So Good Cerdik, Aplikasi Cerita Interaktif Untuk Anak

Tiap awal bulan saya dan istri selalu belanja kebutuhan bulanan, makanan ringan dan buah-buahan. Makanan ringan kesukaan istri yang ada coklatnya, berbahan gandum dan manis. Kami suka mencoba produk baru dan tentunya makanan tersebut sedang promo dan bonus hadiah.

Jalan-jalan ke tempat es krim dan sebelahnya ada chicken nugget, mungkin naluri istri ingin memasak. Saya ambil chicken nugget So Good original 400 gram bisa dimakan bersama keponakan. Kebetulan chicken nugget So Good kemasan 400 gram varian original, dino bites dan chicken stick yang memiliki stiker cerdik di dalamnya terdapat kartu So Good Cerdik untuk bermain bersama anak.

Sampai rumah saya penasaran dengan kartu So Good Cerdik yang ada di dalam chicken nugget So Good original. Saya langsung membuka bungkus So Good dan chicken nuggetnya diberikan istri untuk memasaknya. Setelah membuka bungkus So Good original di dalamnya terdapat sebuah frame dan kertas bergambar bertuliskan Chika & Chiko Part I di belakangnya ada cara membaca cerita tersebut.

IMG_20171204_142257.jpg

So Good Cerdik merupakan sebuah inovasi digital dari So Good untuk membacakan cerita kepada anak-anak menggunakan teknologi augmented reality (AR). Nah untuk menggunakannya caranya cukup mudah karena teman-teman sekalian tinggal melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Install aplikasi So Good Cerdik di Play Store Android.
  2. Setelah melakukan instalasi, buka aplikasinya dan pilih cerita yang sesuai pada hadiah So Good. Sesuaikan dengan kartu atau gambar yang di dapatkan. Contohnya saya mendapatkan kartu Chika & Chiko Part I dan klik mulai.
  3. Kemudian arahkan kamera pada kartu atau gambar cerita yang di dapatkan dalam kemasan So Good tersebut. Nanti kita akan menemukan sebuah cerita dalam bentuk AR menggunakan bahasa Indonesia.

Chika & Chiko part I menceritakan tentang dua saudara yang memiliki toko roti dan peternakan ayam potong. Chika menjaga toko rotinya dan melayani pembeli yang memesan roti. Tugas Chiko menjaga peternakan ayam potong terdapat puluhan ayam potong yang menghasilkan telur.

Saat ini di aplikasi So Good Cerdik baru memiliki tiga cerita interaktif yang bisa dibaca oleh anak-anak yaitu Lala dan SingSing, Umbo Larage dan Chika & Chiko. Masing-masing cerita ada part I dan II yang bisa kamu koleksi, mainkan dan baca bersama anak. Bagi saya, So Good Cerdik ini sangat bagus untuk menambah pengetahuan anak-anak. Dengan visual AR dan diceritakan dengan suara, anak-anak mudah untuk memahaminya.

Di aplikasi So Good Cerdik juga ada resep makanan yang bisa dicoba oleh teman-teman. Buat variasi menu makanan dengan bahan dasar chicken nugget, agar anak tidak bosan dengan menu makanan yang hanya itu saja. Selamat mencoba!

 

Advertisements

Review Film Kingsman The Golden Circle

Kingsman tak lantas aman meski berhasil menggagalkan misi jahat Valentine menghancurkan dunia di seri pertama film Kingsman: The Secret Service. Tiga tahun setelah itu, sang kelompok agen rahasia kembali menghadapi situasi rumit.

Itu dimulai dengan kehadiran Charlie Hesketh (Edward Holcroft), mantan pelamar Kingsman yang memburu Eggsy (Taron Egerton), dan hendak menghancurkan agen independen tersebut. Kendati Eggsy berhasil lolos dari buruan Hesketh, tidak demikian dengan data Kingsman.

Data itu diretas Poppy Adams (Julianne Moore) pemilik kartel narkoba terbesar di dunia The Golden Circle. Ia mempekerjakan Hesketh untuk lebih dulu menghancurkan Kingsman demi melancarkan misinya menguasai dunia. Markas-markas besar Kingsman pun hancur lebur dibom Poppy. Toko penjahit yang menjadi lokasi persembunyian bahkan ikut dihancurkan.

Beruntung, saat itu Eggsy sedang tak berada di markas. Merlin pun selamat karena kediamannya tidak masuk dalam data utama Kingsman. Sebagai anggota Kingsman yang tersisa, mereka mencari penyelamatan terakhir Kingsman yang disimpan dalam brankas di toko minuman.

Pencarian itu membawa keduanya ke sebuah kawasan penyulingan wine di Kentucky, California. Statesman, namanya. Itu ternyata sebuah agen rahasia independen yang menyamar.

Di sana pula mereka menemukan kejutan lain dari masa lalu, yang tak disangka masih hidup.

Kingsman pun harus bertarung bersama Statesman demi sebuah misi besar, menyelamatkan dunia dari Poppy yang meracuni masyarakat lewat narkoba. Kingsman masih dengan gayanya, agen rahasia dengan setelan jas rapi. Sementara Statesman bertarung bak para koboi.

Di luar pertarungan mereka dengan Poppy, ada konflik internal yang dihadapi, baik antara Kingsman dan Statesman maupun Hesketh yang nyatanya masih menghantui hidup Eggsy.

Selama hampir dua setengah jam, suguhan Kingsman: The Golden Circle bukan hanya menampilkan bagaimana agen rahasia itu beraksi melawan musuh dengan gaya elegan yang khas, tetapi juga banyolan-banyolan unik dan renyah yang begitu menghibur.

Sayangnya, sejumlah adegan laga di awal film yang menggunakan teknologi CGI masih terasa kasar. Jalan ceritanya pun cukup mudah ditebak, sehingga sensasi untuk menunggu kejutan dalam film ini terasa kurang maksimal. Pun, ada beberapa pengulangan yang membuat konsep jalan cerita film sekuel ini mirip dengan seri pertamanya.

Kendati demikian, secara keseluruhan film ini masih dapat diterima dan menghibur.

Kereta Api dari Surabaya ke Malang

Besok Minggu (17/9) saya dan Tika akan ke Malang untuk mengunjungi adik yang sedang sekolah menengah pertama di Pondok Pesantren Al Rifa’i Gondanglegi Malang. Mengunjungi adik di Gondanglegi Malang menjadi rutinitas 2 minggu sekali, karena belum merasa nyaman tinggal di pondok pesantren. Biasanya kami sekeluarga: Ayah, Ibu, saya dan Tika menggunakan mobil pribadi ke Gondanglegi Malang, tapi minggu ini Ibu masuk kuliah Sabtu – Minggu dan Ayah bertugas mengantarnya.

Biar jadwal dan bagi tugasnya enak saya dan Tika yang akan berangkat ke Malang menemui adik tanpa Ayah dan Ibu. Saya langsung mengambil pilihan transportasi umum yaitu kereta api, karena nyaman dan tepat waktu. Kereta api dari Surabaya ke Malang banyak pilihannya, mau naik kereta api ekonomi, bisnis dan eksekutif. Jarak Surabaya ke Malang tidak begitu jauh, menggunakan kendaraan pribadi hanya memakan waktu 2 jam dengan kondisi jalan yang normal. Kereta api dari Surabaya ke Malang ada kereta lokal yang hemat dan ekonomis yaitu Kereta Penataran Dhoho dan Kereta Tumapel, kelasnya eknomi dan cukup membayar Rp 12.000.

Semua kereta api lokal tidak bisa beli tiketnya secara online, calon penumpang harus membeli di stasiun terdekat atau stasiun keberangkatan. Hari itu saya langsung menuju Stasiun Wonokromo untuk menanyakan ketersediaan tiket Kereta Penataran Dhoho dan Tumapel. Saya langsung menuju customer service di Stasiun Wonokromo, kebetulan cuma 10 menit bersepeda dari rumah. Sampai di Stasiun Wonokromo customer service yang sekaligus satpam menginfokan tiketnya masih ada tapi tanpa tempat duduk.

Saya dan Tika pernah naik kereta api ekonomi Penataran Dhoho tanpa tempat duduk. Saya kira di beberapa stasiun ada penumpang yang turun dan digantikan penumpang yang tanpa tempat duduk, ternyata rata-rata penumpang turun di Stasiun Malang. Capek dan nyesel membeli tiket kereta api tanpa tempat duduk ini. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bus umum untuk keberangkatan besok Minggu. Bus umum Surabaya ke Malang dan sebaliknya tiap 30 menit selalu ada. Bus umum patas Surabaya ke Malang tarifnya Rp 25.000, cukup murah dengan perjalanan 2 – 2,5 jam. Buat yang ingin mencoba naik kereta api dari Surabaya ke Malang, berikut jadwal keretanya:

Kereta Api Ekonomi:

  1. Kereta Penataran Dhoho. Pukul 04:50, Pukul 07:49, Pukul 11:45. Tarif Rp 12.000,-
  2. Kereta Penataran. Pukul 17:50. Tarif Rp 12.000,-
  3. Kereta Tumapel. Pukul 19:59. Tarif Rp 10.000,-
  4. Kereta Jayabaya. Pukul 00:45. Tarif Rp 35.000,-

Kereta Api Bisnis:

  1. Mutiara Selatan. Pukul 07:20. Tarif Rp 45.000,-

Kereta Api Executive

  1. Bima. Pukul 06:20. Tarif Rp 60.000,-
  2. Mutiara Selatan. Tarif Rp 60.000,-

Review Film Battleship Island

Gaung film The Battleship Island sebagai calon box office tak hanya di Korea Selatan sebagai negara asalnya, tapi juga di dunia, sudah terdengar sejak beberapa bulan sebelum film ini dirilis resmi.

Saya termasuk salah satunya yang turut menyimak antusiasme penggemar sinema Korea Selatan akan hadirnya film ini. Selain promo besar-besaran, faktor aktor dan aktris pemeran di film ini tentu jadi salah satu yang mempengaruhi opini yang berkembang soal The Battleship Island sebelum filmnya dirilis.

Bagaimana tidak, film ini menyuguhkan beberapa nama besar perfilman Korea Selatan. Ada Hwang Jung-Min, aktor kawakan yang terkenal dengan kemampuan aktingnya yang mumpuni di beberapa judul film seperti Veteran, A Violent Prosecutor, The Wailing dan Ode to My Father.

So Ji-Sub, aktor sekaligus penyanyi yang juga dikenal dengan beberapa karyanya di serial K-drama seperti Oh My Venus dan I Am Ghost. Ada juga aktris Lee Jung-Hyun dan Kim Su-An, aktris cilik yang dikenal dengan akting brilian di Train to Busan. Dan tentu saja, Song Joong-Ki yang populer lewat serial Descendants of the Sun.

Mungkin karena deretan nama pemeran yang memang masing-masing memiliki basis penggemar yang besar (terutama Song Joong-Ki), tak heran jika film ini meraih jumlah penonton sebanyak 5 juta orang dalam waktu seminggu tayang di Korea Selatan Juli silam.

Film ini disutradarai oleh Ryoo Seung-Wan yang sebelumnya sukses menggarap beragam film action, salah satunya Veteran. Seung-Wan juga pernah bekerja sama dengan Jung-Min di film The Unjust, The Berlin File dan Veteran.

Penuh adegan action

Film ini berkisah tentang masa akhir Perang Dunia II di mana Korea masih jadi area jajahan Jepang. Sebanyak 400 warga asal Korea dipaksa menaiki kapal dan bekerja di sebuah pertambangan di Pulau Hashima yang lokasinya tak jauh dari Nagasaki, Jepang. Para pria bekerja di tambang, sementara yang wanita jadi penghibur atau pekerja rumah tangga.

Di antara beberapa warga Korea tersebut ada beberapa karakter utama yang kisahnya dimunculkan antara lain Lee Kang-Ok (Hwang Jung-Min) dan putrinya Lee So-Hee (Kim Su-An) yang bekerja dalam sebuah band musik.

Saat dibawa paksa ke Hashima, Kang-Ok dan So-Hee bertemu dengan sosok kepala preman Choi Chil-Sung (So Ji-Sub) yang akhirnya ditunjuk sebagai pimpinan warga dan pekerja Korea di Hashima dan kemudian bertemu pula dengan Park Moo-Young (Song Joong-Ki), tentara gerakan kemerdekan Korea yang menyamar sebagai pekerja demi membebaskan salah satu tokoh kemerdekaan yang dipaksa bekerja di Hashima.

Di Hashima juga ada seorang wanita bernama Oh Mal-Nyeon (Lee Jung-Hyun) yang jadi penjaga dan sahabat So-Hee. Mal-Nyeon bekerja di rumah bordil sebagai wanita penghibur.

Konflik berkembang saat mereka harus bertahan hidup tapi juga sekaligus mencari cara untuk melarikan diri dari kepungan tembok dan penjagaan yang ketat dari tentara Jepang.

