Inovasi Smart City yang Mengubah Masa Depan

Smart city Indonesia sedang ramai dibicarakan belakangan ini oleh warga maupun pemerintah Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta sudah mulai menginisiasi program smart city dengan berbagai pendekatan dan eksekusi yang juga beragam. Smart city menjadi nilai jual pemimpin daerah karena dapat menjanjikan suatu hal yang baru dan membuat orang bebas berkreasi. Namun, masih banyak yang tidak paham mengenai arti dari smart city itu sendiri.

Dalam konferensi smart city di Bandung Mahfudz Siddiq, Ketua Komisi I DPR RI menjelaskan mengenai esensi dari smart city sebenarnya adalah untuk mengoptimalisasi segala yang tidak terutilisasi dengan baik di kota, untuk mendobrak status quo, dan mencapai kota yang punya performance tinggi dan nyaman ditinggali. Konsep smart city ini mengetengahkan sebuah tatanan kota yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat.

Gambaran inovasi smart city yang mudah sekarang yaitu aplikasi GO-JEK relevan dipakai di kota-kota besar yang banyak penduduk dan mobilitas tinggi. Misalnya kalau di Asia Tenggara yaitu Singapore, atau Amerika di New York dan Los Angeles. Intinya aplikasi semacam GO-JEK membuat inovasi menjadi smart city dan menyelesaikan permasalahan kota, penduduknya bisa lebih produktif.

 

uber indonesia
image: engadget (ilustrasi)

Partisipasi Publik

Kota itu selalu tentang warganya. Inisiatif apapun yang mendorong smart city tidak akan berguna kalau hal itu tidak bisa menarik partisipasi publik. Mau bangun Wi-Fi di semua sudut kota juga percuma kalau tidak melibatkan manusianya, karena infrastruktur hanyalah sistem pendukung.

Solusi smart city yang simpel seperti UBER, Grab dan GO-JEK adalah solusi yang sifatnya open-source & peer-to-peer. Solusi ini sifatnya mandiri, tidak perlu campur tangan pemerintah biar bisa jalan, karena warga sendiri terus menggunakan setelah merasakan manfaatnya. Ini yang dimaksud partisipasi publik.

Khusus di Jogja dan Jakarta solusi yang perlu campur tangan pemerintah contohnya Trans Jakarta/Jogja. Bus Trans Jakarta/Jogja sebaiknya ada jalur tersendiri tidak dicampur dengan kendaraan bermotor lain. Jalan raya di Jakarta sangat cocok dibuat percontohan Trans Jakarta, jalur bus terpisah dengan kendaraan lainnya. Sebentar lagi Jakarta ada mass rapid transit (mrt), fungsi utamanya tetap agar penduduknya menggunakan fasilitas umum dan mengurangi angka kemacetan.

Dukungan infrastruktur sudah ada, pemanfaatan maksimal dengan cara membuatkan aplikasi untuk merasakan infrastrukturnya. Misalnya Trans Jakarta/Jogja dengan sebuah aplikasi bisa mengetahui lokasi bus yang akan kita pakai menuju lokasi tujuan. Dengan aplikasi tersebut kita bisa mengkira-kirakan berapa menit sampai di halte terdekat atau halte yang kita sedang tunggu. Waktu kita lebih maksimal untuk menunggu bus datang.

 

image: cendollast (ilustrasi)
image: cendollast (ilustrasi)

Political Will

Sekarang UBER dan Grab sedang dianggap masalah, tidak cuma di Indonesia, tapi juga di negara-negara berkembang lain. Ya, mungkin UBER beneran punya masalah di perizinan. Atau mungkin negara-negara tersebut sulit untuk menerima inovasi teknologi. Saya rasa alasan sebenernya inovasi-inovasi seperti itu ditentang keras karena ada old powers yang tidak terima.

Perusahaan-perusahaan taksi yang dari dulu mendominasi merasa bisnisnya terganggu oleh UBER? Hanya karena mereka ada duluan, dan (mungkin) sudah banyak bekerjasama pejabat, jadinya punya kekuatan untuk menyulitkan inovasi-inovasi ini.

Itulah kenapa diperlukannya good governance dan political will untuk membangun smart city di Indonesia. Smart city itu kan tentang transformasi alias perubahan. Ya kalau pejabat yang berkuasa masih pakai pendekatan old-fashioned, gak bakal bisa jadi pinter kota kita?

Solusi mudah buat perusahaan taksi yang merasa terganggu dengan UBER dan GRAB seharusnya membuat aplikasi juga semacam itu. Memudahkan masyarakat mengetahui harga perjalanan jika menggunakan jasa taksi tersebut. Persoalan yang dirasa sekarang, Taksi konfensional mematok harga yang mahal dibandingkan UBER dan GRAB.

Solusi kedua, perusahaan Taksi bisa bekerjasama dengan GRAB. Inovasi terbaru dari GRAB untuk menggaet taksi di daerah dengan adanya fitur GrabTaxi. Untuk pembagian harga saya kurang mengetahui, tetapi perusahaan Taksi sangat terbantukan karena tidak perlu membuat sistem dan mengelola SDM lagi untuk membuat aplikasi secanggih UBER dan GRAB.

Sebenarnya masih ada banyak PR yang harus dikerjain untuk mencapai smart city selain hal-hal diatas. Tapi yang utama ya tetap aja, yang harus smart dulu warga kotanya. Mau infrastruktur sekeren apapun tapi kitanya tidak bisa memanfaatkan informasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s