Author Archives: Bagus Abdurrahman Wahid

About Bagus Abdurrahman Wahid

Husband, cyclist and entrepreneur. YouTube, Twitter, Instagram: @bagusgowes

Kereta Api dari Surabaya ke Malang

Besok Minggu (17/9) saya dan Tika akan ke Malang untuk mengunjungi adik yang sedang sekolah menengah pertama di Pondok Pesantren Al Rifa’i Gondanglegi Malang. Mengunjungi adik di Gondanglegi Malang menjadi rutinitas 2 minggu sekali, karena belum merasa nyaman tinggal di pondok pesantren. Biasanya kami sekeluarga: Ayah, Ibu, saya dan Tika menggunakan mobil pribadi ke Gondanglegi Malang, tapi minggu ini Ibu masuk kuliah Sabtu – Minggu dan Ayah bertugas mengantarnya.

Biar jadwal dan bagi tugasnya enak saya dan Tika yang akan berangkat ke Malang menemui adik tanpa Ayah dan Ibu. Saya langsung mengambil pilihan transportasi umum yaitu kereta api, karena nyaman dan tepat waktu. Kereta api dari Surabaya ke Malang banyak pilihannya, mau naik kereta api ekonomi, bisnis dan eksekutif. Jarak Surabaya ke Malang tidak begitu jauh, menggunakan kendaraan pribadi hanya memakan waktu 2 jam dengan kondisi jalan yang normal. Kereta api dari Surabaya ke Malang ada kereta lokal yang hemat dan ekonomis yaitu Kereta Penataran Dhoho dan Kereta Tumapel, kelasnya eknomi dan cukup membayar Rp 12.000.

Semua kereta api lokal tidak bisa beli tiketnya secara online, calon penumpang harus membeli di stasiun terdekat atau stasiun keberangkatan. Hari itu saya langsung menuju Stasiun Wonokromo untuk menanyakan ketersediaan tiket Kereta Penataran Dhoho dan Tumapel. Saya langsung menuju customer service di Stasiun Wonokromo, kebetulan cuma 10 menit bersepeda dari rumah. Sampai di Stasiun Wonokromo customer service yang sekaligus satpam menginfokan tiketnya masih ada tapi tanpa tempat duduk.

Saya dan Tika pernah naik kereta api ekonomi Penataran Dhoho tanpa tempat duduk. Saya kira di beberapa stasiun ada penumpang yang turun dan digantikan penumpang yang tanpa tempat duduk, ternyata rata-rata penumpang turun di Stasiun Malang. Capek dan nyesel membeli tiket kereta api tanpa tempat duduk ini. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bus umum untuk keberangkatan besok Minggu. Bus umum Surabaya ke Malang dan sebaliknya tiap 30 menit selalu ada. Bus umum patas Surabaya ke Malang tarifnya Rp 25.000, cukup murah dengan perjalanan 2 – 2,5 jam. Buat yang ingin mencoba naik kereta api dari Surabaya ke Malang, berikut jadwal keretanya:

Kereta Api Ekonomi:

  1. Kereta Penataran Dhoho. Pukul 04:50, Pukul 07:49, Pukul 11:45. Tarif Rp 12.000,-
  2. Kereta Penataran. Pukul 17:50. Tarif Rp 12.000,-
  3. Kereta Tumapel. Pukul 19:59. Tarif Rp 10.000,-
  4. Kereta Jayabaya. Pukul 00:45. Tarif Rp 35.000,-

Kereta Api Bisnis:

  1. Mutiara Selatan. Pukul 07:20. Tarif Rp 45.000,-

Kereta Api Executive

  1. Bima. Pukul 06:20. Tarif Rp 60.000,-
  2. Mutiara Selatan. Tarif Rp 60.000,-
Advertisements

Wisata Gili Ketapang Probolinggo

Ada yang tahu Wisata Gili Ketapang Probolinggo? Awalnya saya juga tidak tahu lokasi Gili Ketapang, ternyata lokasinya dekat dari Surabaya yaitu Probolinggo. Mencari informasi menuju Probolinggo bisa naik bus umum, kereta api dan kendaraan bermotor. Saya sedikit anti naik bus umum, karena lama dan capai di perjalanan. Alhamdulillah ada kereta api ekonomi Probowangi Surabaya – Probolinggo, cukup membayar Rp 29.000/orang dengan durasi perjalanan 2 jam.

Saya langsung memesan tiket kereta api ekonomi Probowangi untuk pulang pergi bersama istri Atiqoh Hasan. Beruntung, keberangkatan kereta api ekonomi Probowangi bisa berangkat dari Stasiun Wonokromo Surabaya, rumah kami cukup dekat dengan Stasiun Wonokromo dibanding Stasiun Gubeng. Persoalan kedua, jadwal keberangkatan kereta api ekonomi Probowangi sangat pagi 04:35 WIB sampai di Stasiun Probolinggo 06:35 WIB. Setelah sholat subuh, kami langsung tancap gas ke Stasiun Wonokromo.