Moo-Young mulai merekrut mereka yang pro dengan kemerdekaan dan berusaha mencari cara untuk melarikan diri. Sementara Kang-Ok hanya tahu bersilat lidah dan bermain musik demi bertahan hidup bersama So-Hee putrinya. Sementara Chil-Sung mulai mengukuhkan diri sebagai pemimpin warga Korea di Hashima.

Tapi harus diakui, Seung-Wan sukses mengemas teknik action yang baik di film ini. Bahkan beberapa terlalu sadis untuk disaksikan. Tapi salah satu kekuatan film ini adalah di adegan action-nya. Beberapa perkelahian tangan kosong hingga pertempuran dengan senjata terlihat nyaris sempurna.

Salah satu adegan action terbaik menurut saya adalah saat Chil-Sung menghabisi lawannya dengan cara merobek rahangnya dengan tangan kosong. Ada pula adegan saat (lagi-lagi) Chil-Sung bertarung dengan lawan yang sama untuk memperebutkan posisi pimpinan warga Korea di Hashima yang berlangsung di tempat pemandian. Sukses membuat tercengang.

Terlalu banyak plot

Berbeda dengan suguhan action yang menarik, jujur saja, sulit berkonsetrasi pada satu plot cerita saat menikmati film ini saking banyaknya plot yang disajikan. Tampaknya Seung-Wan sang sutradara terlalu asyik mengeksplor berbagai plot.

Setiap karakter utama memiliki plot mereka masing-masing. Tapi di luar itu, masih banyak plot-plot lain yang tiba-tiba muncul yang terkesan dipaksakan. Sulit untuk fokus hanya di satu cerita saja.

Hasilnya, sedikit berantakan. Banyaknya karakter dan plot tambahan yang bergerak dengan kisah mereka masing-masing membuat bingung. Penonton seperti tidak diizinkan untuk jeda sejenak dan menarik napas karena dialog yang bertubi-tubi hadir dari segala penjuru. Belum lagi tambahan sound yang megah dan pergerakan kamera yang cukup heboh.

Seandainya saja alurnya dibuat sedikit lebih sederhana dan tajam, penonton pasti bisa lebih menikmati kemegahan dan detail-detail terbaik dari film kolosal ini.

Akting terbaik

Dari sekian banyak ragam plot dan karakter, ada dua yang mencuri perhatian saya. Jika banyak orang berharap melihat Song Joong-Ki bersinar di film ini, saya justru lebih tertarik dengan akting yang ditunjukkan oleh duet Hwang Jung-Min dan Kim Su-An.

Akting aktor dan aktris yang berperan sebagai ayah dan anak ini benar-benar menguras emosi saya. Mereka dengan baik menggambarkan situasi genting, kisruh, bahagia bahkan sedih dengan akting yang nyaris sempurna. Su-An, di usianya yang masih 11 tahun bisa membuktikan bahwa ia calon aktris terbaik Korea. Aktingnya jauh dari mengecewakan, terutama ekspresinya saat adegan penutup yang membuat saya merinding hingga saat ini.

Serupa dengan duet Hwang Jung-Min dan Kim Su-An, So Ji-Sub juga menunjukkan performa akting terbaiknya. Terutama saat tampil di adegan action. Dari mata, gerak tubuh dan dialog, terlihat jelas totalitas Ji-sub di sini. Puncaknya saat ia memutuskan untuk membela saudara-saudara Korea-nya di pertarungan akhir. Meski tetap, Kim Su-An adalah bintang sesungguhnya di film ini.

Adegan peperangan di akhir film pun cukup menarik untuk disaksikan. Adegan penutup ini seakan membalas adegan-adegan sebelumnya yang “biasa saja”. Klimaks film ini benar-benar terjadi di bagian akhir di mana semua karakter dan plot bersatu dan terlibat.

Kemampuan Seung-Wan memadukan koreografi peperangan dengan teknik pengambilan gambar di set yang megah benar-benar terlihat di penghujung film. Setidaknya, rasa bosan yang sempat melanda di pertengahan film yang berdurasi 132 menit ini bisa terobati di bagian akhir.

Film The Battleship Island bisa dinikmati di layar bioskop CGV mulai 16 Agustus mendatang. Film ini juga diputar di layar Screen X yang memungkinkan penonton menikmati tampilan panorama dari kiri, depan dan kanan gedung teater untuk pengalaman menonton yang lebih menakjubkan.

