasnya, yaitu Cozmic 27,5.

Isu yang beredar di forum pesepeda internasional, sepeda dengan ban 27.5 ini adalah inovasi terbaru yang akan menggantikan sepeda 26. Dari sisi akselerasi, momentum, angle of attack, bobot, improved roll over sepeda 27,5 lebih nyaman diatas satu tingkat dibandingkan 26. Berminat?

Ikut Lomba Sepeda di Endomondo

blog_endmondo3

Tahun-tahun belakangan ini tren bersepeda sedang melonjak, banyak sekali orang yang menggunakan sepeda ke kantor, sekolah dan tempat-tempat umum. Terlebih di setiap bulan banyak event sepeda yang mengejar jarak tempuh sepertitouringxc racerandonneur/audax, dll. Bagi yang suka gowes cycle computer alat wajib untuk mengukur jarak tempuh, irama kayuhan, kalori, tekanan jantung. Untuk sekarang ini aplikasi cycle computer sudah ada di smartphone, akurasinya tidak jauh berbeda dengan cycle computer di sepeda karena menggunakan Global Positioning System (GPS).

Endomondo

Endomondo adalah aplikasi paling populer diantara goweser, aplikasi ini tersedia untuk segala operating system: iOS, Android, BlackBerry, Windows Phone dan SymbianOS. Fitur Endomondo cukup lengkap: perhitungan durasi, jarak tempuh, kalori, kecepatan maximal, kecepatan rata-rata. Bila membeli yang PRO (berbayar) penambahan fitur cuaca, denyut nadi, program dan analisis latihan. Asyiknya Endomondo banyak kompetisi online yang berhadiah menarik dan fasilitas social networking, workout dibagikan di Facebook dan Twitter saling berkomentar, dan menambahkan “likes” di workoutnya.

Untuk bulan Oktober ini sampai akhir tahun 2013 Endomondo mengadakan beberapa lomba sepeda yang berhadiah akun premium selama 1 tahun, seperti: Challenges All The Weels, Most km with bike in 2013, dll. Lomba sepeda online ini terbuka untuk siapa saja.

Selain Endomondo ada beberapa aplikasi lain untuk smartphone, seperti: StravaMapMyRideMapMyTracks. Sebagian besar aplikasi tersebut menawarkan fasilitas yang hampir sama. Silahkan pilih mana yang anda sukai.

Temu Federal Jogja di Balairung UGM

Hari Minggu kemarin komunitas sepeda Federal Jogja (Fedjo) mengadakan kopdar/temu federal yang biasa disebut TF. Horeee..!!! Setelah sekian lama berkomunikasi via inbox Facebook akhirnya bisa bertatap muka, tuker-tukeran kado, dan bersepeda di Balairung Universitas Gadjah Mada.

TF Fedjo kali ini bisa dibilang unik dan seru. Rencana ngumpul jam8:30 di Titik Kumpul, Balairung UGM, ternyata komandan Fedjo Bagas Triaji telat datang ke titik kumpul. 20 sepeda Federal sudah berkumpul di lokasi TF untuk mendengar informasi yang akan disampaikan komandan Fedjo.

GambarGambar

Btw Balairung ini tempatnya asyik banget untuk yang pengen ketenangan. Tiduran di atas rumput sembari memandangi langit, baca buku kesukaan ditemani dengan suara hembusan angin, atau mendengarkan mp3 sambil bermain game. Ajiiiiib! Dan Balairung ini juga bagus untuk dua sejoli yang pengen sekadar merebahkan diri tanpa harus berbicara. *halah*

 Ada 3 informasi pada TF kondisi Fedjo ini: kondisi keuangan komunitas Fedjo yang makin menipis, Fedjo dilibatkan menjadi marshal beberapa event sepeda di Jogja: Komunitas Sego Segawe di acara Sumpah Pemuda (27/10) dan rencana penyerahan sumbangan ke Dompet Dhuafa dari hasil keuntungan Jambore Nasional Federal 1 di Jogja November tahun 2012.

Setelah ngomongin pembahasan yang serius dan membosankan, kita lanjutkan dengan acara hore-hore..!!! Komunitas sepeda tidak jauh yang diomongkan yaitu part sepeda, upgrade sepeda dan adu kekuatan nyepeda laaah… “nyewe.. nyewu.. nyewu..” hahaha… Teman-teman mengeluarkan uang recehan untuk meramaikan balapan sepeda Federal antar komunitas. Akhirnya terkumpul 12.000 rupiah untuk balapan sepeda ini. Lihat kelakuan teman-teman Fedjo di video ini:

GambarGambarGambar

 

 

Hilang MTB XC Louis Garneau Putih. #MalingSepeda

Turut berduka Om.. Semoga diberikan kesabaran dan mendapat ganti sepeda yang lebih bagus. Itu ucapan balasan sms saya ke Danar Wiyoso yang hari ini kehilangan sepedanya. Sebuah MTB Cross Country (XC) Louis Garneau putih dengan part mid-end.