Pukul 04:20 WIB kami sampai di Stasiun Wonokromo, saya langsung masuk parkiran motor dan Atiqoh menuju komputer check in kereta api untuk print tiket. Tiket kereta api ekonomi Probowangi kami beli lewat Traveloka. Kami langsung ke pintu masuk Stasiun Wonokromo dengan menunjukan kartu tanda penduduk dan tiket kereta api ekonomi Probowangi. Suasana pagi itu cukup ramai orang yang menunggu, mungkin ada kereta api lain selain kereta api ekonomi Probowangi.

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

Perjalanan 2 jam di kereta api ekonomi Probowangi cukup nyaman. Kereta api sekarang sudah dilengkapi air conditioner di setiap gerbong. Kami habiskan dengan membaca buku dan sesekali waktu melihat pemandangan di sepanjang perjalanan. Masih banyak sawah hijau dan sungai yang mengalir. Pagi itu kami belum sarapan, Atiqoh sudah menyiapkan sedikit buah anggur dan kelengkeng untuk teman perjalanan. Sepanjang perjalanan tidak ada petugas yang menawarkan makanan ringan di dalam kereta api.

Akhirnya sampai juga di Probolinggo tepat pukul 06:35 WIB. Kereta api Probowangi yang kami pilih berakhir di Stasiun Banyuwangi Baru, Kota Banyuwangi. Setelah kami turun ada yang melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Kami langsung turun dan keluar dari Stasiun Probolinggo, penasaran dengan kotanya. Ternyata di pagi hari itu ada semacam pasar tumpah di depan Stasiun Probolinggo, bahasa kerennya car free day. Kami jalan-jalan di pasar tumpah sambil mencoba bubur kacang hijau, rasanya enak.

Setelah kenyang menyantap bubur kacang hijau, kami langsung membuka Google Map menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga. Pelabuhan Tanjung Tembaga merupakan jalur utama menuju Gili Ketapang Island. Tidak begitu jauh dari tempat makan bubur kacang hijau tadi ke Pelabuhan Tanjung Tembaga, hanya 1 kilometer dan kami sepakat untuk jalan kaki sambil menikmati Kota Probolinggo. Di perjalanan kami sempat kesasar, salah membaca Google Map. Tapi menemukan hal yang unik yaitu wisuda anak-anak SD yang diarak menggunakan becak.

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

Hari itu Probolinggo cukup panas, baru 08:30 WIB kami jalan kaki ke Pelabuhan Tanjung Tembaga rasanya kaya di padang pasir. Atiqoh sampai cemberut kepanasan dan sesekali berhenti di bawah pohon. Kurang lebih 45 menit kami berjalan kaki dengan pemandangan pantai dan kampung laut yang kotor. Di sepanjang perjalanan masuk komplek pelabuhan banyak warga yang menjemur ikan hasil tangkapan. Buat yang tidak suka berjalan kaki dari Stasiun Probolinggo ke Pelabuhan Tanjung Tembaga bisa menggunakan jasa ojek motor atau becak.

Wisata Gili Ketapang kali ini kami menggunakan jasa paketan Gili Ketapang yang kami dapatkan infonya di Instagram. Cukup membayar Rp 85.000,- sudah termasuk transportasi perahu pulang pergi dari Pelabuhan Tanjung Tembaga – Gili Ketapang Islandsnorkelling termasuk masker, dokumentasi under waterguide wisata lain di Gili Ketapang Island dan makan siang setelah snorkelling. Bayar jasanya di akhir setelah kami puas mendapatkan fasilitas tersebut.

Pukul 09:30 WIB kami dijemput guide dari jasa paketan Gili Ketapang, kami berkomunikasi dengan jasa paketannya menggunakan WhatsApp. Orangnya cukup ramah dan mengingatkan keberangkatan menuju Gili Ketapang. Dari Pelabuhan Tanjung Tembaga ke Gili Ketapang Island membutuhkan waktu 30-45 menit, tergantung angin dan ombak saat itu. Perahu yang kami naiki menggunakan mesin pemotong rumput jadi sedikit lambat.

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

Tips buat yang pertama naik perahu dan mabuk laut, usahakan duduk di tengah jangan duduk di paling depan dan belakang. Pengalaman saya duduk di paling depan, terkena panas matahari dan ombak dari depan. Jika duduk di paling belakang, terdengar mesin perahu yang super berisik dan asap yang mengepul hitam. Sebaiknya duduk di tengah tidak di sebelah pinggir. Saya ambil posisi depan awalnya ingin foto-foto langit dan ombak yang terkena perahu. Ternyata sangat panas dan anginnya kencang.