Rujak Tolet Surabaya

Sejak pindah Surabaya saya banyak menyerap istilah atau penamaan kosakata baru, contohnya rujak tolet. Kalau di Cilacap dan Jogja, rujak identik dengan buah-buahan yang dipotong dan dikasih sambal pedas. Di Surabaya diberi nama rujak tolet. Surabaya terkenal dengan bermacam-macam rujak, seperti rujak cingur, rujak petis, rujak soto, dan lain-lain.

Saya tidak membahas perbedaan masing-masing rujak tersebut. Bulan Agustus ini saya suka membelikan rujak tolet untuk istri yang sedang ngidam di trimester kedua. Rujak tolet langganan istri di SD Khadijah Surabaya yang dekat dengan Stasiun Wonokromo. Sejak SD sampai SMP Istri bersekolah di Khadijah, sering jajan di warung tersebut. Istri suka pedas, tiap saya membelikan rujak tolet selalu berpesan yang pedas, timun dan nanasnya sedikit saja.

Ukuran pedas rujak tolet bagi istri memakai cabai 5-6 potong. Buat yang belum tahu dengan rujak tolet saya jelaskan isi di dalamnya. Potongan buah yang dipakai yaitu mangga, pepaya, timun, nanas, melon. Selain buah tersebut ada potongan tahu goreng, bumbu yang dipakai adalah petis yang ditambah dengan cabai. Warna hitam yang terlihat di bumbunya adalah petis.

Review Film Dunkirk

Setelah film Interstellar (2014) yang mendapat sambutan positif dari kritikus film, Christopher Nolan kembali menghadirkan sebuah masterpiece berjudul Dunkirk. Film ini merupakan film pertama Nolan yang diadaptasi dari kisah nyata. Berdurasi 107 menit, Dunkirk pun resmi menjadi film dengan durasi terpendek kedua yang pernah dibuat oleh sineas asal Inggris ini. Meski berdurasi pendek bukan berarti ia tidak menjanjikan karya yang epik lewat filmnya kali ini.

Mengambil setting di masa Perang Dunia II, Dunkirk berkisah tentang aksi penyelamatan 330 ribu tentara Sekutu yang berasal dari 4 negara berbeda yaitu Inggris, Perancis, Belgia, dan Belanda. Tentara-tentara ini tersudut dan terdampar di sebuah pantai yang terletak di kawasan Dunkirk, Perancis. Uniknya, Christopher Nolan membawa kisah Dunkirk dengan gaya penceritaan yang berbeda.

Dunkirk dikisahkan dari 3 sudut pandang berbeda yaitu dari The Mole atau tanggul, The Sea atau pantai, dan The Airatau udara. Ketiga bagian ini mengambil waktu yang berbeda satu sama lain, namun akan terhubung menjadi satu cerita utuh di bagian akhirnya. Penonton pun diajak kebingungan untuk mengikuti alur maju-mundur di dalamnya.

Angle pertama, The Mole, mengisahkan Tommy (Fionn Whitehead), seorang tentara Inggris yang bertahan hidup agar bisa kembali pulang ke rumahnya. Karakter Gibson yang diperankan oleh Aneurin Barnard dan Alex yang diperankan Harry Styles ikut berperan dan mendukung cerita dari sudut pandang ini.

Yang kedua, The Sea, akan menghabiskan waktu selama satu hari dengan Tuan Dawson (Mark Rylance), seorang penduduk lokal yang mengemudikan kapal kecil bersama anaknya, Peter (Tom Glynn-Carney) yang bertujuan untuk menyelamatkan para tentara.

Yang ketiga, The Air, mengisahkan cerita dari sudut pandang seorang pilot Royal Air Force bernama Farrier (Tom Hardy) dan Collins (Jack Lowden) yang berusaha untuk mengalahkan pesawat tempur musuh. Ketiga sudut pandang ini saling berkesinambungan dan menampilkan ciri khas serta orisinalitas Nolan menceritakan kembali kisah sejarah dengan gaya baru.

Selain gaya penyutradaraan yang berbeda, Dunkirk seakan menjadi pembuktian Nolan sebagai sutradara bertotalitas tinggi. Nolan bahkan tak segan menggunakan properti asli untuk menggarap film ini. Kali ini, ia menggunakan pesawat-pesawat tempur langka seharga 5 juta USD atau setara dengan Rp 65 miliar. Totalitasnya semakin teruji saat pesawat-pesawat tempur tersebut sengaja dihancurkan demi menciptakan adegan yang terlihat real.

Meski tidak berisi banyak dialog, Nolan bisa membuat penonton terlarut dalam kisah filmnya. Dengan rekaman pita besar 70mm IMAX dan visual oleh Hoyte Van Hotema, Dunkirk berhasil menyajikan visualisasi yang nyata. Ditambah dengan iringan musik epik karya Hans Zimmer dan Richard King yang sukses membuat penonton ikut merasakan situasi emosional sekaligus menegangkan.

Dunkirk sendiri menjadi debut akting salah satu personel One Direction, Harry Styles yang berperan sebagai tentara bernama Alex. Antusias publik sangat tinggi begitu tahu Harry terlibat dalam film ini. Pun meski namanya cukup populer namun Harry mampu tampil sesuai porsinya, tidak mencuri perhatian berlebih.

Tak kalah dengan Harry, Tom Hardy juga mampu menampilkan aktingnya yang cemerlang meski wajahnya tersembunyi di balik masker. Seperti biasa, ia mampu menunjukkan kepiawaian aktingnya lewat dialog dan aksinya saat mengemudikan pesawat untuk mengalahkan musuh.

Dunkirk ingin menyampaikan pesan bahwa suatu peperangan tidak selalu dimenangkan dengan kekalahan musuh, tapi dengan hal-hal yang dilakukan untuk bertahan hidup di medan perang juga merupakan pencapaian yang luar biasa.

Review Film Despicable Me 3

The Minions are back! Setelah lama dinantikan, Illumination Entertainment dan Universal Pictures akhirnya kembali merilis film Despicable Me di seri ketiganya berjudul Despicable Me 3. Gru dan para Minions pun akan mengajak kamu bertualang dalam kisah terbarunya.

Despicable Me 3 masih bercerita tentang kelanjutan film sebelumnya, Despicable Me 2. Pada seri ketiganya, Gru dan Lucy dipecat dari pekerjaannya di Liga Anti-villain oleh bos baru mereka setelah gagal menangkap Balthazar Bart, seorang mantan bintang cilik yang kini menjadi dewasa dan terobsesi dengan karakternya untuk menjadi penjahat yang tangguh.

Di tengah situasi ini, datang utusan Dru, orang yang mengaku saudara Gru yang telah lama berpisah. Tak langsung percaya dengan kabar tersebut, ia mendatangi ibunya untuk menanyakan kebenarannya. Setelah mendengar kisah yang sesungguhnya, ia datang menemui Dru yang ternyata saudara kembarnya yang telah lama terpisah.

Film yang berfokus pada aksi Gru dan Dru ini membuat alur cerita terasa sangat sederhana. Namun, kehadiran para minions berhasil membuat film ini jadi menarik. Sayangnya, mereka kurang memainkan peran penting dalam Despicable Me 3. Meski kelucuan mereka konsisten seperti dalam film-film sebelumnya, namun para minions ini tidak begitu berperan dalam aksi-aksi yang dilakukan oleh saudara kembar Dru dan Gru. Seakan-akan para Minions hadir untuk mempercantik film ini saja.

Selain itu, sosok penjahat Balthazar, penjahat bergaya retro tahun 80’an juga terasa kurang sesuai dengan segmentasi penonton yang didominasi anak-anak ini.  Begitupun dengan backsound yang berisi beberapa lagu tahun 80’an, seperti lagu Take On Me yang dibawakan A-ha pada tahun 1985 yang mungkin tidak dikenal oleh sebagian besar anak-anak dan remaja.

Namun, hal ini juga dapat menjadi kelebihan karena film ini jadi tidak hanya dapat dinikmati oleh anak-anak dan generasi muda saja, melainkan kalangan dewasa, seperti kakek atau nenek. Jadi, kamu bisa menonton film animasi ini bersama keluarga, baik dari yang berusia muda sampai tua.

Dari beberapa kekurangan di atas, Despicable Me 3 juga mempunyai beberapa hal yang membuatnya menjadi worthy to watch.  Dua penulis naskah, Cinco Paul dan Ken Daurio mampu menghadirkan dialog-dialog yang mengundang gelak tawa pada beberapa adegan di dalamnya. Tak hanya itu, animasi yang ditampilkan juga menjadi salah satu yang menjamin bahwa Despicable Me 3 adalah sebuah film animasi yang berkualitas.