image: bagus gowes

Kedai Nyah Tan Li, Tempat Makan Romantis di Jogja

Kalau kamu sudah terbiasa makan di puncak gedung tertinggi, makan di tebing dan melihat pemandangan kota di malam hari dengan pasanganmu itu sudah mainstream. Tempat makan romantis menurut saya lebih enak yang sepi, sesekali ada hiburan live music akustik dan tempatnya remang-remang. Kita bebas bercerita mengenai kehidupan dengan pasangan.

Kemarin Rabu (15/6) saya diundang untuk berbuka puasa bersama dengan Komunitas Blogger Jogja di Kedai Nyah Tan Li. Lokasi Kedai Nyah Tan Li berada di Kasongan, Bantul. Kasongan memang identik dengan kerajinan keramik, sangat mudah menemukan Kedai Nyah Tan Li bersebelahan dengan showroom Timboel Keramik sebelum jembatan Kasongan.

Saya datang tepat waktu pukul 16:00 WIB, karena belum tahu lokasi tepatnya. Ternyata sangat mudah dan parkirnya cukup luas. Kedai Nyah Tan Li dimiliki oleh istri Bapak Timboel sebagai owner Timboel Keramik. Bu Timboel menceritakan awal mula memakai nama Nyah Tan Li yang artinya Wetan Kali (barat sungai) Kasongan. Lebih mudah untuk memberikan rutenya.

image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes

Setelah mendengarkan penjelasan dari Bu Timboel mengenai konsep kedai yang dibuat tradisional dengan menu dan interiornya. Saya dan teman-teman Komunitas Blogger Jogja disajikan beberapa menu makanan buka puasa yang sehat yaitu kolak pisang yang sudah ditempatkan dalam gelas. Untuk makanan ringan sudah disiapkan pisang goreng. Cukup untuk membatalkan puasa.

Makanan besar perlahan disiapkan oleh tuan rumah ada Nasi Goreng Kecombrang, Mie Goreng Kecombrang, Nasi Kuning, Nasi Pedas, Nasi Tempe Pedas dan Brongkos khas Kedai Nyah Tan Li. Saya memesan nasi tempe pedas, karena melihat dari bentuknya yang isinya ada bihun manis, timun, telur dan ayam disuwir membuat selera berbuka puasa terasa spesial.

Untuk minuman yang disediakan ada teh panas manis, jeruk panas, es jus beberapa buah lokal dan es dawet. Saya memesan es jus jambu menemani makan nasi tempe pedasnya. Untuk nasinya sangat enak dimakan saat panas, gurih dan tidak terlalu lembek. Menu tambahannya ada tempe, bihun goreng dan ayam yang disuwir memberikan rasa unik di lidah. Buat teman-teman yang tidak suka pedas, minta saja sambalnya dipisah.

Jus jambu di Kedai Nyah Tan Li tidak begitu spesial, sama dengan jus lainnya. Setelah makan pedas lalu minum jus buah rasanya segar di mulut dan perut. Untuk harga tidak begitu mahal dengan tempat romantis, rata-rata makanannya seharga Rp 13.000,- dan minumannya Rp 10.000. Rekomendasi Kedai Nyah Tan Li buat yang ingin berkumpul dengan teman-teman dan keluarga.

image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: gusti bayu

Gowes Jambore Federal Kediri 2016

Selamat ulang tahun Komunitas Sepeda Federal dan Jambore Federal Kediri 2016. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan silaturahmi antar pemilik, pecinta dan penggemar sepeda Federal di Jambore Federal Kediri 2016. Acara Jambore Federal Kediri 2016 dilaksanakan selama 3 hari Jum’at – Minggu (20-22/5) di Pinggir Sungai Brantas dan Air Terjun Irenggolo Kediri.

Untuk Jambore Federal Kediri saya berencana untuk bersepeda dari Jogja – Kediri bersepeda selama 1 hari, karena ingin menikmati setiap kayuhan dengan sepeda Surly Troll. Sudah lama tidak touring antar kota dan provinsi, hehe.. Ternyata waktunya tidak pas, karena orang tua datang ke Jogja untuk kontrol mata di Rumah Sakit Dr. YAP Yogyakarta. Saya langsung ambil keputusan untuk membeli tiket Kereta Api Malioboro Express dan membawa sepeda lipat Dahon Speed P8.