30 menit perjalanan dengan perahu terlihat dari jauh sudah banyak wisatawan lain yang sedang snorkelling dan bermain pasir. Hari itu sangat ramai wisatawan dan hanya ada 3 titik snorkelling untuk melihat keindahan kedalaman laut Gili Ketapang. Kami langsung diarahkan ke Goa Kucing Gili Ketapang yang lokasinya di paling ujung pulau. Kami turun dari perahu beramai-ramai dengan 20 orang wisatawan lain yang 1 perahu. Selain Goa Kucing ada sumur sakral, tapi saya tidak mau masuk karena tempatnya sempit.

Masyarakat di Gili Ketapang Island mayoritas orang Madura yang merantau dari Pulau Madura, semua beragama Islam. Saya sempat ngobrol dengan salah satu guide yang mengantar kami menunjukan lokasi wisata lain, bahwa Wisata Gili Ketapang Island baru dibuka 3 bulan. Di hari Minggu kurang lebih ada 200-300 orang yang mengunjungi Gili Ketapang Island. Masyarakat sangat terbantu dengan memfasilitasi makanan dan penginapan. Pilihan makanan berat disana tidak bervariasi, hanya ada rujak dan mie instan. Jangan bayangkan ada mini market disana ya!

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

1 jam kami dibiarkan untuk eksplorasi daratan di Gili Ketapang. Setelah itu kami dijemput untuk menuju perahu yang kami tumpangi sesuai keberangkatan, usahakan diingat warna dan model perahunya. Kami pindah ke daratan yang dekat dengan pemukiman warga Gili Ketapang, kami dibiarkan menunggu 30 menit di gazebo bambu tidak ada komando disuruh beraktifitas. Saya mengambil kesimpulan, hari itu spot snorkelling penuh dan peralatannya dipakai semua. Bergantian untuk menikmati snorkelling.

Cukup puas kami menikmati snorkelling di beberapa tempat, sudah lama saya tidak snorkelling dan melihat keindahan bawah laut. Ombak saat itu cukup tenang, saya dan istri explore tempat snorkelling lain yang tidak ramai dengan wisata lain. Pukul 16:00 WIB kami diminta untuk naik ke perahu, karena ombak sudah kencang. Di Gili Ketapang cukup banyak Nemo atau ikan badut yang disebar oleh penduduk. Semoga warga Gili Ketapang bisa menjaga keindahan bawah laut Gili Ketapang, tidak hanya mencari pemasukan dari alamnya saja.

60’s Hostel Singapore

Saat eksplore Singapore pada bulan Maret 2017 saya sempat menginap 1 malam di sebuah hostel yang bernama 60’s Hostel Singapore. Lokasinya di 569 Serangoon Road, Singapore. Kenapa saya memilih 60’s Hostel Singapore? Pertama, murah dan review di Traveloka bagus. Saya dapat harga Rp 135.319,- untuk 1 malam. Kedua, lokasinya dekat stasiun MRT Little India Singapore. Saya janjian dengan teman di sekitaran Little India, jadi mudah untuk bertemu.

Pengalaman pertama saya mencari 60’s Hostel Singapore gampang-gampang susah. Selama di Singapore saya tidak membeli paketan internet, hanya mengandalkan free wifi hotspot Singapore di beberapa tempat seperti Bandara Changi Singapura, Stasiun MRT Singapore dan wifi hostel. Mendarat di Bandara Changi Singapura saya langsung mencari pusat informasi untuk mendapatkan wifi password lalu mengakses WhatsApp dan mendownload peta offline di Google Maps.

image: bagus gowes

Free wifi hotspot Bandara Changi Singapura hanya 30 menit saya prioritaskan yang penting dilakukan untuk mencari informasi di negara Singapura, seperti peta stasiun MRT, pemberhentian MRT yang dekat dengan 60’s Hotel Singapore. Ternyata cukup mudah, karena peta di stasiun MRT ada bahasa Indonesia. Kalau bingung, bisa menanyakan ke petugas yang jaga di setiap pintu masuk/keluar MRT. Petugasnya ramah-ramah, bisa berbahasa Indonesia.

Perjalanan dengan MRT selama 20 menit sampai juga di stasiun MRT Little India. Kalau menurut Google Maps dari stasiun ke 60’s Hostel Singapore hanya 800 meter. Jalan kaki sambil menikmati trotoar di Singapore juga seru. Kebetulan saat saya berkunjung ke Singapore ada gelaran konser akbar yaitu Coldplay Tour Singapore 2017, sering sekali di MRT bertemu dengan orang Indonesia yang akan menonton konsernya.

image: bagus gowes

Saat memesan 60’s Hostel Singapore di Traveloka fotonya tidak begitu kelihatan tampak depannya. Saya bertanya ke masyarakat Singapore dari petugas bersih-bersih jalan dan warung makan, mereka tidak tahu hostelnya. Terakhir saya menanyakan ke pengunjung sebuah restaurant diberi tahu lokasinya. Sampai di lokasi saya kaget, ternyata 60’s Hostel Singapore bentuk bangunannya seperti ruko yang direnovasi dijadikan hostel.

Untuk check-in dan masuk ke dalam hostel dibutuhkan kartu khusus ditempelkan di pintu 60’s Hostel Singapore. Tidak perlu khawatir karena ada petugas yang jaga dan menunggu di dalam/luar 60’s Hostel Singapore, hanya perlu mengetuk pintunya akan dibukakan. Selanjutnya proses check-in sangat mudah, saya hanya menunjukan bukti pemesanan di Traveloka dan memberikan uang deposit $10 nantinya akan dikembalikan saat check-out.

image: bagus gowes

Hostel adalah sharing room dengan pengunjung lain. Saya memesan 60’s Hostel Singapore di Traveloka sudah ada penjelasan kalau sekamar ada 8 kasur dan campur (pria dan wanita). Jangan khawatir, di hostel tidak boleh berhubungan badan, saling menjaga kenyamanan, artinya tidak boleh berisik atau ngobrol keras-keras yang bisa mengganggu pengunjung lain. 60’s Hostel Singapore juga memberikan sarapan gratis, biasanya roti tawar dan teh panas. Kebetulan saya tidak sempat mencobanya, karena jam 7 pagi saya harus check-out agar bisa menikmati Singapore lebih lama.

60’s Hostel Singapore sangat cocok buat backpacker yang hanya menumpang tidur 1 -2 malam di Singapore. Kamar yang diisi 8 kasur tingkat terasa sempit, kerepotan yang saya rasakan saat menaruh tas ransel. Ada backpacker negara lain sedikit egois menaruh tas besarnya di tempat yang asal-asalan. Usahakan minta kasur yang posisinya di bawah, jadi kalau mau keluar masuk kamar mudah. Saya dapat tempat tidur yang di atas, perlu usaha naik – turun tangga kamar tidur.

image: bagus gowes

One Day Trip Semarang

Minggu (23/4) ceritanya one day trip Semarang bersama Atiqoh. Sabtu malam mulai cari-cari kereta yang waktunya pas dari Surabaya ke Semarang, menemukan kereta api Maharani ekonomi ac. Berangkat dari Stasiun Surabaya Pasar Turi 06:00 WIB, sampai di Stasiun Semarang Poncol 10:41 WIB dengan durasi perjalanan 4 jam 41 menit. Dibandingkan dengan naik bus umum, kereta lebih cepat dan tentunya cukup murah hanya Rp 49.000 per orang. Saya pesan kereta api Maharani untuk keberangkatan ke Semarang dan pulangnya memilih kereta api Jayabaya Rp 100.000 per orang keberangkatan 19:41 WIB.

Minggu pagi setelah sholat subuh berjamaah di masjid, kami langsung bergegas berangkat menuju stasiun Surabaya Pasar Turi. Rumah kami di Jagir, Wonocolo yang masuk Surabaya Selatan dan lokasi stasiun Surabaya Pasar Turi ada di Surabaya Utara, kalau menurut Google Maps hanya 7,2 km tapi perjalanan menuju kesana banyak sekali traffic light. Alhamdulillah perjalanan naik motor selama 30 menit tidak terburu-buru, kami masih bisa beli camilan untuk makan di kereta api.

Tepat pukul 06:00 WIB kereta api Maharani sudah ada di jalurnya dan langsung berangkat. Hari itu kereta api Maharani sangat ramai, mungkin karena Senin ada libur nasional Isra Mi’raj. Selain itu ada rombongan atlit tenis atau bulutangkis SMP dan SMA yang akan berkompetisi di Semarang. Di gerbong kereta api Maharani yang saya naiki penuh dengan anak-anak atlit yang didampingi gurunya. Tas yang mereka bawa besar-besar, ada yang membawa bantal, koper dan boneka.

Pukul 10:45 kereta api Maharani sampai di Stasiun Poncol Semarang. Kami turun di Stasiun Poncol Semarang untuk lanjut jelajahi wisata Semarang. Menurut info teman, Stasiun Poncol Semarang dengan dengan kota lama Semarang tempo dulu. Saya langsung cek Google Maps hanya 500 meter, saya dan istri sepakat untuk berjalan kaki menuju kota lama Semarang. Kalau yang tidak suka jalan kaki, banyak ojek offline dan online yang sudah menunggu di pintu keluar Stasiun Poncol Semarang.

