Memulai Kebiasaan Positif dengan Cadence

Finish Jawa Pos Bromo 100 KM

Finish Jawa Pos Bromo 100 KM

Menonton foto dan video promosi dari kejuaraan Le Tour De France 2014 yang sebentar lagi akan dimulai. Saya jadi kepikiran untuk membahas kebiasaan positif yang selalu saya lakukan yaitu latihan cadence. Pertama kali mendengar kata cadence yaitu ketika saya mengeluh kepada road captain Marta Mufreni saat Jelajah Sepeda Kompas 2011: Surabaya – Jakarta (784 km) melahap tanjakan tanpa menuntun. Dia menyarankan saya berlatih cadence, yaitu mengayuh sepeda secara cepat pada gear kecil (ringan dikayuh) selama menggunakan sepeda.

Oke, mari kita ngomongin Cadence. Cadence itu apa ya? Cadence ideal itu berapa? Kalo Cadence yang ideal buat Nanjak berapa? Cadence itu bahasa orang sepeda buat kecepatan putaran kaki. Kalo pake gear ringan, untuk jalan 30kph putaran kaki kita relatif tinggi (misalnya 100 RPM – revolutions per minute), sedangkan 30kph dengan gear berat putaran kaki kita relatif rendah (misalnya 60 RPM). Angka RPM itu lah namanya yg dibilang Cadence. Misalnya kalo orang nanya “Cadencemu berapa rata2?”, jawabnya (misalnya) “90RPM!

Menurut studi, Lance Armstrong, juara Tour de France 6 kali menerapkan cadence tinggi di atas 100 rpm. Apa hubungannya kita dengan Lance Armstrong? Apa keuntungan dari cadence tinggi?

Jadi begini , setiap kayuhan pedal otot kita akan berkontraksi dan berelaksasi. Di setiap kontraksi dan relaksasi otot membutuhkan energi. Tidak hanya itu, setiap kontraksi otot akan menghasil asam laktat yang jumlahnya tergantung seberapa besar kekuatan kontraksi tersebut. Dengan melakukan cadence yang berpengaruh pada kecepatan dan kekuatan kontraksi otot, jumlah asam laktat di dalam darah dan jumlah energi yang digunakan akan terpengaruh juga. Misalnya, kita sedang bersepeda menanjak dengan gigi besar (berat dikayuh). Kita mungkin hanya dapat cadence sekitar 70 rpm dan menghasilkan kecepatan sebesar 20km/jam karena kayuhannya berat. Hal ini berprinsip sama dengan gear di mobil: kita akan menggunakan gigi 1 atau 2 pada saat menanjak untuk meningkatkan kecepatan engine.

Kalo saya pribadi, misalnya saya main solo, lalu main RPM 100+, begitu cardio saya udah ga kuat, saya pasti drop, dan dropnya itu bakalan drastis sekali dan speed bakalan drop abis2an. Sedangkan kalo main big gear (~70-80RPM) saya bisa kuat lama sekali. Memang akhir2nya cardionya juga bakalan cape, tapi dropnya lebih progressive, ngga drastis, jadi kita bisa atur tenaga untuk recovery walaupun solo riding.

Buat teman-teman yang hobi gowes, coba berlatih untuk mendapatkan cadence sekitar 80-90 rpm. Buat awalan, coba pasang speedometer yang ada fasilitas cadencenya. Ketika bike to work dicoba 1-2 jam, yang penting napas kuat dan senyamannya saja. Keuntungannya, kecepatanya tetap sama. Kita menggunakan tenaga yang lebih sedikit. Salam gowes! 😀

Advertisements

4 thoughts on “Memulai Kebiasaan Positif dengan Cadence

  1. emma

    info nya sangat bermanfaat buat newbie yg baru naik sepeda kayak saya
    kalo main sepeda mau nya pake gaer gede di depan dan kecil di belakang

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s