Frame: Louis Garneau | Fork: Rockshox Tora S-Lite | Groupset: Shimano SLX – 9 Speed | Brakeset: Deore Mekanik - ada slebor/fender, kabel rem warna hijau, handgrip odi warna lock-on hijau (difoto masih warna gold). Hilang di sebelah barat Hotel Brongto, Jln. Suryodiningratan. Dicuri dalam kondisi digembok/dirantai.

Sebagai teman sepergowesan saya bantu share informasi kehilangan sepeda ini. Saya juga pernah kehilangan sepeda saat kenaikan kelas 5 Sekolah Dasar. Namanya kehilangan barang kesayangan pasti menyedihkan. Mohon infonya kepada teman-teman yang melihat atau menemukan. Waspadalah… Waspadalah… Happy Gowes..!!!

Gambar

Gowes Jelajah Sepeda Kompas Sabang – Padang (1600 km)

Poster Jelajah Sepeda Sabang - Padang

Poster Jelajah Sepeda Sabang – Padang

Judulnya mungkin agak keren “Gowes Jelajah Sepeda Kompas Sabang – Padang (1600 km)” atau lebay/selow banget. Sepedaan dari Sabang sampai Padang? HAAAH…!!! Untuk kedua kalinya saya mengikuti jelajah sepeda paling hits yang dilaksanakan Kompas tiap tahun dalam rangka merayakan hari ulang tahun Kompas ke-48. 2010 saya pernah meramaikan gowes semacam ini dengan bersepeda dari: Surabaya – Jakarta (1100 km) ulang tahun Kompas ke-45. Senang dan bersyukur dikasih kesempatan bersepeda di sebagian pulau Sumatra: Titik Nol, Sabang sampai Padang, Sumatra Barat.

Kamis (29/9) pagi saya sampai Jakarta dan dijemput Anan Priyanto, teman sepeda dari komunitas Bike To Work Jakarta Barat (B2W Robar) dari Tomang ke Stasiun Senen. Selama di Jakarta saya menginap di rumah Anan sampai selesai jelajah sepeda ini – Terima kasih Anan. Jumat pagi (30/9) saya dan Anan menuju Bandara Soekarno Hatta membawa 2 sepeda dimasukkan ke dalam Taksi.

Bersama 46 peserta lain dan panitia yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu berkumpul di Bandara Soekarno Hatta untuk check-in dan absen ulang peserta yang datang dari daerah. Di bandara saya bertemu dengan teman-teman alumni jelajah sepeda Kompas 2010 yang mengikuti jelajah Kompas 2013 ini: Kang Coe Wae Lah, Gus Sur, Yusri Daeng Yusuf, Marta Mufreni, Bang Arfan dan Yadi JJ. Ramah tamah dan saling berkenalan satu dengan yang lain antar peserta.

Jumat siang sebelum masuk waktu Sholat Jum’at tim rombongan jelajah sepeda sudah tiba di bandar udara Sultan Iskandar Muda International Airport. Menurut waktu setempat waktu sholat dimajukan 60 menit dari waktu biasanya. Dari bandara kami menuju Masjid Baiturrahim. Kami Sholat Jum’at di Masjid Baiturrahim, satu-satunya bangunan yang masih kokoh saat bencana tsunami Aceh 2004.

Masjid Baiturrahim

Masjid Baiturrahim

Setelah Sholat Jum’at rombongan jelajah sepeda kembali masuk bus untuk makan siang disekitaran kota Banda Aceh. Makan siang di Banda Aceh yang istimewa, kenapa? Karena makan siang sea food sambil menikmati deburan ombak pantai Banda Aceh yang bersih. Sholat Jum’at dan makan siang sudah, rombongan jelajah sepeda menuju Pulau We, Sabang dari Pelabuhan Feri Ulee Lheue. Perjalanan menggunakan kapal cepat KM. Pulo Rondo selama 45 menit dengan biaya: 85.000 (VIP B) – 100.000 (VIP A).

Sabtu (31/8) etape 1 jelajah sepeda Sabang – Padang dimulai dengan rute: Titik Nol, Sabang – Banda Aceh (56 km), rute yang relatif singkat diibaratkan rute funbike sepanjang perjalanan menikmati pesona wilayah Sabang yang masih hijau dan dikelilingi pantai. Turunan dan tanjakan cukup tajam memasuki kota Sabang sampai pelabuhan penyebrangan. Panas, angin laut, tebing yang curam dan pantai yang bersih merupakan pesona wilayah Sabang. Sekitar pukul 17:00 peserta menyelesaikan etape 1 ini dan hujan deras mengguyur kota Banda Aceh.

