Berkenalan Dengan Suku Osing, Suku Asli Banyuwangi

Selamat sore Banyuwangi..!!! Saya bersama 7 orang travel blogger yang diundang Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia tiba di Banyuwangi kira-kira Pukul 15:30 WIB. Tertahan tidak bisa terbang di Bandara Juanda Surabaya menuju Bandara Blimbingsari Banyuwangi, karena ada penerbangan VIP dari Bandara Juanda. Sesampai di Bandara Blimbingsari kami dijemput perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi menuju Desa Wisata Kemiren Banyuwangi, tempat tinggal suku asli Banyuwangi yaitu Suku Osing.

Saya dan teman-teman lain dianggap sebagai tamu agung yang datang ke Desa Kemiren Banyuwangi. Sebelum masuk desanya kami disambut oleh perwakilan Suku Osing dengan tari-tarian penyambutan, dipercaya agar hawa roh jahat tidak ada yang masuk ke Desa Kemiren. Tari Barong adalah tarian pembuka sebagai penyambutan kami. Setelah selesai tari-tariannya, kami dipersilahkan masuk untuk mengikuti rombongan Suku Osing masuk ke wilayahnya.

Suku Osing atau biasa diucapkan Suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai “wong Blambangan” dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Setelah masuk di wilayah Desa Kemiren, sudah banyak warga yang berkumpul di halaman untuk melihat pertunjukan tarian selanjutnya yaitu Gandrung Banyuwangi. Kami dikenalkan dengan Pak Sucipto (tetua adat Suku Osing) dan menceritakan sejarah Suku Osing Banyuwangi.

Kalau ngomongin sejarah Suku Osing akan panjang, intinya Suku Osing dulunya adalah pecahan dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke wilayah timur Jawa saat Belanda menyerang. Mereka menyebar di segala penjuru Banyuwangi. Tapi umumnya, Suku Osing menempati wilayah barat. Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan.

Sambil menikmati Tarian Gandrung Banyuwangi, kami disuguhi berbagai macam makanan tradisional yang sudah disiapkan warga Suku Osing spesial menyambut tamu, ada pecel pitik khas Banyuwangi yang isinya nasi bakar ditaburin srundeng, pitik/ayam suwir, lalapan, dll. Makanan lain yang disajikan ada lemper, pisang rebus dan jajanan pasar. Khusus Pecel pitik Banyuwangi ini tidak ada resto yang menjual selain di Desa Kemiren. Rasanya enak dan gurih, saya habis 2 bungkus nasi pitiknya, hahaha.. 😀

Setelah kenyang melahap semua makanan yang disiapkan warga Suku Osing, saya dengan Mas Him (Indonesia Travel) diajak ke rumah warga untuk mencicipi kopi khas Suku Osing yaitu Kopi Jaran Goyang Banyuwangi. Jenis kopinya yaitu robusta, langsung dari perkebunan di wilayah Desa Kemiren. Saya mencoba 1 gelas kopi yang sudah disiapkan warga. Sebelum pulang dari Desa Kemiren, kami diajak masuk ke rumah adat Desa Kemiren yang tidak memakai tembok, masih memakai kayu yang berlapis-lapis.

image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
image: bagus gowes
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s