Kamis malam (19/5) pukul 21:00 WIB saya berangkat sendiri menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dan berhenti di Stasiun Kediri pukul 03:00 WIB. Panitia Jambore Federal Kediri sudah menyiapkan tempat transit untuk para peserta dari luar kota di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Saya langsung bersepeda dari Stasiun Kediri ke Pondok Pesantren Lirboyo yang jaraknya cuma 8 km saja. Saya istirahat sampai pukul 05:00 WIB dan bersiap mengikuti agenda Jambore Federal Kediri.

image: gusti bayu
image: gusti bayu

Hari 1, Jum’at (20/5) acara pembukaan Jambore Federal Kediri dan city tour mengelilingi Kota Kediri. Peserta yang terdaftar di Jambore Federal Kediri sejumlah 500 orang, semua berkumpul di Stadion Brawijaya Kediri untuk berfoto dan absen perwakilan dari tiap-tiap kota se-Indonesia. Dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Denpasar ada perwakilannya. Saya angkat jempol untuk Jambore Federal Kediri tahun 2016, antusias pesertannya sangat bagus.

City tour Jum’at semua peserta Jambore Federal Kediri keliling wilayah Kediri dari Gudang Garam, Simpang Lima Kediri Gumul dan perkampungan di wilayah Kediri. Kami sarapan pecel pincuk Kediri di Simpang Lima Kediri Gumul. Setelah sarapan kami berkenalan dengan wilayah lain dan berfoto di depan ikon Simpang Lima Gumul dilanjutkan pulang menuju Pondok Pesantren Lirboyo untuk sholat jum’at.

Setelah sholat jum’at registrasi dan pembagian kaos Jambore Federal Kediri sekaligus makan siang di kantin Pondok Pesantren Lirboyo. Sorenya kami diarahkan menuju Sungai Brantas untuk bikecamping di tepian sungai. Suasana di tepian Sungai Brantas sangat bagus, waktu itu turun hujan tapi tidak mengurangi semangat melanjutkan acaranya. Panggung musik sudah dipersiapkan panitia untuk menghibur semua peserta.

image: gusti bayu
image: gusti bayu

Puncak acara bersepeda di Jambore Federal Kediri saat Sabtu (21/5) menuju Air Terjun Irenggolo Kediri. Pagi pukul 06:00 WIB semua peserta sudah dibuat group masing-masing daerah mengikuti marshall dari check point 1 sampai finish. Jarak yang kami tempuh hanya 40 km dari Sungai Brantas sampai Air Terjun Irenggolo Kediri, sepanjang perjalanan banyak tanjakan yang aduhai, hahaha…

Tanjakan menuju Air Terjun Irenggolo Kediri bisa diibaratkan menuju Selo dari arah Ketep atau Muntilan, sepanjang perjalanan kita menikmati tebing dan jurang. Beberapa jalur kemarin memang rawan longsor, berhati-hati jika mobil melewati jalur tersebut tikungannya sangat tajam. Jarang sekali dilewati truck apalagi bus pariwisata, sepeda agak mudah mengatur kayuhan saat tanjakan.

image: gusti bayu
image: gusti bayu
image: gusti bayu
image: gusti bayu
image: bagus gowes

Mencoba EMS Training 20FIT Jogja

Pola hidup sehat dan rajin berolahraga alhamdulillah sudah saya lakukan setiap hari. Bangun tidur pukul 4:30 lalu Sholat Subuh dan dilanjutkan dengan jogging 30-60 menit per hari dan menjadwal waktu istirahat 1 hari dalam 1 minggu tersebut. Badan jadi segar dan gak gampang ngantukan buat kerja jadi maksimal. Efeknya jadi hobi makan, karena kalori terbakar setiap harinya, hahaha..

Kemarin Minggu (15/5) saya mendapatkan undangan dari 20FIT lewat pesan di Instagram untuk menghadiri syukuran dan talkshow 20FIT Studio Jogja di Jln. Kenari, Sagan, Yogyakarta dihadiri oleh founder 20FIT Andien Aisyah. 20FIT adalah langkah cepat setiap harinya untuk membentuk tubuh selama 20 menit. Kok bisa yah? Saya sudah running, cycling, dll. badan masih keliatan gemuk.😀

Kalau saya mendengarkan Andien menjelaskan 20FIT adalah gym innovation dengan alat teknologi dari Jerman yang menawarkan berbagai keuntungan seperti; menjaga kebugaran tubuh, body shaping, dan sebagainya. Keuntungan lain dari 20FIT adalah latihan ringan satu sampai dua kali seminggu yang dilakukan hanya dalam waktu 20 menit didampingi oleh trainer terlatih.

Dengan bantuan teknologi Jerman, Electro Muscle Stimulation (EMS) dari Miha Bodytech, klien akan mendapatkan stimulasi pembakaran lemak dan pembentukan otot di bagian-bagian yang diinginkan sehingga olahraga yang dilakukan bersama dengan 20FIT akan lebih efisien dan tepat sasaran.

20FIT tidak menggunakan alat berat seperti barbel, sepeda statis, dll. seperti di gym, menggunakan listrik untuk mendeteksi bagian mana yang perlu dikurangi dan ditambahkan khususnya lemak. Sebelum memulai EMS Training 20FIT, semua baju yang kita pakai harus dilepas dan memakai outfit 20FIT yang sudah terintegrasi dengan alat tersebut.

Tidak ragu lagi kalau tangan, kaki dan betis yang keseleo karena trainer 20FIT mendampingi untuk mengoperasikan mesinnya. Seberapa kuat tenaga kamu, bisa dimaksimalkan dengan tenaga listrik EMS yang dialirkan ke tubuh. Jangan takut kesetrum yaah.. Alat ini aman dan tentunya buat badan sehat setelah workout.

image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes

Berkenalan Dengan Suku Osing, Suku Asli Banyuwangi

Selamat sore Banyuwangi..!!! Saya bersama 7 orang travel blogger yang diundang Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia tiba di Banyuwangi kira-kira Pukul 15:30 WIB. Tertahan tidak bisa terbang di Bandara Juanda Surabaya menuju Bandara Blimbingsari Banyuwangi, karena ada penerbangan VIP dari Bandara Juanda. Sesampai di Bandara Blimbingsari kami dijemput perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi menuju Desa Wisata Kemiren Banyuwangi, tempat tinggal suku asli Banyuwangi yaitu Suku Osing.

Saya dan teman-teman lain dianggap sebagai tamu agung yang datang ke Desa Kemiren Banyuwangi. Sebelum masuk desanya kami disambut oleh perwakilan Suku Osing dengan tari-tarian penyambutan, dipercaya agar hawa roh jahat tidak ada yang masuk ke Desa Kemiren. Tari Barong adalah tarian pembuka sebagai penyambutan kami. Setelah selesai tari-tariannya, kami dipersilahkan masuk untuk mengikuti rombongan Suku Osing masuk ke wilayahnya.

Suku Osing atau biasa diucapkan Suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai “wong Blambangan” dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Setelah masuk di wilayah Desa Kemiren, sudah banyak warga yang berkumpul di halaman untuk melihat pertunjukan tarian selanjutnya yaitu Gandrung Banyuwangi. Kami dikenalkan dengan Pak Sucipto (tetua adat Suku Osing) dan menceritakan sejarah Suku Osing Banyuwangi.

Kalau ngomongin sejarah Suku Osing akan panjang, intinya Suku Osing dulunya adalah pecahan dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke wilayah timur Jawa saat Belanda menyerang. Mereka menyebar di segala penjuru Banyuwangi. Tapi umumnya, Suku Osing menempati wilayah barat. Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan.