Pemandangan di Sabang

Pemandangan di Sabang

Minggu (1/9) melanjutkan etape 2: Banda Aceh – Calang (141.76 km). Oh yaa.. Gowes jelajah sepeda Sabang – Padang ini dibagi 13 etape melewati sisi pantai barat. Pantai barat merupakan wilayah yang terkena tsunami paling besar di Nanggroe Aceh Darussalam. Menurut saya, etape 2 ini bisa dikatakan event pemanasan menikmati tanjakan dan turunan. Baru 200 m lepas dari Banda Aceh sudah bertemu tebing yang lumayan tinggi, namanya juga permulaan dan setiap peserta belum menyamakan ritme gowesan. Beberapa peserta ada yang masih tertinggal di belakang. Jalan rolling dan perbukitan hijau tetap menemani perjalanan ini. Masuk kota Calang sekitar pukul 19:00 dan dilanjutkan makan malam.

Masuk ke etape 3: Calang – Meulaboh (91.55 km), etape 4: Meulaboh – Blangpidie (124.89 km), etape 5: Blangpidie – Tapaktuan (80.16 km) bagi saya 3 etape dengan rute yang membosankan, kenapa? Etape yang jalurnya datar, angin kencang dan pemandangan pantai di sepanjang perjalanan. Pada etape tersebut banyak sapi berkeliaran di jalan, untuk mengurangi rasa bosan saya iseng memegang dan mendekati sapi. tersebut. :)

Sapi di sepanjang Calang - Meulaboh

Sapi di sepanjang Calang – Meulaboh

Masuk etape 6: Tapaktuan – Sabulussalam (155.89 km) dan masuk Sumatra Utara yaitu etape 7: Sabulussalam – Samosir (95.00 km) rute yang paling keren, mantab dan hits. Disepanjang perjalanan tersebut selalu menemui tanjakan lagi.. tanjakan lagi.. tanjakan lagi.. 2 etape tersebut saya selalu berdoa “semoga di depan ada turunan”. Ketika tanjakan saya selalu di depan bersama marshall Basuki ak.a Timbul, masuk wilayah Muara – Sumatra Utara yang kebetulan panas sekali dan menanjak ingin sekali berhenti mencari titik check point. “Baaas… Check point dimana? Depan masih ada tanjakan lagi gak? Panas banget nih perjalanan etape ini”.

Untuk etape 7: Sabulussalam – Samosir seharusnya 180 km, karena jalur dan cuacanya tidak bersahabat semua peserta dievakuasi di Sidikalang sampai Danau Toba, Samosir. Jeda sehari di Danau Toba untuk bersantai dan mengumpulkan tenaga kembali melanjutkan etape berikutnya. Mencuci baju – sepeda, menaiki speed boat, berenang dan berfoto kegiatan seharian di Danau Toba. Danau Toba memang sangat indah, kebetulan 1 hari setelah kita keluar Danau Toba ada Festival Danau Toba 2013. Saya tidak lupa berfoto di Hotel Toledo, Samosir. :)

Berfoto di Hotel Toledo, Samosir

Berfoto di Hotel Toledo, Samosir

Memasuki Sumatra Barat kembali menikmati jalan mulus, pemandangan indah tepian Danau Singkarak dan perbukitan hijau sampai Bukittinggi. Jalan di Sumatra Barat lebih mulus dibandingkan Sumatra Utara, tetapi pantai barat Aceh jauh lebih mulus karena kualitas jalan bikinan konsorsium USAID. Di etape Lubuk Sikaping – Bukittinggi saya sempat mengalami kecelakaan tubrukan antar pesepeda dengan Om Royke (perwakilan Polda Metro Jaya), alhasil setengah perjalanan sampai makan siang saya masuk ke ambulance. :p

Etape terberat dan penutup jelajah sepeda Sabang – Padang ini yaitu: Bukittinggi – Padang. Bukittinggi – Padang kata teman jelajah yang tinggal di Padang: Oki Sapto Wiharjo, Kukuh Surya Sigit Santoso, Fathin Afif jalur normal biasa ditempuh hanya: 70 km, tetapi panitia mengarahkan jalurnya melewati kota Solok menjadi 100 km lebih jauh dan melewati tanjakan super sepanjang 20km!

Dengan semangat dan doa wajib sebelum melakukan perjalanan ini dari Donal Wisbar: Semoga diberikan kekuatan untuk tanjakan – diberikan kehati-hatian saat turunan – diberikan kecepatan untuk jalan rata. Alhamdulillah 46 peserta jelajah sepeda Sabang – Padang bisa menyelesaikan perjalanan ini. Perjalanan Sabang – Padang ini bagi saya adalah pencapaian hidup yang patut disyukuri. Terima kasih Allah SWT dan teman-teman yang sudah mendukung saya selama perjalanan ini. Happy gowes..!!!

Jam Gadang, Bukittingi

Jam Gadang, Bukittingi

Bersama Aristi di Finish JSSP

Bersama Aristi di Finish JSSP

Sorak kegembiraan finish JSSP

Sorak kegembiraan finish JSSP

Foto bersama di depan Gubernur Sumbar

Foto bersama di depan Gubernur Sumbar