15 menit jalan kaki sampai di kota lama Semarang tempo dulu, disana banyak bangunan khas tempo dulu seperti Gereja Blenduk dan bangunan lain yang menjadi saksi biksu pusat perdagangan di Semarang. Banyak bangunan di kota lama Semarang yang tidak terawat dan terlihat banyak sampah. Kenapa pemerintah kota Semarang atau Gubernur Jawa Tengah tidak membersihkan semua sampah tersebut? Menjadikan kota lama Semarang, wilayah wisata yang bagus dikelola lagi. Ironi dengan bangunan tempo dulu tersebut.

Setelah selesai jelajahi kota lama Semarang tempo dulu kurang lebih 1 jam. Kami beristirahat di Taman Srigunting yang lokasinya bersebelahan dengan Gereja Blenduk. Gereja Blenduk masih dipakai ibadah sampai sekarang. Hari itu banyak wisatawan yang sekaligus ingin beribadah di Gereja Blenduk, sangat ramai sekali di halaman parkir yang ingin berfoto di depan gerejanya. Setelah beristirahat di Taman Srigunting kurang lebih 15 menit, kami putuskan untuk sholat dhuhur di Masjid Agung Semarang yang menjadi ikon masjid Jawa Tengah.

image: bagus gowes

Kami beruntung hari itu UBER baru membuka jasanya di Semarang, dengan memasukkan voucher UBERXSEMARANG gratis memakai jasa UBER selama 5x dengan biaya maksimal Rp 25.000. Kami coba memakai UBER dari Taman Srigunting ke Masjid Agung Semarang, sampai tujuan tertulis Rp 0. Lumayan hemat one day trip Semarang kali ini, dibantu UBER dengan fasilitas gratisnya. Tidak perlu repot menyewa atau meminjam motor selama di Semarang.

Namanya juga one day trip, kami puaskan seharian keliling wisata Semarang sampai waktu kereta pulang ke Surabaya. Sholat dhuhur di Masjid Agung Semarang sampai pukul 14:00 WIB, tiba-tiba cuaca berubah gelap dan hujan yang cukup deras. Rencana kami setelah dari Masjid Agung Semarang menuju Sam Poo Kong Semarang yang kegiatannya di luar ruangan. Menunggu 30 menit sambil makan tahu campur, hujannya reda kami menuju Sam Poo Kong dengan UBER.

Lokasi Sam Poo Kong di tengah kota Semarang, sedikit macet karena driver melewati tengah kota Semarang. Akhirnya sampai juga di Sam Poo Kong yang penuh dengan parkiran bus dan mobil pribadi. Untuk masuk Sam Poo Kong membayar tiket Rp 10.000 untuk umum dan gratis yang ingin beribadah dengan menunjukan KTP. Di dalam Sam Poo Kong sangat ramai orang yang ingin berfoto di tiap-tiap kuil dan ada pertunjukan barongsai untuk menarik pengunjung.

Setelah selesai jalan-jalan keliling Sam Poo Kong, kami putuskan melanjutkan ke tempat wisata selanjutnya yaitu Vihara Buddhagaya Watugong Semarang dan tentunya pakai UBER. Lokasi viharanya jauh dari kota Semarang, ke arah Banyumanik, Ungaran. Salah satu vihara yang wajib dikunjungi, karena tempatnya sepi dan tenang jika ingin beribadah. Saya hanya melihat-lihat bangunannya, ada patung Budha tidur seperti di Thailand. Tidak perlu membayar untuk masuk ke Vihara Buddhagaya Watugong Semarang.

Tujuan terakhir kami yaitu Lawang Sewu Semarang dan Simpang Lima Semarang. Awalnya kami psimis untuk menuju Lawang Sewu Semarang, karena jalur yang lewati sangat macet berada di tengah kota Semarang. Alhamdulillah di luar rencana, jalurnya cukup lenggang dan kami sampai di Lawang Sewu Semarang. Masuk Lawang Sewu Semarang cukup membayar Rp 20.000 per orang, wisatanya buka sampai pukul 20:00 WIB.

Kalau dilihat dari bangunan dan cerita sejarah yang ada di dalam Lawang Sewu Semarang, dulunya adalah kantor stasiun kereta api di jaman Belanda. Lawang Sewu yang artinya pintu seribu memang benar bangunan tersebut desainnya memiliki pintu yang banyak, antar bangunan dihubungkan dengan pintu kayu. Beberapa bangunan ada yang ditutup, tidak boleh pengunjung masuk. Waktu itu menuju lantai 2, ada tanda tidak diperbolehkan pengunjung masuk. Kesan horor dan mistis itu pasti, karena bangunan lama dan memiliki 3 atau 4 lantai saya lupa-lupa ingat.

Badan dan kaki sudah lelah untuk melanjutkan kuliner di Simpang Lima Semarang. Kami putuskan untuk pulang dan menuju Stasiun Poncol Semarang dan mencari makan malam di sekitaran stasiun. One day trip Semarang cukup sukses banyak wisata yang bisa dikunjungi dalam 1 hari. Kami masih kepikiran, apa pulangnya besok saja ya? Mengistirahatkan badan di hotel Semarang dan pulangnya besok paginya? Tapi tiket kereta sudah terbeli. Istirahat di kereta saja, semoga nyaman selama perjalanan.

Kereta Api Penataran Dhoho

Minggu (9/4) saya bersama Atiqoh jalan-jalan ke Malang, rencana itu spontan karena ingin menikmati wisata yang berbeda. Tujuan wisatanya bukan ke Kota Malang, tapi kota terdekat dari wisata tersebut harus menuju Malang. Saya dan Atiqoh ingin mengunjungi Coban Nirwana yang lokasinya 20 km dari Kota Malang, tepatnya di wilayah Gedangan, Malang Selatan.

Karena Atiqoh besar di Malang, tahu ada 3 alternatif menuju Malang yaitu motor, kereta api dan bus patas. Naik kendaraan bermotor boncengan dari Surabaya ke Malang cukup jauh 94,5 km, di jalan terasa capai dan lelah tidak ada kepastian jam berapa sampai Malang. Naik bus patas juga tidak tahu sampai jam berapa sampai Malang, estimasi 2,5 jam. Pilihan terakhir naik kereta api dari Stasiun Wonokromo yang paling pagi yaitu Kereta Api Penataran Dhoho.

image: bagus gowes

Pukul 04:41 Kereta Api Penataran Dhoho tiba di Stasiun Wonokromo. Rumah kami dekat dengan stasiun, setelah sholat subuh 4:30 kami menaiki motor menuju Satsiun Wonokromo. Alhamdulillah sampai di stasiun dan masih ada tiket Kereta Api Penataran Dhoho. Harga tiket Kereta Api Penataran Dhoho dari Stasiun Wonokromo ke Stasiun Malang sangat murah cuma Rp 12.000. Pembelian tiket kereta apinya hanya ada di loket dan bisa dibeli 1 minggu sebelum pemberangkatan.

Kekecewaan saya setelah membeli tiket Kereta Api Penataran Dhoho, PT. Kereta Api Indonesia di tahun 2017 masih menjual tiket kereta tanpa tempat duduk. Dengan sistem kereta api Indonesia yang sudah online, mungkin dibatasi penumpang kereta api ekonomi. Jika sudah penuh kursinya, sebaiknya tidak menjual tiket kereta apinya lagi. 2 jam berdiri dengan penumpang lain di dalam kereta api sampai Malang sangat membosankan dan sangat capai.

image: bagus gowes

Jika Surabaya – Malang sama dengan Yogyakarta – Solo yang hanya menempuh waktu 1 jam dan keretanya bersih tidak masalah. Kereta Api Penataran Dhoho termasuk ekonomi yang sempit untuk berdiri tidak nyaman sekali berdiri selama 2 jam. Saya kecewa dengan PT. Kereta Api Indonesia khususnya di Kereta Api Penataran Dhoho ini. Jika ingin ke Malang lagi dengan kereta yang sama akan membeli tiket keretanya 1 minggu sebelum pemberangkatan.

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

Gowes ke Air Terjun Gedad

Saya sudah lama tidak gowes bersama teman-teman komunitas sepeda, karena rute dan tempatnya sudah pernah dikunjungi. Februari di Jogja masih sering hujan, buat yang suka bersepeda mencari air terjun dan curug di wilayah Bantul dan Kulon Progo sangat cocok untuk bermain air. Air terjun dan curug di wilayah Bantul bagus dikunjungi saat musim hujan, rata-rata aliran air yang turun dari sungai yang posisinya tinggi.

Kemarin ada ajakan dari komunitas sepeda Jogja yaitu Ente Jogja bersepeda ke air terjun gedad. Nama air terjun gedad belum pernah dengar, saya coba mencari di internet masih sangat sedikit referensi yang mengarahkan rute menuju air terjun gedad. Mumpung masih di Jogja dan ada komunitas yang membuat trip tersebut kenapa tidak bergabung.

Pengumuman ajakan gowes ke air terjun gedad di Facebook Ente Jogja. Seorang teman yang bernama Dwi Elnino memposting di Ente Jogja dengan redaksi “Gowes Air Terjun Gedad ben podo kancane, Tikum Puskesmas Imogiri 1 ditunggu sampai jam 06.30. Jangan lupa bawa celana ganti kalau mau ciblon”. Selain postingan itu ada foto air terjun gedad yang terlihat arusnya sangat deras. Sepertinya menarik untuk dikunjungi.

Kebiasaan saya jika paginya memiliki agenda gowes akan tidur cepat sebelum pukul 21:00 dan bangun biasanya pukul 04:30. Pagi itu saya bangun sesuai waktu, lalu dilanjutkan sholat subuh dan mengisi botol minum sepeda dengan air putih. Cuaca pagi itu di rumah saya sedikit mendung dan tersisa air bekas hujan semalam. Sejenak melihat aplikasi cuaca di smartphone menunjukan cerah, saya mantab untuk melanjutkan persiapan bersepeda.

Semua barang sudah disiapkan seperti botol minum sepeda, sarung, headset, dll. dimasukkan ke dalam tas pannier sepeda Eiger. Saya mengambil kesimpulan, biasanya jika gowes bersama komunitas sedikit lama karena menunggu teman-teman yang lain dan saya tidak tahu jalan menuju air terjun gedad persiapan sarung untuk sholat dhuhur. Saya pelan-pelan mengayuh sepeda ke arah Imogiri yang lokasinya di selatan.

Saya gowes menuju selatan dengan langit yang gelap, rintik-rintik hujan juga terus membasahi badan dan sepeda. Dalam hati saya berdoa semoga tidak hujan deras sampai Puskesmas Imogiri 1 Bantul, sampai depan Hotel Ros In Jogja ternyata hujan deras, akhirnya saya mencari tempat berteduh di samping hotel tersebut. Alhamdulillah menunggu 5 menit, hujan sudah berhenti dan saya melanjutkan perjalanan menuju Puskesmas Imogiri 1 Bantul.

Pukul 19:00 saya sampai Puskesmas Imogiri 1 Bantul sudah banyak teman-teman Ente Jogja yang mengobrol dan menunggu teman gowes lainnya. Tradisi bertemu dengan teman sepeda bersalaman dengan lainnya, sekitar 10 orang saya menyalami teman-teman. 20 menit menunggu di Puskesmas Imogiri 1 Bantul tidak ada tambahan teman lain yang datang. Kami putuskan untuk berangkat menuju air terjun gedad.

Nikmatnya bersepeda di hari minggu, bertemu dengan komunitas sepeda lain menuju lokasi yang sama. Di jalan yang tujuannya air terjun gedad kami bertemu dengan komunitas sepeda kolaborasi yang isinya pesepeda berumur (diatas 50 tahun), lebih seru untuk bersepeda bersama. Sepanjang perjalanan kami berkomunikasi dengan teman-teman pesepeda lainnya. Jangan anggap remeh pesepeda senior, mereka kuat melahap tanjakan panggang!

Tidak begitu jauh bersepeda ke air terjun gedad di Playen, Gunung Kidul, saya mengaktifkan Garmin untuk mengetahui jarak dan waktu tempuh. Dari rumah Ngadinegaran sampai air terjun gedad sejauh 35 kilometer dengan rute yang cukup menguras keringat. Saya kira air terjun gedad lokasinya di Bantul ternyata di daerah Playen, Gunung Kidul. Jika ditarik arus airnya, sama dengan air terjun sri gethuk yang berada di sisi utara air terjun gedad.

Rute yang mudah dan cepat menuju air terjun gedad dari Jogja yaitu Jogja – Imogiri Barat/Imogiri Timur – Siluk Bantul – Panggang Bantul terus saja sampai bertemu arah SPN Selopamioro Imogiri Bantul. Sampai bertemu papan SPN Selopamioro Imogiri Bantul jangan belok ke SPN-nya terus saja sampai bertemu perempatan yang mengarah Wisata Watu Alam Panggang, belok saja ke kiri dan ikuti jalan sampai bertemu wisata tersebut. Dari Wisata Watu Alam Panggang lanjut saja mengikuti jalan sampai di kiri jalan ada banner bertuliskan Air Terjun Gedad.

Alternatif rute lain menuju air terjun gedad dari arah Wonosari bisa mengambil rute wilayah Gading, Playen, Gunung Kidul yang arahnya sama dengan air terjun sri gethuk. Lokasi air terjun gedad masuk ke dalam kampung, tidak disarankan untuk membawa kendaraan besar seperti bus. Untuk mobil rata-rata juga parkir di jalan utama, karena jalannya sempit dan berbatu. Cukup menarik air terjun gedad, menambah wisata baru di Gunung Kidul.

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes

Gowes ke Plunyon Kali Kuning Yogyakarta

Agenda gowes Minggu (22/1) awalnya bike camping ke Plunyon Kali Kuning Yogyakarta ajakan teman gowes Supriyadi Plat AB  tapi karena cuaca saya hanya bersepeda tidak mengikuti camping hingga sore hari. Minggu pagi saya datang terlambat untuk kumpul di parkiran Monumen Jogja Kembali, seharusnya jam 06:00 WIB tapi saya datang 06:30 WIB. Ditengah perjalanan menuju Monumen Jogja Kembali saya dihubungi Eskawan Azis, dia mengalami kecelakaan serempetan dengan motor.

Langsung saya gowes sedikit cepat untuk menuju lokasi kecelakaan Azis, katanya dekat dengan perempatan Monumen Jogja Kembali. 10 menit bertemu dengan Azis menceritakan kejadiannya, siku kanan tangannya lecet jatuh kena aspal. Luka dicuci dengan air sambil membetulkan handle bar yang mirip dan bar end yang patah. Kami lanjutkan bersepeda menuju parkiran Monumen Jogja Kembali, mungkin Azis tidak fokus saat bersepeda.

Biasanya rombongan gowes agak telat-telatan untuk berangkat, saya dan Azis menunggu di Parkiran Monumen Jogja Kembali sampai pukul 07:00 WIB tidak ada goweser yang lewat untuk berkumpul di parkiran. Akhirnya kami putuskan untuk menuju Plunyon Kali Kuning pelan-pelan melewati jalan desa sampai Warung Ijo Pakem. Sepanjang jalan kami bercerita macam-macam dan sepakat untuk berhenti di Warung Ijo Pakem untuk sarapan.

Rute yang kami lewati menuju Warung Ijo Pakem campuran antara aspal dan tanah sawah, kebetulan sepeda yang kami pakai support untuk jalan offroad. Dari Monumen Jogja Kembali – Desa Rejodani Sleman – Warung Ijo Pakem, cukup seru rutenya hampir 80% melewati desa dengan sawah yang hijau. Bertemu warga yang sedang kerja bakti di desanya, kami turun dari sepeda untuk menghormati dan menyapa untuk numpang lewat, hehe..

Pukul 08:30 WIB kami sampai di Warung Ijo Pakem, karena hari Minggu masih banyak pesepeda yang berkumpul di sekitaran warung. Saya bertemu teman-teman sepeda dari lintas komunitas seperti MTB Federal Jogja, Keong Gowes Roadbike, Jogja Gowes, dll. Saya langsung masuk Warung Ijo untuk mengambil nasi dengan menu khasnya Brongkos dan telur balado. Cukup ekonomis, Nasi Brongkos + Telur Balado + Bakwan = Rp 8.000,-

30 menit menyantap makanan tersebut. Saya dan Azis bersiap-siap menuju Plunyon Kali Kuning, kebetulan ada teman lain RD Syarani dan Andi Mardianto tapi tidak ingin ikut kesana. Sebelumnya saya sudah pernah ke Plunyon Kali Kuning bersama komunitas sepeda Ente Jogja, tapi lupa-lupa ingat. Kami pelan-pelan menuju arah Kaliurang, melewati perkampungan yang masih sepi. Jika melewati jalan utama banyak kendaraan bermotor.

Plunyon Kali Kuning sebelum erupsi Gunung Merapi 2010 adalah camping ground yang dikelola Pemerintah Kabupaten Sleman. Setelah erupsi tersebut tempat ini tidak dijadikan apa-apa, masih ada spot yang bisa dijadikan tempat camping dan aliran sungai masih ada sampai sekarang. Setiap orang datang ke Plunyon Kali Kuning untuk menikmati suasana alam disana. Tenang, sepi dan udara yang bersih bisa dinikmati di Plunyon Kali Kuning.

Jalan paling mudah dari Kota Jogja menuju Plunyon Kali Kuning yaitu melewati Jalan Kaliurang terus ke utara sampai ketemu Pasar Pakem. Kalau sudah bertemu Pasar Pakem sebentar lagi ketemu belokan ke timur arah Cangkringan. Tanda paling mudah di timur jalan ada papan Jeep Offroad Merapi itu belok ke kanan/timur, ikuti jalan saja sampai loket tiket Merapi. Banyak sekali mobil jeep di sepanjang jalan, berhati-hatilah jika bersepeda menuju sana. Jika naik sepeda tidak dimintai uang tiket loket.

Setelah melewati loket tiket masih terus ke utara dengan rute yang cukup menanjak, hehe.. Sampai bertemu pertigaan yang ada pohon beringinnya belok ke kiri ikuti jalan aspal saja nanti ada tanda arah Plunyon. Cukup mudah, jika kesulitan untuk menemukan banyak warga yang mengarahkan. Itu gowes saya minggu kemarin dengan rute uphill. Bagaimana rutemu?

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes