Rack Alumunium and Eiger Pannier Touring for Everyone

Rack Alumunium and Pannier Eiger Touring

Rack Alumunium and Pannier Eiger Touring

Tertarik touring/perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda? Belum punya rak dan tas touringnya. Bagus Gowes memiliki 1 buah rak belakang allumunium dan 1 tas touring/pannier Eiger lengkap dengan covernya, silahkan dipakai. Beberapa orang memiliki keinginan untuk bersepeda jarak jauh, mengeksplore keindahan Indonesia dan menikmati alam bebas. Saya melihat beberapa teman sepeda yang masih terkendala waktu, biaya dan perlengkapannya. Kebetulan saya punya perlengkapan minimalis sepeda touring yang pernah saya pakai, silahkan dipinjam.

Untuk spesifikasi rak touring allumunium bisa buat segala sepeda yang memiliki roda 26 inch, 27 inch, 700c. Kekuatan rak touring allumunium max. 25 kilogram, bisa lebih sedikit. Eiger pannier touring yang saya pinjami termasuk keluaran agak lama, saya dikasih dari Eiger Adventure saat bersepeda kampanye jalur hijau sepeda dari Denpasar – Bandung yang diadakan oleh Greeners. Dari tahun 2011 sampai 2013 saya memakai pannier Eiger tersebut untuk bersepeda jarak jauh.

Pannier Eiger Touring

Pannier Eiger Touring

Bersepeda itu menyenangkan. Bagaimanapun juga,  saya akan terus berusaha mengajak lebih banyak orang bersepeda – kita-kita yang awam, dan menginginkan pengalaman bersepeda yang nyaman. Salam gowes! :D

Brooks Cambium, Tidak Perlu Break In Rasakan Kenyamanan

Cambium Denim. New collaboration with Levi's Commuter | pict. Brooks England

Cambium Denim. New collaboration with Levi’s Commuter | pict. Brooks England

Coba deh tanyakan ke teman-teman gowes yang memakai saddle racing seperti Fizik, San Marco, WTB, dll., apakah nyaman menggunakan saddle seperti itu buat harian/commuting? Kebetulan salah satu sepeda saya memakai saddle racing Fizik, sangat tidak nyaman untuk bike to work dan wajib ai’n memakai celana padding. Tapi Brooks mengubah kenyamanan saddle racing bisa dipakai untuk harian yaitu Brooks Cambium.

Pertengahan 2013 Brooks England melaunching dengan membagikan 100 saddle Brooks Cambium. 100 orang yang beruntung mendapatkan Brooks Cambium dengan cara menuliskan pengalamannya memakai saddle Brooks. Saddle Brooks sudah diproduksi dari tahun 1866. Brooks = leather, inovasi 2013 untuk Brooks menggunakan “vulcanized natural rubber”.

Rasa penasaran saya ingin mencoba saddle Brooks Cambium ini adalah satu-satunya saddle racing yang berbahan baku karet. Tampilan yang modern dan warna yang unik sangat cocok dipasangkan di sepeda sekarang. Untuk varian lain ada Brooks B17, Flyer, Team dari segi tampilan terlihat classic, bagi penggemar sepeda klasik sangat cocok.

Bulan Februari 2014 saya mendapatkan saddle Brooks Cambium. Dari kemasan terlihat tidak terlalu special, hanya menggunakan kardus tipis yang bisa dibuka dari 4 sisi. Dibalik dari sisi kanan dan kiri terdapat spesifikasinya: Vulcanized natural rubber, organic cotton canvas, die cast alumunium structure, tubular stainless steel rails. Saya suka di sisi kanannya: Immediately comfortable, waterproof with numac, maintenance free, built for life and ready to ride. Tidak perlu menunggu break in untuk merasakan kenyamanan.

Mencoba special saddle baiknya di event touring yang special juga. Bulan Mei 2014 bersama teman-teman Federal Jogja gowes bikecamping ke Cemoro Sewu, saya sengaja memakai Brooks Cambium ini. Perjalanan Jogja – Solo (60 km) masih berasa nyaman tanpa menggunakan celana padding. Kebiasaan touring menggunakan padding dan tempo gowes saya memang cepat, masuk Karanganyar terasa panas dan tidak nyaman. Berfikir positifnya saya waktu itu, namanya juga saddle baru belum cocok dengan pantat.

Penasaran dengan kata-kata di dusnya “immediately comfortable”. Saya coba di sepeda commuting atur maju dan mundurnya rail saddle. Viola! Sangat nyaman untuk dipakai keseharian. Saddle Brooks Cambium ini terpasang di sepeda klasik Master Hermes. Saya suka dengan Cambium ini. Itu halus, nyaman dan membuat sepeda tampak indah. :D

Memulai Kebiasaan Positif dengan Cadence

Finish Jawa Pos Bromo 100 KM

Finish Jawa Pos Bromo 100 KM

Menonton foto dan video promosi dari kejuaraan Le Tour De France 2014 yang sebentar lagi akan dimulai. Saya jadi kepikiran untuk membahas kebiasaan positif yang selalu saya lakukan yaitu latihan cadence. Pertama kali mendengar kata cadence yaitu ketika saya mengeluh kepada road captain Marta Mufreni saat Jelajah Sepeda Kompas 2011: Surabaya – Jakarta (784 km) melahap tanjakan tanpa menuntun. Dia menyarankan saya berlatih cadence, yaitu mengayuh sepeda secara cepat pada gear kecil (ringan dikayuh) selama menggunakan sepeda.

Oke, mari kita ngomongin Cadence. Cadence itu apa ya? Cadence ideal itu berapa? Kalo Cadence yang ideal buat Nanjak berapa? Cadence itu bahasa orang sepeda buat kecepatan putaran kaki. Kalo pake gear ringan, untuk jalan 30kph putaran kaki kita relatif tinggi (misalnya 100 RPM – revolutions per minute), sedangkan 30kph dengan gear berat putaran kaki kita relatif rendah (misalnya 60 RPM). Angka RPM itu lah namanya yg dibilang Cadence. Misalnya kalo orang nanya “Cadencemu berapa rata2?”, jawabnya (misalnya) “90RPM!

Menurut studi, Lance Armstrong, juara Tour de France 6 kali menerapkan cadence tinggi di atas 100 rpm. Apa hubungannya kita dengan Lance Armstrong? Apa keuntungan dari cadence tinggi?

Jadi begini , setiap kayuhan pedal otot kita akan berkontraksi dan berelaksasi. Di setiap kontraksi dan relaksasi otot membutuhkan energi. Tidak hanya itu, setiap kontraksi otot akan menghasil asam laktat yang jumlahnya tergantung seberapa besar kekuatan kontraksi tersebut. Dengan melakukan cadence yang berpengaruh pada kecepatan dan kekuatan kontraksi otot, jumlah asam laktat di dalam darah dan jumlah energi yang digunakan akan terpengaruh juga. Misalnya, kita sedang bersepeda menanjak dengan gigi besar (berat dikayuh). Kita mungkin hanya dapat cadence sekitar 70 rpm dan menghasilkan kecepatan sebesar 20km/jam karena kayuhannya berat. Hal ini berprinsip sama dengan gear di mobil: kita akan menggunakan gigi 1 atau 2 pada saat menanjak untuk meningkatkan kecepatan engine.

Kalo saya pribadi, misalnya saya main solo, lalu main RPM 100+, begitu cardio saya udah ga kuat, saya pasti drop, dan dropnya itu bakalan drastis sekali dan speed bakalan drop abis2an. Sedangkan kalo main big gear (~70-80RPM) saya bisa kuat lama sekali. Memang akhir2nya cardionya juga bakalan cape, tapi dropnya lebih progressive, ngga drastis, jadi kita bisa atur tenaga untuk recovery walaupun solo riding.

Buat teman-teman yang hobi gowes, coba berlatih untuk mendapatkan cadence sekitar 80-90 rpm. Buat awalan, coba pasang speedometer yang ada fasilitas cadencenya. Ketika bike to work dicoba 1-2 jam, yang penting napas kuat dan senyamannya saja. Keuntungannya, kecepatanya tetap sama. Kita menggunakan tenaga yang lebih sedikit. Salam gowes! :D

Tips Menaklukkan Tanjakan di Bukit/Gunung

Tanjakan di Bukit Patuk

Tanjakan di Bukit Patuk, Gn. Kidul, Yogyakarta (image pict. Mbahkung)

Postingan ini terinspirasi dari beberapa pembicaraan di social media Facebook dan Twitter bersama Mbahpolenk Gowes dan Mbahkung Endy yang mengenal saya raja tanjakan. Bagaimana cara kuat menaklukkan tanjakan di bukit atau gunung.

Banyak goweser yang anti dan tidak suka terhadap tanjakan/jalan menanjak, bikin pusing, lemas dan menghabiskan tenaga. Bisa dibilang tanjakan itu neraka dan turunan itu bonus atau surga, hehe.. Setiap kali kita bersepeda menemui jalanan turun yang panjang, pasti akan menemui jalanan menanjak.

Berdasarkan pengalaman saya, maka saya mencoba menulis tips menaklukka tanjakan di bukit/gunung:

1. Posisi Tubuh

a. Tangan. Menjaga tangan anda di atas handlebar dan memegang handlebar selebar mungkin akan memberikan pernafasan yang lebih baik dan ingat untuk menekuk siku dan me-rileks-kan tubuh bagian atas anda.

b. Tubuh bagian atas. Jaga tubuh bagian atas anda untuk tidak banyak bergerak. Sepeda harus stabil dibawah tubuh. Gerakan terlalu banyak akan membuang-buang energi. Dan bahu anda harus “terbuka”. Jika tidak, akan menekan dada anda dan mengakibatkan pernafasan yang tidak efisien.

c. Postur tubuh. Memposisikan tubuh dalam posisi duduk akan menguntungkan dalam gowes. Satu-satunya moment untuk bergeser maju dari sadel adalah ketika harus sprint dan melalui tanjakan pendek.

2. Mengayuh. Kayuhan yang baik adalah kunci untuk menanjak bukit/gunung dengan cepat dan mudah mudah. Gunakan perbandingan gigi yang cukup untuk setiap permukaan. Kemudian, jaga irama gowes anda agar stabil dan halus. Selalu perhatikan teknik mengayuh.

3. Pernafasan. Jika anda mulai bernapas tidak teratur, coba mengambil napas dalam-dalam dan tahan selama beberapa kayuhan. Lalu sinkronkan pernapasan anda dengan kayuhan pedal. Mulailah dengan mengambil napas setiap kali satu kaki mencapai bagian bawah. Oksigen akan lebih banyak ke peredaran darah dengan pernafasan yang terkendali daripada yang tidak teratur dan terengah-engah atau megap-megap. Pindah tangan anda ke tanduk memungkinkan anda untuk membuka dada dan bernapas lebih mudah.

4. Berdiri dan bersepeda. Secara umum anda akan menggowes lebih efisien dan lebih cepat saat duduk di sadel. Namun, berdiri di pedal memberi anda kontrol yang lebih baik. Ketika berdiri, stabilkan sepeda dengan lembut dari sisi ke sisi dalam irama. Juga, seimbangkan berat badan anda sedikit di depan pusat pedal dan rileks-kan tubuh bagian atas anda. Goweslah dengan halus dan anggun.

5. Irama. Saat menanjak, irama anda mungkin akan terganggu. Namun, beberapa orang membiarkan irama menurun, untuk berputar pada putaran ideal anda. Rata-rata 70 rpm dianggap baik.

6. Pilih Jalur yg terbaik. Seorang pengendara sepeda pemula cenderung untuk memilih jalur untuk menghindari halangan. Tampaknya logis, tapi ini tidak selalu rute terbaik. Ketika anda menanjak, mata anda harus terus-menerus harus melihat trek. Pindahkan pandangan anda dari depan ban anda kek sekitar 4,5 meter di depann, lalu kembali.

7. Berlatih secara teratur. Latihan teknik menanjak bukit/gunung sesering mungkin. Selalu fokus pada ritme.

Menaklukkan tanjakan mengajariku tentang perjuangan dan arti sebuah proses. Demikian tips untuk menaklukkan tanjakan di gunung/bukit versi Bagus Gowes. Bagaimana versimu?

Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km: Surganya Penikmat Tanjakan

Gambar

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti event gowes tahunan yang diadakan oleh Jawa Pos yaitu Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km. Niatan awal tertarik mendaftar event ini karena penasaran ingin mencoba tanjakan Bromo dengan rute yang berbeda yaitu Pasrepan, Pasuruan – Tosari – Wonokitri. Kedua, banyak teman sepeda yang bilang kalau ikut acara sepeda Jawa Pos sangatlah menyenangkan karena ditanggung semua fasilitas dan keamanan bersepeda selama event langsung dari Polda Jawa Timur. Flashback aja, bulan Maret 2013 saya juga pernah touring ke Bromo lewat rute: Probolinggo – Tongas.

Sejak informasi pendaftaran online Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km dibuka, paginya saya langsung menghubungi teman touring di Surabaya Mbahpolenk Gowes untuk dibantu pendaftaran offlinenya. Mbahpolenk sangat dekat dengan panitia Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km ini, jadi persyaratan seperti mengisi formulir pendaftaran, fotocopy KTP dan uang pendaftaran saya titipkan beliau. Pengurusan pendaftaran tidak terlalu lama, selang 1 hari saya mendapatkan kiriman email dari panitia menjadi peserta Jawa Pos Cycling Bromo 100 km.

Bersama Mbahpolenk sebelum gowes Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km

Surly Cross Check – Mbahpolenk Gowes

Senangnya bisa ikut Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km. Pukul 06:00 saya sudah di lapangan Polda Jawa Timur sebagai tempat start event ini. Menurut rundown acara panitia yang dikirimkan melalui email mulai start pukul 07:00. 1 jam menunggu peserta yang datang baiknya melakukan hal yang asyik seperti berkenalan dengan peserta lain dari segala penjuru wilayah dan berfoto-foto.

Untuk gowes kali ini saya memakai sepeda balap besi Surly Cross Check. Kenapa memakai sepeda balap (roadbike) tidak pakai mountain bike? Karena saya ingin menikmati setiap kayuhan dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam, ketika memakai mountain bike kemungkinan akan tertinggal jauh.

Peserta lokal dan international Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2014

Etape 1: Surabaya – Pasuruan (63 km)

Tepat pukul 07:00 WIB panitia sudah memberikan tanda ke semua peserta untuk segera memulai perjalanan. Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km ini dibagi 3 etape sekaligus tempat peristirahatan yaitu Surabaya – Pasuruan (kota), Pasuruan (kota) – Pasarpan dan Pasarpan – Wonokitri. Di etape 1: Surabaya – Pasuruan (63 km), peserta dimanjakan dengan rute yang flat dan jalan bergelombang di wilayah Sidoarjo. Bisa diibaratkan rute etape 1 yaitu pemanasan kaki dan otot. Peserta tidak boleh menyalip road captain dan dibatasi dengan kecepatan maximal 30 km/jam.

Dibatasi dengan kecepatan maximal 30 km/jam ada positifnya, kita bisa menikmati pemandangan kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan beberapa wilayah Jawa Timur. Dari awal Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km bukan adu kekuatan fisik (kompetisi) untuk mendapatkan nomor podium. Untuk keamanan selama gowes dijaga ketat di setiap titik persimpangan oleh pasukan dari Polda Jawa Timur, jadi tidak perlu khawatir ada motor/mobil warga yang masuk di jalan utama.

Tepat pukul 10:00 WIB peserta sampai di check point 1 (kota Pasuruan). Di check point panitia sudah disiapkan segala makanan ringan, minuman dan buah-buahan segar. Panitia memberikan waktu 30 menit waktu istirahat yang dihitung dari waktu kedatangan peserta awal yang datang di check point 1. Saya makan-makanan yang mudah dicerna tubuh, seperti buah-buahan segar dan minuman ber-ion agak tidak dehidrasi.

30 menit waktu berjalan panitia sudah memberikan informasi untuk segera berkumpul di garis start. Untuk etape 2: Kota Pasuruan – Pasarpan panitia sudah mengingatkan untuk berhati-hati dan jangan emosi untuk adu kekuatan. Di etape 2 ini adalah pemanasan tanjakan di kaki gunung Bromo. Jalan yang berliku-liku sekaligus menanjak akan didapat di etape ini. Road captain sudah membebaskan kecepatan dari tiap-tiap peserta.

Pemandangan pohon dan jalan di Bromo

Pemandangan pepohonan, jalan yang menyempit dan berkelok-kelok adalah khas dari Bromo. Sepanjang 20 km sampai check point 2 Pasarpan, banyak warga yang memberikan support semangat untuk terus mengayuh. Anak-anak kecil berlarian mengejar peserta, mungkin jarang sekali pesepeda melewati tempat ini. Masuk Pasarpan jalanan mulus hampir tidak ada lobang, karena jalur yang dilewati ini bukan jalan utama menuju Bromo. Wisatawan banyak melewati Tongas – Sukapura.

Akhirnya sampai di etape 2 Pasarpan. Mulai banyak pesepeda yang kakinya kram dan kehabisan air saat perjalanan, kebetulan saat itu sedang panas-panasnya. Saya melihat di check point 2 teman saya Masudi Jauhari dari Riau berteriak kesakitan karena kram otot. Kemungkinan karena kurang pemanasan, kurang minum selama gowes dan terlalu emosi memainkan power kaki saat nanjak. Solusinya perbanyak minum walaupun kerongkongan belum berasa haus dan mengatur ritme kayuhan secara konstan.

Etape terakhir dari Pasarpan – Wonokitri (30 km). 30 km sampai Wonokitri adalah rute dahsyat buat penikmat tanjakan. Surly Cross Check saya memakai groupset Tiagra (2 x 9 speed) masih kurang melahap tanjakan ini. Karena kehabisan gigi untuk perpindahannya saya sering berhenti, menarik nafas dan berdiri untuk memainkan power saat melewati tanjakan. Udara juga sudah mulai dingin, air minum sudah hampir habis, kabut mulai turun. Saya memutar musik di handphone agar tidak bosan menyelesaikan etape terahir ini.

Dalam hati saya kepikiran, sepeda besi dan drivetrain cuma 9 speed bukan alasan untuk berhenti dan meminta pertolongan panitia untuk mengevakuasi saya. Sebagai penikmat tanjakan, melewati setiap tanjakan yang tajam adalah kegembiraan tersendiri. Ada peserta lain juga yang masih jauh dibelakang, saya berpikiran masih mampu untuk menaklukkan tanjakan Bromo ini. Pukul 13:30 saya finish di Wonokitri, Bromo. Saya terlambat 15 menit dari aktu yang diberikan panitia 13:15. Bagi saya waktu keterlambatan 15 menit bukan masalah, karena berhasil menaklukkan tanjakan Bromo via Pasarpan – Wonokitri itu yang utama. Salam gowes!

Finish bersama Jend. Royke – teman Jelajah Sepeda Kompas Sabang – Padang

Finish Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km 2014