Sepeda Lipat Boleh Masuk Kereta Api (1)

Tulisan ini sebenarnya ingin membuktikan obrolan basi dari teman-teman sepeda yang saking seringnya mempertanyakan: Sepeda lipat boleh gak dimasukkan ke dalam kereta api? Kalau sepeda MTB masuk kereta api bayarnya berapa? Masuk kereta bagasi/gerbong atau bisa disamping penumpang?

Kamis (7/2) 16:50 WIB sampai Stasiun Lempuyangan saya membawa sepeda lipat Polygon Urbano 4.0 *pinjaman Spica Pradhityo*. Di hari itu memang saya sudah berencana pergi ke Jakarta untuk datang ke Pesta Wirausaha 2013 membawa sepeda lipat. Sampai di depan Stasiun Lempuyangan saya sengaja langsung melipat sepeda tersebut agar tidak kena marah/omelan dari penjaga pintu peron. Alhamdulillah.. Sudah masuk ke dalam Stasiun Lempuyangan dan tidak kena marah dari pegawai peron kereta apinya. Lima menit menunggu KA Progo lewat, penumpang lari ingin masuk dan mencari nomor kursi kereta. Saya tetap santai menunggu penumpang yang lari tersebut masuk ke dalam KA Progo.

Saya pelan-pelan masuk ke dalam kereta progo sambil mengangkat sepeda lipat yang lumayan berat  ini. Sampai di depan pintu masuk kereta api progo saya dipanggil pegawai/satpam/polisi kereta api berbaju biru “Mas sebentar… Sepeda tidak boleh dimasukkan Kereta Api”. Saya jawab: Kenapa? Saya alesan bilang sudah langganan Jogja – Jakarta selalu membawa sepeda lipat ini. Lalu pegawai tersebut berlari ke depan mengontak kepalanya di lokomotif, saya langsung mengangkat sepeda tersebut ke dalam kereta. Di belakang saya dipanggil lagi, Maas.. Nanti di dalam bilang kalau bawa sepeda lipat. Saya bilang: OK! (yes). Hahaha…

Akhirnya saya bisa masuk ke dalam KA Progo. *joget-joget* Permasalahan selanjutnya di KA Progo yang ekonomi ini adalah bingung menaruh sepeda lipatnya. Nomor kursi saya berada di tengah, kursi KA Progo berjejer tiga dan dua – untuk lewat dua orang saja sudah susah apalagi ada sepeda diantara jalan tersebut. 😦

Niatan bepergian orang yang baik dan beruntung selalu dibantu orang-orang yang baik. *halah* Ada Pak Soenarto sudah berumur dan pensiunan perkebunan kelapa sawit yang menyarankan untuk menaruh sepeda ini di atas tempat tas. Saya ikat sepeda biar kencang memakai sabuk. Selama perjalanan saya mengobrol dengan Pak Soenarto yang datang ke Jakarta untuk menghadiri wisuda putrinya di Universitas Indonesia. Selama perjalanan saya tidak berhenti-hentinya berdoa agar tidak kena marah petugas kereta yang selalu mengecek tiket di setiap stasiun besar dan melihat sepeda agar tidak jatuh ke kepala orang, hahaha..

Sepeda lipat di bagasi tas penumpang KA Progo
Sepeda lipat di bagasi tas penumpang KA Progo
Advertisements

20 thoughts on “Sepeda Lipat Boleh Masuk Kereta Api (1)

  1. Ayo.kita usul ke pjka supaya sepeda bisa naik kereta gerbong khusus biar bike to work tambah banyak dan jakarta gak macet oleh pegawai dari jabotabek yg biasa naik motor atau mobil.

  2. Ayo petinggi gowes usul ke pjka agar ada gerbong khusus pengendara sepeda, jadi kita karyawan yang tinggal di tangerang atau bekasi dan bekerja di jakarta gak perlu naik motor atau mobil dan bikin macet jakarta tapi juga gak kejauhan gowesnya. Cukup
    Rumah – stasiun – kantor dan sebaliknya.

      1. Maaf mau nanya… Itu roadbike nya seli? Kan kalau sepeda lipat 26″ lebih kecil dibanding frame sepeda full meskipun masuk hardcase, kan?
        Trims.

  3. Mas mau tanya saya dari bandung rencana mau ke bali pake kereta tp bawa sepeda mtb. Kira kira gimana ya pas dikereta & pas dipelabuhan nyebrang ke bali nya. Kalo kena ongkos tambahan brp kira2…. Brgkali tau mohon pencerahan nya. Nuhun…..

    1. Datang aja ke Stasiun BDG bawa sepedanya, langsung ke bagian gerbong minta dipacking sepedanya. Ongkos tambahan 75-100rb, nanti nyebrang ke Bali ada pilihan tiket orang dan sepeda kok. 🙂

  4. Permisi om,kalo mau bawa Road Bike ke kereta harus pake ekspedisi ya?
    Apa kita langsung ke ekspedisinya dan dipacking,ntar sampe tujuan tinggal diambil ,,begitukah prosedurnya?

    1. Roadbike bisa ditaruh di gerbong kereta paling belakang, jadi sampai lokasi bisa sampai penumpang dan sepedanya. Bayarnya sama dg ekspedisi Herona/Kalog. 🙂

  5. Sudah sejak akhir Januari ’15 yl saya bawa seli. Saya sabtu dinihari naik KA Mutiara Selatan, dari Madiun ke Sby-Gubeng. Ini KA bisnis, jadi isi 64 /gerbong. Ada tempat di belakang bangku paling belakang utk menaruh seli. Balik ke Madiun Senin siang dengan Bangunkarta. Ini KA Eksekutif, isi 50 /gerbong. Malah ada tempat bagasi di kedua ujung gerbong, seli (terlipat) bisa mudah ditaruh situ. Alhamdulillah gak pernah ditegur. Wimcycle Pocket Rocket 20′, ringan (11 kg), murah (maaf bukan ngiklan). Utk memudahkan, saya bawa’nya pakai troley koper.

    1. Terima kasih sharing infonya Om Agung. Baru kemarin saya naik KA. Malioboro Express (Jogja – Malang/PP). Saya taruh Dahon Speed P8 (20 inch) disamping kursi, alhamdulillah gak masalah dengan polisi/masinis KA-nya. 😉

  6. Sobat semua, ini ada pengalaman terkini. Baru dua minggu ini saya beli sepeda lipat D**on Espresso, itu berarti seli dengan ukuran roda 26 inci. Jika terlipat, ukurannya 94 x 79 x 34 cm. Kalau seli yg roda 20 inci 86 x 65 x 34 cm. Sudah pernah saya bawa naik KA Argo Wilis, Yogya – Madiun; Bangunkarta Mn – Sby dan Sritanjung Sby – Mn. Caranya: ditaruh / dititipkan di Kereta Makan (restorasi), biasanya antara Gerbong 4 dan 5. Jadi cari tiket dg tempat duduk di situ. Di Stasiun Gubeng, pernah ditegur Polsuska, katanya harus dibagasikan. Saya jawab dengan tenang tapi tegas, bahwa menurut
    PERSYARATAN DAN KETENTUAN ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API (*), nomor 14 tertulis:
    Khusus sepeda lipat atau sepeda biasa yg dikemas sedemikian rupa dalam keadaan komponen-komponennya tidak dirakit menjadi sepeda utuh dapat dibawa ke dalam kabin kereta penumpang dan ditempatkan pada tempat yang tidak mengganggu atau membahayakan penumpang lain serta tidak akan menimbulkan kerusakan pada kereta, tidak dikenakan biaya.
    (*) Tercantum di balik FORMULIR PEMESANAN TIKET KERETA API (ticket – reservation form) yang selalu saya simpan di dompet, agar bisa saya tunjukkan kepada petugas (semacam polsuska tadi).

    Si Polsuska masih meminta saya utk mengukur di kotak pengukur bagasi yg maksimum 70 x 48 x 30 cm, seperti yg tercantum di nomor 12 dan 13 (*). Saya bilang bahwa untuk sepeda lipat itu memang aturannya khusus, oleh karenanya ada di nomor 14.
    Tapi beliau ini masih ngotot saja agar sepeda saya diukur di kotak (Lha iya pasti kegedean lah), jadi terpaksa saja keluarkan ‘jurus pamungkas’ sebagai berikut:
    ‘Ini tadi saya barusan ketemu KS dan beliau tidak melarang tuh?’ ‘Sekarang begini saja, silakan panggil pak Supriyanto (Kepala Stasiun SGU)….’
    Baru si Bapak Polsuska ini diam.
    (Kebetulan memang beberapa menit sebelumnya, pas saya nenteng seli baru masuk kawasan SGU, berpapasan dengan pak KS Supriyanto yg saya memang kenal dan sejenak bertegur sapa, jadi saya tidak bohong).

    Jadi saran buat semua sobat yg mo bawa seli naik KA:
    1. Bawalah selalu form reservasi tiket yg dibaliknya memuat aturan bhw seli boleh dibawa naik ke kabin penumpang KA.
    2. Taruhlah /ti2pkan seli di kereta makan (restorasi), karena ada tempat agak longgar di situ dan cuma2.

    Salam Seli. Hehehe…

  7. Kapan yaa sepeda MTB bisa masuk kereta tanpa melalui jasa logistik KA atau jastip KA, biar para goweser bisa Turing antar kota dari Jabar ke Jateng atau Jatim dan sebaliknya. Artinya pihak KA menyediakan gerbong khusus goweser + sepedanya menyatu dalam satu gerbong khusus, terealisasi kah ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s