Sambil menikmati Tarian Gandrung Banyuwangi, kami disuguhi berbagai macam makanan tradisional yang sudah disiapkan warga Suku Osing spesial menyambut tamu, ada pecel pitik khas Banyuwangi yang isinya nasi bakar ditaburin srundeng, pitik/ayam suwir, lalapan, dll. Makanan lain yang disajikan ada lemper, pisang rebus dan jajanan pasar. Khusus Pecel pitik Banyuwangi ini tidak ada resto yang menjual selain di Desa Kemiren. Rasanya enak dan gurih, saya habis 2 bungkus nasi pitiknya, hahaha..😀

Setelah kenyang melahap semua makanan yang disiapkan warga Suku Osing, saya dengan Mas Him (Indonesia Travel) diajak ke rumah warga untuk mencicipi kopi khas Suku Osing yaitu Kopi Jaran Goyang Banyuwangi. Jenis kopinya yaitu robusta, langsung dari perkebunan di wilayah Desa Kemiren. Saya mencoba 1 gelas kopi yang sudah disiapkan warga. Sebelum pulang dari Desa Kemiren, kami diajak masuk ke rumah adat Desa Kemiren yang tidak memakai tembok, masih memakai kayu yang berlapis-lapis.

image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
hotel mahkota plengkung banyuwangi

Hotel Mahkota Plengkung Banyuwangi, Rekomendasi Hotel Backpacker di Kota Banyuwangi

Banyuwangi memiliki berbagai macam wisata dari kesenian, pegunungan, pantai, bawah laut, dll. Selama lima hari saya di Banyuwangi belum semua tempat wisata dikunjungi. Tempat wisata paling eksotis yaitu ke taman nasional Baluran dan Alas Purwo, disana bisa menemukan berbagai macam flora dan fauna yang hidup bebas di hutan. Permasalahannya antar taman nasional lokasinya agak jauhan dan perlu menginap.

Selama di Banyuwangi saya menginap di Hotel Mahkota Plengkung yang berlokasi di Jl. Yos Sudarso no. 218, Banyuwangi, cukup dekat dengan alun-alun Banyuwangi dan lokasinya ada di jalur utama menuju Situbondo. Transportasi antar tempat wisata saya sarankan menyewa motor atau mobil disesuaikan budget travellingnya saja. Travelling bersama teman-teman lebih dari 5 orang yang lebih baik menyewa mobil dan sopir (merangkap guide).

Untuk harga kamar paling murah di Hotel Mahkota Plengkung Banyuwangi yaitu Rp 175.000,- sudah mendapatkan fasilitas double bed – fan – tv – keyphone – welcome drink – breakfast. Dengan Rp 175.000,- buat berdua itu sangatlah murah, kamar yang bersih dan plusnya ada kolam renang yang cukup nyaman buat berendam dan bersantai di sore hari. Sarapan di Hotel Mahkota Plengkung Banyuwangi disediakan nasi goreng dan soto ayam mengambil sendiri sepuasanya, hehe..

Hotel Mahkota Plengkung Banyuwangi juga menyediakan fasilitas WiFi yang bisa diakses di resepsionis dan restaurant. Untuk WiFi di kamar tidur, saya tidak bisa mengaksesnya menggunakan handphone. Kemungkinan jauh dari akses point WiFi-nya, tapi menggunakan laptop tetap bisa mengakses WiFi. Untuk interior hotel ini masih memakai tradisional banyak patung dan ukiran yang tertempel di tembok. Saya mendokumentasikan lingkungan dan tarif Hotel Mahkota Plengkung Banyuwangi, harga tersebut di luar harga hari raya.

hotel mahkota plengkung banyuwangi hotel mahkota plengkung banyuwangi hotel mahkota plengkung banyuwangi hotel mahkota plengkung banyuwangi hotel mahkota plengkung banyuwangi hotel mahkota plengkung banyuwangi hotel mahkota plengkung banyuwangi hotel mahkota plengkung banyuwangi

image: bagus gowes

Pantai Boom Banyuwangi, Spot Foto Sunrise Terbaik di Kota Banyuwangi

Selamat pagi Banyuwangi..!!! Hari ke-5 di Banyuwangi saya bersama teman-teman blogger Indonesia Travel bersiap untuk pulang ke kota masing-masing, ada yang ke Jakarta, Surabaya dan Bandung. Karena jadwal pesawat dari Banyuwangi menuju Surabaya pukul 13:00 WIB, beberapa blogger sambil menunggu waktu pulang ada yang ke Pantai Boom Banyuwangi.

Pantai Boom Banyuwangi merupakan satu-satunya pantai yang ada di tengah kota Banyuwangi. Selain alun-alun Kota Banyuwangi, bisa dibilang Pantai Boom sebagai spot masyarakat Banyuwangi berkumpul dengan keluarga. Tempatnya cukup luas dan viewnya bisa melihat Bali Barat jika cuaca sedang cerah. Saya berangkat menuju Pantai Boom pukul 04:30 WIB untuk memfoto spot sunrise.

15 menit perjalanan dari Hotel Plengkung menuju Pantai Boom. Kondisi saat itu masih gelap, saya dan Atiqoh Hasan menuju pemecah gelombang yang banyak pemancing sedang mencari ikan. Tidak begitu lama, dari sisi timur terlihat sinar matahari yang masih malu-malu untuk mengeluarkan sinarnya. Alhamdulillah bangun pagi tidak sia-sia menuju Pantai Boom. Berikut beberapa sunrise yang saya ambil dengan iPhone 6S.

image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes

Osing Deles, Surganya Oleh-Oleh Kaos Khas Banyuwangi

Osing Deles Banyuwangi adalah sebuah toko oleh-oleh khas Banyuwangi yang isinya ada kaos, polo shirt, topi/peci, kopi, teh, dll. asli Banyuwangi. Bisa dibilang Osing Deles surganya oleh-oleh Banyuwangi. Tapi yang menjadi ciri khasnya yaitu kaos distro berdesain Banyuwangi. Buat wisatawan yang melihat kaos Osing Deles pasti akan bertanya-tanya maksud dari kata-kata yang menempel di kaosnya.

Saya bertanya ke pramuniaga Osing Deles “apa arti Osing Deles?” Osing Deles berarti using sekali atau banget. Using adalah suku asli di Banyuwangi. Produk Osing Deles memperlihatkan sisi ke-Banyuwangi-an pemakainya, secara tidak langsung bangga dengan produk Banyuwangi dan memperkenalkan Banyuwangi untuk masyarakat luas.

image: bagus gowes
image: bagus gowes

Saya masuk ke Osing Deles langsung terfokus dengan kaos distro yang banyak sekali desainnya. Kebetulan saya tidak begitu suka desainnya, karena terlalu ramai dan warna kaosnya begitu terang. Itu selera saja. Untuk harga barang di Oseng Deles relatif terjangkau mulai dari Rp 10.000 sampai termahal Rp 300.000 untuk kerajinan tangan. Untuk kaos mulai Rp 75.000 sampai Rp 110.000.

Uniknya, di Oseng Deles tidak menyediakan pembelian barang secara online karena pihaknya ingin pembeli produknya benar-benar mengenal Banyuwangi dengan datang ke kabupaten yang terletak di paling timur Pulau Jawa tersebut.

image: bagus gowes
image: bagus gowes

Saya datang ke Banyuwangi bertepatan dengan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITDBI) 2016 dengan undangan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #PesonaBanyuwangi. Ada beberapa desain yang tematik dengan acara di Banyuwangi yaitu ITDBI 2016. Osing Deles mengambil peluang dengan menjual kaos tematik event di Banyuwangi.

Sudah main ke Osing Deles dan bertanya-tanya dengan pramuniaganya, gak enak aja kalau tidak membeli 1 atau 2 barang. Akhirnya saya memutuskan membeli camilan khas Banyuwangi yaitu Kue Bagiak Banyuwangi, gak terlalu mahal hanya Rp 7.000,- per dusnya. Buat yang suka foto, ornamen di Osing Deles sangat unik menjadi background foto-foto selfie.

image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes