image: nasirullah sitam
Event Gowes

Gowes Bareng dengan Ente Jogja ke Goa Kebon Krembangan

Hari minggu terakhir di bulan Januari ini saya bersepeda bersama komunitas Ente Jogja ke Goa Kebon Krembangan. Kalau teman-teman Ente Jogja menyebut acaranya “Gorengan Ente Jogja: Gowes Bareng Dengan Ente Jogja”. Oiya, Ente Jogja adalah komunitas sepeda yang hobi mencari tanjakan di wilayah Yogyakarta. Keliatan dari logonya icon goweser yang sedang menaiki tanjakan. :D

Biasanya saya suka bersepeda jarak jauh hanya mencari kuliner dan menikmati pemandangan gunung atau pantai, namun ada kalanya bergabung dengan komunitas Jogja biar akrab dan kenal sesama goweser. Tujuan lagi mengikuti gorengan Ente Jogja ini penasaran dengan lokasi Goa Kebon Krembangan yang katanya jalur flat, tidak begitu jauh.

12633603_10205534603313005_3924400845627717773_o

image: nasirullah sitam

Goa Kebon Krembangan terletak di wilayah Panjatan, Kulon Progo. Minggu (31/1) pukul 06:00 kami sepakat berkumpul di nol kilometer depan Kantor Pos Besar Jogja, kurang lebih 20 orang akhirnya berkumpul dari berbagai komunitas sepeda Jogja, Sleman dan Klaten.

Saya datang tepat waktu pukul 06:00 sudah sampai Kantor Pos Besar Jogja, kebetulan sudah ada Om Iswantoro Ente Jogja yang datang duluan. Kami ngobrol mengenai rute dan teman-teman yang akan mengikuti acara ini. Jalur yang kami lewati merupakan jalur utama kendaraan umum.

Untuk memudahkan teman-teman sepeda menuju kesana, dari Kota Jogja bersepeda ke arah Wates melewati jalur utama tidak perlu bingung karena sudah ada papan penunjuknya. Sebelum masuk Wates nanti di selatan jalan ada tugu yang berbentuk pencil/pensil berwarna putih, silahkan berbelok kiri.

Setelah belok kiri silahkan mengikuti jalan ada papan penunjuk bertulisan Goa Kebon, itu jalan utama menuju lokasi. Goa Kebon Krembangan lokasinya ada di tengah desa/kampung Krembangan, jangan disamakan dengan goa lain yang besar dan kita masuk dalam. Goa Kebon Krembangan bentuknya kecil dari diatasnya ada air yang turun.

Sudah ada rencana gowes kemana minggu ini?

IMG_0021

image: bagus gowes

IMG_0007

image: bagus gowes

12628612_10205534602832993_190535949300459919_o

image: nashirullah sitam

Standar
image: noell vb
Event Gowes

Kopdar Jogja Gowes ke Wisata Kayangan Kulon Progo

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti acara kopi darat (kopdar) komunitas sepeda Jogja Gowes ke wisata Kayangan Kulon Progo. Banyak yang menyebut wisata Kayangan Kulon Progo ini dengan Mbelik Khayangan dan Sungai Kayangan. Lokasinya tidak jauh dari kota Jogja, hanya 25 kilometer dan jalurnya aspal menuju lokasinya 1 km jalan rusak, hehe..

Teman-teman komunitas Jogja Gowes hari Minggu (3/1) berkumpul pukul 05:30 dan berangkat 06:00 di perempatan ringroad demak ijo Sleman Yogyakarta. Kebetulan saya datang lebih awal, jadi bisa melihat berbagai komunitas sepeda yang mewakili jenis sepeda, tempat tinggal atau kampung dan kantor. Bertemu dengan orang yang satu hobi sangat menyenangkan.

image: noell vb

image: noell vb

Buat goweser yang ingin menuju Wisata Kayangan Kulon Progo tempatnya agak masuk-masuk tapi mudah untuk ditemukan. Paling mudah dari perempatan ringroad Demak Ijo menuju Pasar Godean, setelah sampai Pasar Godean bisa kebarat terus sampai ketemu perempatan Nanggulan. Banyak orang yang tahu perempatan Nanggulan, Kulon Progo, dari situ juga bisa ke Candi Borobudur atau kota Purworejo.

Setelah sampai perempatan Nanggulan bisa ke barat lagi sampai bertemu patung sapi di selatan jalan. Sepanjang jalan dari perempatan Nanggulan ke barat, dimanjakan pemandangan sawah yang hijau dan menguning bisa disempatkan untuk berfoto-foto. Setelah ketemu patung sapi, bertemu tanjakan terakhir lanjut belok kanan sudah masuk desa menuju Wisata Kayangan Kulon Progo.

Wisata kayangan tempatnya masuk ke dalam desa, tapi kita bebas bemain air yang selalu mengalir dengan deras. Buat yang ingin mandi, air di wisata kayangan cukup dingin. Pemandangan lain di Wisata Kayangan ada tebing seperti dibelah itu menjadi khasnya tempat ini. Batu-batu kali besar yang tidak beraturan itu juga menjadi ikon wisata kali yang masih alami.

image: noell vb

image: noell vb

image: noell vb

image: noell vb

image: noell vb

image: noell vb

Standar
10255643_10207618971168829_3560285579962217328_o
Event Gowes

Gowes Strava Rapha Festive 500 2015

Selamat datang 2016 dan selamat buat goweser yang sudah menyelesaikan resolusi gowesnya di tahun 2015: Tour de Pangandaran, Audax Solo, Audax Randonneurs Indonesia, Jambore Sepeda Lipat dan lain-lain. Ada juga goweser yang memilih resolusi gowesnya dengan upgrade atau ganti sepeda baru, hehe..

Kalau saya mengalir aja resolusi gowesnya, tidak ada list event gowes yang wajib diikuti. Kalau ada waktu, kebetulan bisa ikutan Tour de Pangandaran 2015, Jambore Sepeda Lipat 2015, Ulang tahun komunitas Sepeda Lipat Bandung. Tidak ada rencana, penasaran dengan rute gowes yang disusun oleh panitia.

Tahun 2015 bisa dibilang tahun campur-campur olahraga, bulan Agustus saya ikutan Bali Marathon 2015 – 42 km itu juga diluar kesadaran, hahaha.. Bulan Desember 2013 beli sepatu lari yang agak serius buat long run lalu ikutan event Eiger Night Run tiap selasa malam dan Playon Jogja tiap kamis malam. Penasaran dengan lari jarak jauh, coba ikutan daftar massal Bali Marathon dengan teman-teman Playon Jogja. Alhamdulillah finish. :D

Mulai dari Juni – Juli sudah malas berolahraga (gowes dan lari), karena puasa fokus dengan ibadah. Tidak ada keringat selama 2 bulan itu. Masih ragu juga berangkat ke Bali, apakah kuat berlari sejauh 42 km? Karena ini marathon pertama dan saya janjian dengan teman Playon Jogja menjadi pacer, saya ikut ritme berlarinya dia.

Agustus telah selesai, meninggalkan cerita marathon di Bali. Masuk September, Oktober dan November melihat timeline Strava banyak bar ijo-ijonya (lari) dibandingkan orange (gowes). Kalau liat temen-temen gowes jadi minder, betisnya terbiasa untuk berlari daripada bersepeda. Suka bangun siang, karena begadang posting blog GOOWES.co.

Sepeda Lipat Dahon

Gowes Menuju Purworejo

Semua faktor itu, saya jarang bersilaturahmi dengan teman-teman sepeda. Banyak yang menganggap saya sudah menghilang dari dunia pergowesan, cuma aktif di online. Tapi ya bagaimana lagi, 2015 saya pengen fokus di dunia blog sampai bingung membagi waktu. Maaf yah teman-teman..

Masuk bulan Desember, saya sadar kalau aktifitas gowes menurun drastis. Di akhir bulan Desember, Strava selalu mengadakan kompetisi Strava Rapha Festive 500. Itu kompetisi bersepeda dari 25 Desember – 31 Desember dengan jarak tempuh 500 kilometer. Tahun 2014, alhamdulillah saya bisa menamatkan dengan 3 hari bersepeda.

Tahun 2015 harus bisa menyelesaikan kompetisi Festive 500, untuk membayar kekurangan olahraga di bulan-bulan sebelumnya. Ada empat kali bersepeda menamatkan Festive 500 2015, itung-itung bisa touring keluar kota sambil menikmati kuliner dan suasan kota lain. Jogja macet banget, hahaha..

Hari pertama Festive 500 saya gowes keliling kota-kota terdekat: Jogja – Purworejo – Salaman – Magelang – Jogja, lumayan 156 km pulang sore. Saya niatkan bersepeda sambil ibadah, jadi setiap kota saya sempatkan untuk sholat dhuha dan dhuhur. Tidak terasa capek, bisa istirahat di masjid.

Hari kedua, saya menonton event sepeda MTB yaitu Turgo Bikefest 2015. Lokasi eventnya di sebelah barat kaki Gunung Merapi, kalau gowes kesana pasti nanjak dan pulangnya gak usah rem, hehe.. Gowes di hari itu 66 km berangkat pagi dan pulang siang. Nanjaknya manteb. :p

Sepeda Lipat Dahon

Gowes Kota Salatiga

Masuk hari selajutnya, ada rasa malas melanjutkan Festive 500. Pertama, ada teman sepeda yang menginap di rumah jadi gak enak ditinggal gowes. Kedua, waktunya udah mepet tinggal 2 hari masuk 31 Desember 2015. Tanpa pikir panjang, bangun pagi pukul 04:00 gowes santai ke arah Klaten menuju Salatiga. Berharap dihari itu bisa 250 km, ternyata: Jogja – Klaten – Boyolali – Salatiga – Magelang – Jogja tembus 200 km.

Gowes 200 km-nya itu hari rabu, senin saya berlari dari Kentungan sampai Tlogo Putri, Kaliurang sejauh 21 km bersama teman-teman komunitas lari dengan event Kaliurang Attack. Gempor ini kaki.. Mau gowes recoveri belum sempet-sempet.

Puncak malas di hari terakhir Kamis, 31 Desember 2015. Untuk menjadi finisher Festive 500 masih kurang 73 kilometer. Tapi gowes kemana yah? Saya putuskan untuk gowes kulineran nasi tumpang Klaten, dipasin 37 kilometer pasti pulangnya dapet 74 km. Alhamdulillah dengan niat yang mantab, saya menjadi finisher Festive 500 2015.

Banyak orang yang menganggap itu gila dan ngapain sepedaan sampai sejauh itu, dapetnya apa coba? Kalau saya pribadi itu pengalaman, bisa melihat situasi di luar sana dan tentunya saya lebih mendekatkan dengan Allah SWT berhenti untuk sholat di masjid kota-kota yang dilewati sepanjang perjalanan.

Tahun 2016 mau kemana? Resolusi saya tidak muluk-muluk, mau merutinkan bersepeda, bangun pagi dan bersilaturahmi dengan komunitas sepeda lain di event-event gowes seru. Apa resolusi gowesmu di tahun 2016?

Gowes sampai Purworejo

Gowes sampai Purworejo

Standar
image: brilio
Umum

Selain Menyehatkan, Bersepeda Juga Bisa Bikin Kamu Ketemu Jodoh

Brilio.net – Istilah bike to work tentunya kamu sudah sering dengar. Atau selain bike to work, kamu tentu pernah dengar juga istilah bike to campus. Nah, tren bike to work kini tengah menjamur dan sedang menjadi kampanye lingkungan hidup, atau go green di mana-mana, lho. Tak hanya itu, dengan bike to work, banyak hal yang nantinya akan kamu dapatkan.

“Ada aplikasi namanya Endomondo di Android saya. Nah, itu seperti Facebook-nya para pesepeda yang bike to work. Setiap pagi saya jadi tahu siapa saja yang tengah bersepeda untuk berangkat kerja,” ujar Bagus Gowes, seorang pesepeda aktif dan juga travel blogger di Yogyakarta, kepada brilio.net, Kamis (17/12).

Menurut Bagus, manfaat bike to work yang nantinya akan kamu rasakan pun beraneka ragam, lho. Daripada kamu bingung, berikut ini adalah manfaat bike to work menurut Bagus Gowes.

  • Ketemu Jodoh di Jalan
image: brilio

image: brilio

Hei, bisa jadi kamu bertemu jodohmu di jalan pas sedang berhenti di ruang tunggu sepeda di lampu merah. Para pesepeda punya kebiasaan menyapa pesepeda lain yang ditemui di jalan meskipun tak saling mengenal. Siapa tahu salah satu yang menyapamu itu jodohmu. Ya, nggak?

 

  • Sehat
image: brilio

image: brilio

Secara tidak langsung, dengan bike to work, kamu sekaligus bisa berolahraga. Bila kamu termasuk salah seorang yang punya kegiatan pada dan tak sempat berolahraga, bike to work patut kamu coba.

 

  • Irit!
image: brilio

image: brilio

Ini nih manfaat yang paling terasa untuk kamu yang masih mahasiswa. Uang bulanan habis, dan kiriman belum datang? Weits, santai, kamu bisa mencoba bike to campus. Selain hemat, juga bisa sekalian olahraga kan, guys?

 

  • Melatih Kesabaran
image: brilio

image: brilio

Ini juga tak kalah penting. Dengan bersepda, kamu akan mampu melatih kesabaranmu. Kamu harus bersabar mengalah dengan kendaraan lain yang ukurannya lebih besar yang ada di jalanan.

 

  • Mempererat Silaturahmi
image: brilio

image: brilio

Seperti yang sudah dikatakan di atas, ya. Pesepeda itu punya kebiasaan menyapa sesama pesepeda di jalan. Gimana nggak mempererat tali silaturahmi, tuh?

  • Kamu Ikut Membantu Membersihkan Udara
image: brilio

image: brilio

Bila kamu naik sepeda, otomatis kamu ikut membantu membersihkan udara dengan mengurangi polusi udara. Sepeda tidak mengeluarkan gas emisi seperti kendaraan bermotor, dengan kata lain, kamu akan ikut menjaga kesehatan lingkungan.

 

  • Kampanye Go Green
image: brilio

image: brilio

Daripada ikut demo go green, mending langsung ikut aksinya dengan bersepeda ke kantor atau bike to work. Selain bermanfaat untuk dirimu sendiri, kamu pun secara tidak langsung ikut mengampanyekan betapa pentingnya kesehatan lingkungan.

Sumber: https://www.brilio.net/news/selain-menyehatkan-bersepeda-juga-bisa-bikin-kamu-ketemu-jodoh-lho-151217l.html

 

Standar
image: bagus gowes
Umum

Bagus Gowes, Gara-Gara Sakit Kuning Pria Ini Jatuh Cinta Pada Sepeda

Sepeda tidak hanya sebagai alat transportasi tetapi juga olahraga.

Brilio.net – Bersepeda adalah olahraga ringan yang murah dan dapat dilakukan oleh siapa saja dan dari kalangan mana saja. Tak hanya sebagai alat transportasi, bersepeda ternyata juga dijadikan salah satu kegiatan mengisi waktu luang di akhir pekan yang murah dan pastinya menyehatkan. Hal tersebutlah yang juga dirasakan oleh lelaki yang akrab disapa Bagus Gowes (28) ini.

Berawal dari sakit kuning yang dideritanya pada tahun 2010, membuatnya mulai mengenal sepeda, dan menjadikan sepeda tak hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga olahraga. Dari bersepeda itulah, akhirnya ia menjadi salah satu yang menginisiasi Komunitas Bike to Work Yogyakarta, di Februari 2011.

“Saya awal sepedaan itu kenal sama forum sepedaku.com, tapi sekarang sudah mati forumnya, dan juga kenal dengan beberapa komunitas sepeda. Karena itu saya jadi menekuni bersepeda,” ujar lelaki bernama lengkap Bagus Abdurrahman Wahid, yang berasal dari Cilacap, Jawa Tengah, namun kini berdomisili di Yogyakarta ini kepada brilio.net, Kamis (17/12).

image: bagus gowes

image: bagus gowes

Tak hanya bike to work dari rumahnya dengan rute Alun-alun Kidul Yogyakarta, hingga di kantornya yang beralamat di Jalan Kyai Mojo, Yogyakarta saja. Bagus juga gemar mengikuti berbagai touring sepeda jarak jauh yang diselenggarakan oleh beberapa event. Seperti pada tahun 2010, ia mengikuti event sepeda pertamanya yang diselenggarakan Kompas, yakni Jelajah Sepeda Kompas dengan rute Surabaya-Jakarta, selama satu minggu.

“Tahun 2012 ikut touring yang diadakan Greeners.co, sebuah LSM yang bergerak di lingkungan hidup. Touringnya tentang kampanye lingkungan hidup dengan rute dari Bali hingga Bandung,” lanjutnya.

Menurut lelaki yang menjadikan bersepeda sebagai salah satu bagian dari hidupnya ini, touring tahun 2012 tersebut merupakan perjalanan touring yang paling ekstrim yang pernah ia lakoni. Bagaimana tidak? Saat itu, ia touring bersama para peserta lain yang ternyata atlet sepeda balap. Mau tak mau, ia harus ikut memacu sepedanya seperti para atlet sepeda balap tersebut.

“Waktu itu pesertanya cuma 15 orang, yang bukan atlet sepeda balap cuma dua orang, saya sama teman dari Bandung. Dikasih sepeda sama panitia juga sepeda yang MTB ukuran 16,” jelas Bagus.

image: bagus gowes

image: bagus gowes

Tak berhenti di tahun 2012, tahun berikutnya ia mengikuti ajang touring yang diadakan oleh Kompas yakni Jelajah Padang – Sabang. Dengan rute sepanjang 1600 km, dan ditempuh dalam waktu 2 minggu. Touring Jelajah Padang Sabang tersebut akhirnya dibukukan oleh Kompas Gramedia.

Pada 5 Januari 2015 kemarin, akhirnya ia membuat sebuah website atau situs sepeda indonesia, yakni Goowes.co. Bermula dari ingin berbagi ilmu tentang persepedaan dan segala hal tentang sepeda, Bagus mulai mengembangkan website tersebut pada Maret hingga saat ini. Tak hanya tentang sepeda saja, ia juga merekam segala kegiatannya tentang bersepeda, dan merekam perjalanan toringnya di bagusgowes.wordpress.com.

Selain itu, yang menarik, Bagus juga bike to work hampir setiap hari. Ia menyarankan, bila ingin bike to work, lebih baik jarak yang ditempuh tak lebih dari 20 km. Selain lebih sehat, menurutnya, dengan sering bersepeda, tentunya bisa lebih hemat, dan lebih menjalin tali persaudaraan dengan pesepeda lain yang ia temui di jalan. Menurutnya, bersepeda pada masa sekarang ini telah diberi perhatian khusus, seperti adanya jalur kuning dan juga ruang tunggu hijau untuk pesepda di lampu merah.

Tak hanya bike to work saja, Bagus pun gemar melakukan touring menjelajah sudut-sudut Yogyakarta bersama teman-teman komunitasnya. Setiap sabtu, ia mengikuti touring bersama teman-temannya menyusuri jalur Daendels, yakni Yogyakarta hingga Pantai Congot, Purworejo. Dan pada hari Rabu pagi, ia ikut bersepeda dari Jombor, Yogyakarta hingga Kaliurang, Yogyakarta, dengan melewati Jalan Magelang.

“Event paling dekat yang ingin saya ikuti adalah Tour de Pangandaran, dari Tasikmalaya ke Pantai Pangandaran. Itu event tahunan dengan rute sepanjang 100 km,” imbuh lelaki yang juga mempunyai bisnis online spare part sepeda ini.

Nah, bagaimana kamu tertarik untuk bike to work?

Sumber: https://www.brilio.net/sosok/bagus-gowes-gara-gara-sakit-kuning-pria-ini-jatuh-cinta-pada-sepeda-151217i.html

Standar
Tugu Jogja
Event Gowes

Gowes dan Foto Kalender 2016 Jogja Folding Bike

Tahun 2015 sebentar lagi akan berakhir dan pastinya masuk tahun 2016. Apa yang perlu dipersiapkan? Kalau saya persiapan resolusi pribadi, karir dan merutinkan gowes di tahun 2016. Salah satu komunitas sepeda di Jogja mempersiapkan 2016 dengan kalender baru yang berisi foto-foto kegiatan.

Rabu (9/12) saya diajak untuk sesi foto kalender 2016 komunitas Jogja Folding Bike yang rencananya akan dicetak massal digabungkan dengan komunitas Dahon Indonesia. Karena pada tanggal tersebut libur nasional ada pilkada, oke deh saya ikutan. :D

Jadwal sesi foto pertama di Tugu Jogja yang menjadi ciri khas kota Jogja, kurang lebih 15 pesepeda lipat berkumpul di selatan Tugu Jogja. Foto dari berbagai sudut dan gaya. Setelah berfoto di Tugu Jogja, kami melanjutkan tempat lain seperti Stasiun Besar Kota Jogja, Papan Jalan Malioboro dan Kraton Jogja.

12342580_10208223431161696_3645137709295372549_n

image: nugroho pratomo

12347643_10208223427161596_6486086945405098891_n

image: nugroho pratomo

12313883_10208223432601732_6653265850881482345_n

image: nugroho pratomo

12308114_10205235893205439_2371009376152246045_o

image: nasirullah sitam

Standar
image: bagus gowes
Review

JBL Micro Wireless Bluetooth Speaker

Selain gowes hobi saya suka mendengarkan musik, khususnya musik pop dan electronic dance music biasa disebut edm. Karena speaker di MacBook Pro udah gak karuan, kebutuhan streaming musik membeli speaker portable yang ringan dan cocok dibawa gowes atau travelling.

Konsultasi dengan teman yang hobi mengoleksi speaker dan headphone yang mudah dibawa-bawa dan ada bluetoothnya merekomendasikan JBL Micro Wireless Bluetooth Speaker. Coba googling foto dan cek harga pasaran harga dibawah 500.000. Lumayan oke khususnya dari harga. :D

665945_10151319847482275_67800397_o

image: bagus gowes

JBL Micro Wireless Bluetooth Speaker dari bentuknya udah unik, kalo males pake bluetoothnya bisa pakai kabel output yang tersimpan di belakang speakernya. Bisa hemat baterai. Banyak speaker bluetooth yang sudah menghilangkan kabel output.

Pilihan speaker bluetooth waktu itu Jawbone Boombox Mini tapi harganya bikin dompet kosong, hampir 2 jutaan harga speaker travelling. Majalah luar DJ Magz mereview speaker JBL ini cukup bagus dan tandingannya Logitech X100. Udah suka JBL dari bentuknya dan banyak sellernya di marketplace online.

Bawaan paketan dari JBL Micro Wireless Bluetooth Speaker cukup minimalis. Ada di dalam paketan buku petunjuk, cable charger (tanpa kepala) dan sarung pembungkus warna hitam.

Untuk kekuatan baterai JBL Micro Wireless Bluetooth Speaker bisa 5 jam dari penuh. Untuk charger hanya 2 jam saja dari baterai kosong. Notifikasi JBL Micro Wireless Bluetooth Speaker perlu di charge yaitu kedipan lampu merah. lampu biru menandakan penuh dan masih ada daya.

Saya sempat unboxing dan test sound dari JBL Micro Wireless Bluetooth Speaker ini. Kalau mau lihat bisa nonton di video ini.

Standar