Bersepeda ke Curug Lepo Dlingo Bantul

Hari Minggu (6/3) waktunya gowes bareng komunitas sepeda Jogja, kebetulan Minggu pertama di bulan Maret ada agenda gowes komunitas sepeda Ente Jogja ke Curug Lepo di Desa Dlingo, Bantul. Saya belum pernah bersepeda ke Curug Lepo apalagi lokasinya di Desa Dlingo, bukan wilayah yang biasa dilewati goweser.

Pukul 06:00 tepat saya datang ke titik kumpul peserta gowes Ente Jogja yaitu Lapangan Jejeran, Pleret. Tidak begitu jauh dari rumah Ngadinegaran hanya 8 kilometer ke arah Terminal Giwangan lalu ke selatan sampai ketemu traffic light Pasar Jejeran lalu ke timur 50 meter. Alhamdulillah sudah banyak teman-teman sepeda berkumpul di depan Lapangan Jejeran.

Setelah menunggu 30 menit, rombongan sepeda sekitar 35 orang berangkat pelan-pelan menuju timur arah Desa Dlingo Bantul. Rute yang kami lewati 80% jalan perkampungan dan persawahan, sering sekali melewati jalan berlombang dan perlu ekstra hati-hati melewatinya. Itu keseruan bersepeda melewati jalur baru dan menyapa warga sekitar yang tiba-tiba keluar rumah.

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

45 menit bersepeda sampai juga di Desa Nglingseng, Bantul. Lokasi Desa Nglingseng di atas bukit. Saya berkesimpulan, saat membuka desa ini membelah pegunungan berbatu kapur untuk membangun rumah. Jarang sekali dilewati mobil, kendaraan bermotor sering sekali lewat terlihat tidak memakai helm itu pasti warga sekitar.

Masuk Desa Nglingseng teman-teman sepeda banyak yang mencari tempat istirahat, cuaca saat itu lumayan terik dan tidak ada pepohonan yang bisa menjadi tempat berteduh. Kebetulan saya di depan bersama Tendi Agus Suryantoro dari Ente Jogja yang menjadi guide sampai Curug Lepo.

Kami di depan menyelesaikan tanjakan Desa Nglingseng lalu mengambil foto-foto khas menaklukkan tanjakan masing-masing goweser. Ada yang kuat nanjak sampai atas, ada juga yang menuntun dari bawah sampai atas. Itu keseruan di medan tanjakan, ada yang raut mukanya berkeringat dan ngos-ngosan.

Di Desa Nglingseng ini rombongan sepeda terbagi menjadi 2, ada yang kuat nanjak melanjutkan perjalanan dan kelompok lainnya yang tidak kuat nanjak menunggu di bawah. Kami mengambil keputusan melanjutkan perjalanan sampai bertemu di Curug Lepo Dlingo.

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

Setelah melewati tanjakan Desa Nglingseng ternyata tembusnya hutan pinus Puncak Becici, seandainya lewat jalur utama bisa melewati tanjakan cinomati atau lewat Patuk Gunung Kidul. Istirahat selanjutnya di perempatan Desa Terong, Dlingo tepat di bawah pohon beringin biasa menjadi tempat istirahat pesepeda.

Dari perempatan Desa Terong tidak jauh sekitar 10 kilometer ke selatan. Ini jalur utama jadi relatif aspal mulus, tapi rolling naik – turun sangat menghabiskan tenaga. Tanda sudah mendekati Curug Lepo Dlingo yaitu kantor kecamatan Dlingo di kiri jalan dan sampingnya ada gapura. Masuk saja ke gapura itu, ikuti jalan ada papan KKN bertuliskan arah Curug Lepo.

Berhati-hatilah jika bersepeda menuju jalan tersebut, karena jalan yang sempit dan berliku-liku. Kalau tidak waspada bisa terpeleset masuk ke sawah, hehe.. Masuk ke perkampungan lokasi Curug Lepo sepeda bisa dimasukkan sampai curug. Jalan ke bawahnya berbatu, silahkan mengangkat sepeda sampai Curug Lepo. Kamu bersepeda kemana menghabiskan weekendmu?

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

image: bagusgowes

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s