Arsip Penulis: Bagus Abdurrahman Wahid

Tentang Bagus Abdurrahman Wahid

Husband, cyclist and traveler. Co-founder of goowes.co

Kereta Api dari Surabaya ke Malang

Besok Minggu (17/9) saya dan Tika akan ke Malang untuk mengunjungi adik yang sedang sekolah menengah pertama di Pondok Pesantren Al Rifa’i Gondanglegi Malang. Mengunjungi adik di Gondanglegi Malang menjadi rutinitas 2 minggu sekali, karena belum merasa nyaman tinggal di pondok pesantren. Biasanya kami sekeluarga: Ayah, Ibu, saya dan Tika menggunakan mobil pribadi ke Gondanglegi Malang, tapi minggu ini Ibu masuk kuliah Sabtu – Minggu dan Ayah bertugas mengantarnya.

Biar jadwal dan bagi tugasnya enak saya dan Tika yang akan berangkat ke Malang menemui adik tanpa Ayah dan Ibu. Saya langsung mengambil pilihan transportasi umum yaitu kereta api, karena nyaman dan tepat waktu. Kereta api dari Surabaya ke Malang banyak pilihannya, mau naik kereta api ekonomi, bisnis dan eksekutif. Jarak Surabaya ke Malang tidak begitu jauh, menggunakan kendaraan pribadi hanya memakan waktu 2 jam dengan kondisi jalan yang normal. Kereta api dari Surabaya ke Malang ada kereta lokal yang hemat dan ekonomis yaitu Kereta Penataran Dhoho dan Kereta Tumapel, kelasnya eknomi dan cukup membayar Rp 12.000.

Semua kereta api lokal tidak bisa beli tiketnya secara online, calon penumpang harus membeli di stasiun terdekat atau stasiun keberangkatan. Hari itu saya langsung menuju Stasiun Wonokromo untuk menanyakan ketersediaan tiket Kereta Penataran Dhoho dan Tumapel. Saya langsung menuju customer service di Stasiun Wonokromo, kebetulan cuma 10 menit bersepeda dari rumah. Sampai di Stasiun Wonokromo customer service yang sekaligus satpam menginfokan tiketnya masih ada tapi tanpa tempat duduk.

Saya dan Tika pernah naik kereta api ekonomi Penataran Dhoho tanpa tempat duduk. Saya kira di beberapa stasiun ada penumpang yang turun dan digantikan penumpang yang tanpa tempat duduk, ternyata rata-rata penumpang turun di Stasiun Malang. Capek dan nyesel membeli tiket kereta api tanpa tempat duduk ini. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bus umum untuk keberangkatan besok Minggu. Bus umum Surabaya ke Malang dan sebaliknya tiap 30 menit selalu ada. Bus umum patas Surabaya ke Malang tarifnya Rp 25.000, cukup murah dengan perjalanan 2 – 2,5 jam. Buat yang ingin mencoba naik kereta api dari Surabaya ke Malang, berikut jadwal keretanya:

Kereta Api Ekonomi:

  1. Kereta Penataran Dhoho. Pukul 04:50, Pukul 07:49, Pukul 11:45. Tarif Rp 12.000,-
  2. Kereta Penataran. Pukul 17:50. Tarif Rp 12.000,-
  3. Kereta Tumapel. Pukul 19:59. Tarif Rp 10.000,-
  4. Kereta Jayabaya. Pukul 00:45. Tarif Rp 35.000,-

Kereta Api Bisnis:

  1. Mutiara Selatan. Pukul 07:20. Tarif Rp 45.000,-

Kereta Api Executive

  1. Bima. Pukul 06:20. Tarif Rp 60.000,-
  2. Mutiara Selatan. Tarif Rp 60.000,-
Iklan

Review Film Battleship Island

Gaung film The Battleship Island sebagai calon box office tak hanya di Korea Selatan sebagai negara asalnya, tapi juga di dunia, sudah terdengar sejak beberapa bulan sebelum film ini dirilis resmi.

Saya termasuk salah satunya yang turut menyimak antusiasme penggemar sinema Korea Selatan akan hadirnya film ini. Selain promo besar-besaran, faktor aktor dan aktris pemeran di film ini tentu jadi salah satu yang mempengaruhi opini yang berkembang soal The Battleship Island sebelum filmnya dirilis.

Bagaimana tidak, film ini menyuguhkan beberapa nama besar perfilman Korea Selatan. Ada Hwang Jung-Min, aktor kawakan yang terkenal dengan kemampuan aktingnya yang mumpuni di beberapa judul film seperti Veteran, A Violent Prosecutor, The Wailing dan Ode to My Father.

So Ji-Sub, aktor sekaligus penyanyi yang juga dikenal dengan beberapa karyanya di serial K-drama seperti Oh My Venus dan I Am Ghost. Ada juga aktris Lee Jung-Hyun dan Kim Su-An, aktris cilik yang dikenal dengan akting brilian di Train to Busan. Dan tentu saja, Song Joong-Ki yang populer lewat serial Descendants of the Sun.

Mungkin karena deretan nama pemeran yang memang masing-masing memiliki basis penggemar yang besar (terutama Song Joong-Ki), tak heran jika film ini meraih jumlah penonton sebanyak 5 juta orang dalam waktu seminggu tayang di Korea Selatan Juli silam.

Film ini disutradarai oleh Ryoo Seung-Wan yang sebelumnya sukses menggarap beragam film action, salah satunya Veteran. Seung-Wan juga pernah bekerja sama dengan Jung-Min di film The Unjust, The Berlin File dan Veteran.

Penuh adegan action

Film ini berkisah tentang masa akhir Perang Dunia II di mana Korea masih jadi area jajahan Jepang. Sebanyak 400 warga asal Korea dipaksa menaiki kapal dan bekerja di sebuah pertambangan di Pulau Hashima yang lokasinya tak jauh dari Nagasaki, Jepang. Para pria bekerja di tambang, sementara yang wanita jadi penghibur atau pekerja rumah tangga.

Di antara beberapa warga Korea tersebut ada beberapa karakter utama yang kisahnya dimunculkan antara lain Lee Kang-Ok (Hwang Jung-Min) dan putrinya Lee So-Hee (Kim Su-An) yang bekerja dalam sebuah band musik.

Saat dibawa paksa ke Hashima, Kang-Ok dan So-Hee bertemu dengan sosok kepala preman Choi Chil-Sung (So Ji-Sub) yang akhirnya ditunjuk sebagai pimpinan warga dan pekerja Korea di Hashima dan kemudian bertemu pula dengan Park Moo-Young (Song Joong-Ki), tentara gerakan kemerdekan Korea yang menyamar sebagai pekerja demi membebaskan salah satu tokoh kemerdekaan yang dipaksa bekerja di Hashima.

Di Hashima juga ada seorang wanita bernama Oh Mal-Nyeon (Lee Jung-Hyun) yang jadi penjaga dan sahabat So-Hee. Mal-Nyeon bekerja di rumah bordil sebagai wanita penghibur.

Konflik berkembang saat mereka harus bertahan hidup tapi juga sekaligus mencari cara untuk melarikan diri dari kepungan tembok dan penjagaan yang ketat dari tentara Jepang.

Moo-Young mulai merekrut mereka yang pro dengan kemerdekaan dan berusaha mencari cara untuk melarikan diri. Sementara Kang-Ok hanya tahu bersilat lidah dan bermain musik demi bertahan hidup bersama So-Hee putrinya. Sementara Chil-Sung mulai mengukuhkan diri sebagai pemimpin warga Korea di Hashima.

Tapi harus diakui, Seung-Wan sukses mengemas teknik action yang baik di film ini. Bahkan beberapa terlalu sadis untuk disaksikan. Tapi salah satu kekuatan film ini adalah di adegan action-nya. Beberapa perkelahian tangan kosong hingga pertempuran dengan senjata terlihat nyaris sempurna.

Salah satu adegan action terbaik menurut saya adalah saat Chil-Sung menghabisi lawannya dengan cara merobek rahangnya dengan tangan kosong. Ada pula adegan saat (lagi-lagi) Chil-Sung bertarung dengan lawan yang sama untuk memperebutkan posisi pimpinan warga Korea di Hashima yang berlangsung di tempat pemandian. Sukses membuat tercengang.

Terlalu banyak plot

Berbeda dengan suguhan action yang menarik, jujur saja, sulit berkonsetrasi pada satu plot cerita saat menikmati film ini saking banyaknya plot yang disajikan. Tampaknya Seung-Wan sang sutradara terlalu asyik mengeksplor berbagai plot.

Setiap karakter utama memiliki plot mereka masing-masing. Tapi di luar itu, masih banyak plot-plot lain yang tiba-tiba muncul yang terkesan dipaksakan. Sulit untuk fokus hanya di satu cerita saja.

Hasilnya, sedikit berantakan. Banyaknya karakter dan plot tambahan yang bergerak dengan kisah mereka masing-masing membuat bingung. Penonton seperti tidak diizinkan untuk jeda sejenak dan menarik napas karena dialog yang bertubi-tubi hadir dari segala penjuru. Belum lagi tambahan sound yang megah dan pergerakan kamera yang cukup heboh.

Seandainya saja alurnya dibuat sedikit lebih sederhana dan tajam, penonton pasti bisa lebih menikmati kemegahan dan detail-detail terbaik dari film kolosal ini.

Akting terbaik

Dari sekian banyak ragam plot dan karakter, ada dua yang mencuri perhatian saya. Jika banyak orang berharap melihat Song Joong-Ki bersinar di film ini, saya justru lebih tertarik dengan akting yang ditunjukkan oleh duet Hwang Jung-Min dan Kim Su-An.

Akting aktor dan aktris yang berperan sebagai ayah dan anak ini benar-benar menguras emosi saya. Mereka dengan baik menggambarkan situasi genting, kisruh, bahagia bahkan sedih dengan akting yang nyaris sempurna. Su-An, di usianya yang masih 11 tahun bisa membuktikan bahwa ia calon aktris terbaik Korea. Aktingnya jauh dari mengecewakan, terutama ekspresinya saat adegan penutup yang membuat saya merinding hingga saat ini.

Serupa dengan duet Hwang Jung-Min dan Kim Su-An, So Ji-Sub juga menunjukkan performa akting terbaiknya. Terutama saat tampil di adegan action. Dari mata, gerak tubuh dan dialog, terlihat jelas totalitas Ji-sub di sini. Puncaknya saat ia memutuskan untuk membela saudara-saudara Korea-nya di pertarungan akhir. Meski tetap, Kim Su-An adalah bintang sesungguhnya di film ini.

Adegan peperangan di akhir film pun cukup menarik untuk disaksikan. Adegan penutup ini seakan membalas adegan-adegan sebelumnya yang “biasa saja”. Klimaks film ini benar-benar terjadi di bagian akhir di mana semua karakter dan plot bersatu dan terlibat.

Kemampuan Seung-Wan memadukan koreografi peperangan dengan teknik pengambilan gambar di set yang megah benar-benar terlihat di penghujung film. Setidaknya, rasa bosan yang sempat melanda di pertengahan film yang berdurasi 132 menit ini bisa terobati di bagian akhir.

Film The Battleship Island bisa dinikmati di layar bioskop CGV mulai 16 Agustus mendatang. Film ini juga diputar di layar Screen X yang memungkinkan penonton menikmati tampilan panorama dari kiri, depan dan kanan gedung teater untuk pengalaman menonton yang lebih menakjubkan.

Rujak Tolet Surabaya

Sejak pindah Surabaya saya banyak menyerap istilah atau penamaan kosakata baru, contohnya rujak tolet. Kalau di Cilacap dan Jogja, rujak identik dengan buah-buahan yang dipotong dan dikasih sambal pedas. Di Surabaya diberi nama rujak tolet. Surabaya terkenal dengan bermacam-macam rujak, seperti rujak cingur, rujak petis, rujak soto, dan lain-lain.

Saya tidak membahas perbedaan masing-masing rujak tersebut. Bulan Agustus ini saya suka membelikan rujak tolet untuk istri yang sedang ngidam di trimester kedua. Rujak tolet langganan istri di SD Khadijah Surabaya yang dekat dengan Stasiun Wonokromo. Sejak SD sampai SMP Istri bersekolah di Khadijah, sering jajan di warung tersebut. Istri suka pedas, tiap saya membelikan rujak tolet selalu berpesan yang pedas, timun dan nanasnya sedikit saja.

Ukuran pedas rujak tolet bagi istri memakai cabai 5-6 potong. Buat yang belum tahu dengan rujak tolet saya jelaskan isi di dalamnya. Potongan buah yang dipakai yaitu mangga, pepaya, timun, nanas, melon. Selain buah tersebut ada potongan tahu goreng, bumbu yang dipakai adalah petis yang ditambah dengan cabai. Warna hitam yang terlihat di bumbunya adalah petis.

Review Film Dunkirk

Setelah film Interstellar (2014) yang mendapat sambutan positif dari kritikus film, Christopher Nolan kembali menghadirkan sebuah masterpiece berjudul Dunkirk. Film ini merupakan film pertama Nolan yang diadaptasi dari kisah nyata. Berdurasi 107 menit, Dunkirk pun resmi menjadi film dengan durasi terpendek kedua yang pernah dibuat oleh sineas asal Inggris ini. Meski berdurasi pendek bukan berarti ia tidak menjanjikan karya yang epik lewat filmnya kali ini.

Mengambil setting di masa Perang Dunia II, Dunkirk berkisah tentang aksi penyelamatan 330 ribu tentara Sekutu yang berasal dari 4 negara berbeda yaitu Inggris, Perancis, Belgia, dan Belanda. Tentara-tentara ini tersudut dan terdampar di sebuah pantai yang terletak di kawasan Dunkirk, Perancis. Uniknya, Christopher Nolan membawa kisah Dunkirk dengan gaya penceritaan yang berbeda.

Dunkirk dikisahkan dari 3 sudut pandang berbeda yaitu dari The Mole atau tanggul, The Sea atau pantai, dan The Airatau udara. Ketiga bagian ini mengambil waktu yang berbeda satu sama lain, namun akan terhubung menjadi satu cerita utuh di bagian akhirnya. Penonton pun diajak kebingungan untuk mengikuti alur maju-mundur di dalamnya.

Angle pertama, The Mole, mengisahkan Tommy (Fionn Whitehead), seorang tentara Inggris yang bertahan hidup agar bisa kembali pulang ke rumahnya. Karakter Gibson yang diperankan oleh Aneurin Barnard dan Alex yang diperankan Harry Styles ikut berperan dan mendukung cerita dari sudut pandang ini.

Yang kedua, The Sea, akan menghabiskan waktu selama satu hari dengan Tuan Dawson (Mark Rylance), seorang penduduk lokal yang mengemudikan kapal kecil bersama anaknya, Peter (Tom Glynn-Carney) yang bertujuan untuk menyelamatkan para tentara.

Yang ketiga, The Air, mengisahkan cerita dari sudut pandang seorang pilot Royal Air Force bernama Farrier (Tom Hardy) dan Collins (Jack Lowden) yang berusaha untuk mengalahkan pesawat tempur musuh. Ketiga sudut pandang ini saling berkesinambungan dan menampilkan ciri khas serta orisinalitas Nolan menceritakan kembali kisah sejarah dengan gaya baru.

Selain gaya penyutradaraan yang berbeda, Dunkirk seakan menjadi pembuktian Nolan sebagai sutradara bertotalitas tinggi. Nolan bahkan tak segan menggunakan properti asli untuk menggarap film ini. Kali ini, ia menggunakan pesawat-pesawat tempur langka seharga 5 juta USD atau setara dengan Rp 65 miliar. Totalitasnya semakin teruji saat pesawat-pesawat tempur tersebut sengaja dihancurkan demi menciptakan adegan yang terlihat real.

Meski tidak berisi banyak dialog, Nolan bisa membuat penonton terlarut dalam kisah filmnya. Dengan rekaman pita besar 70mm IMAX dan visual oleh Hoyte Van Hotema, Dunkirk berhasil menyajikan visualisasi yang nyata. Ditambah dengan iringan musik epik karya Hans Zimmer dan Richard King yang sukses membuat penonton ikut merasakan situasi emosional sekaligus menegangkan.

Dunkirk sendiri menjadi debut akting salah satu personel One Direction, Harry Styles yang berperan sebagai tentara bernama Alex. Antusias publik sangat tinggi begitu tahu Harry terlibat dalam film ini. Pun meski namanya cukup populer namun Harry mampu tampil sesuai porsinya, tidak mencuri perhatian berlebih.

Tak kalah dengan Harry, Tom Hardy juga mampu menampilkan aktingnya yang cemerlang meski wajahnya tersembunyi di balik masker. Seperti biasa, ia mampu menunjukkan kepiawaian aktingnya lewat dialog dan aksinya saat mengemudikan pesawat untuk mengalahkan musuh.

Dunkirk ingin menyampaikan pesan bahwa suatu peperangan tidak selalu dimenangkan dengan kekalahan musuh, tapi dengan hal-hal yang dilakukan untuk bertahan hidup di medan perang juga merupakan pencapaian yang luar biasa.

Review Film Despicable Me 3

The Minions are back! Setelah lama dinantikan, Illumination Entertainment dan Universal Pictures akhirnya kembali merilis film Despicable Me di seri ketiganya berjudul Despicable Me 3. Gru dan para Minions pun akan mengajak kamu bertualang dalam kisah terbarunya.

Despicable Me 3 masih bercerita tentang kelanjutan film sebelumnya, Despicable Me 2. Pada seri ketiganya, Gru dan Lucy dipecat dari pekerjaannya di Liga Anti-villain oleh bos baru mereka setelah gagal menangkap Balthazar Bart, seorang mantan bintang cilik yang kini menjadi dewasa dan terobsesi dengan karakternya untuk menjadi penjahat yang tangguh.

Di tengah situasi ini, datang utusan Dru, orang yang mengaku saudara Gru yang telah lama berpisah. Tak langsung percaya dengan kabar tersebut, ia mendatangi ibunya untuk menanyakan kebenarannya. Setelah mendengar kisah yang sesungguhnya, ia datang menemui Dru yang ternyata saudara kembarnya yang telah lama terpisah.

Film yang berfokus pada aksi Gru dan Dru ini membuat alur cerita terasa sangat sederhana. Namun, kehadiran para minions berhasil membuat film ini jadi menarik. Sayangnya, mereka kurang memainkan peran penting dalam Despicable Me 3. Meski kelucuan mereka konsisten seperti dalam film-film sebelumnya, namun para minions ini tidak begitu berperan dalam aksi-aksi yang dilakukan oleh saudara kembar Dru dan Gru. Seakan-akan para Minions hadir untuk mempercantik film ini saja.

Selain itu, sosok penjahat Balthazar, penjahat bergaya retro tahun 80’an juga terasa kurang sesuai dengan segmentasi penonton yang didominasi anak-anak ini.  Begitupun dengan backsound yang berisi beberapa lagu tahun 80’an, seperti lagu Take On Me yang dibawakan A-ha pada tahun 1985 yang mungkin tidak dikenal oleh sebagian besar anak-anak dan remaja.

Namun, hal ini juga dapat menjadi kelebihan karena film ini jadi tidak hanya dapat dinikmati oleh anak-anak dan generasi muda saja, melainkan kalangan dewasa, seperti kakek atau nenek. Jadi, kamu bisa menonton film animasi ini bersama keluarga, baik dari yang berusia muda sampai tua.

Dari beberapa kekurangan di atas, Despicable Me 3 juga mempunyai beberapa hal yang membuatnya menjadi worthy to watch.  Dua penulis naskah, Cinco Paul dan Ken Daurio mampu menghadirkan dialog-dialog yang mengundang gelak tawa pada beberapa adegan di dalamnya. Tak hanya itu, animasi yang ditampilkan juga menjadi salah satu yang menjamin bahwa Despicable Me 3 adalah sebuah film animasi yang berkualitas.

Review Film Spider-Man Homecoming

Akhirnya Spider-Man dikemas dengan karakter yang menyerupai komik tanpa kelihatan terlalu komikal. Setelah inkarnasi Spider-Man terakhir yang tidak begitu menggigit, kini Spider-Man menyapa kita lagi dengan cara yang amat personal. Spider-Man: Homecoming boleh jadi merupakan film Spider-Man yang tak hanya menawarkan aksi spektakuler, tapi juga digarap dengan sepenuh hati. Jika Spider-Man: Homecoming adalah sesosok makhluk hidup, maka dia layak mendapat pelukan yang erat dan hangat.

Di dunia komik, Spider-Man adalah salah satu karakter yang paling populer sepanjang masa, saingannya mungkin hanya Batman. Namun, di dunia film Spider-Man tenggelam oleh digdayanya Iron Man. Iron Man sudah mencetak pemasukan US$ 2 miliar dari film-filmnya. Itu belum dihitung film di mana Iron Man hadir, seperti Avengers dan Captain America: Civil War. Tidak mau Spider-Man disia-siakan, Sony Pictures yang memegang hak produksi karakter ini pun bekerja sama dengan Marvel Studios untuk membuat manusia laba-laba ini kembali mendapatkan hati penonton.

Kolaborasi Marvel Studios dan Sony Pictures ini memang memuaskan. Jika Sam Raimi berhasil menancapkan sebuah standar film superhero saat Spider-Man rilis di tahun 2002, film ini mampu menampilkan Spider-Man yang paling pas. Dari segi karakterisasi, pemilihan pemain, tema, dan juga alur cerita, film ini benar-benar seperti Spider-Man yang keluar dari panel komik. Raimi bukannya tidak berhasil melakukan itu. Dia sukses menghidupkan Spider-Man secara visual, tetapi kekurangan versi lawas Spider-Man adalah sosok yang terlalu karikatural.

Alur cerita Spider-Man: Homecoming dibuat berbeda dari versi 2002 ataupun versi 2012 besutan Marc Webb. Di versi baru ini, tidak ada lagi kisah Peter Parker yang larut dalam perasaan bersalahnya akibat tewasnya Paman Ben. Di versi ini juga tidak perlu lagi diceritakan dengan detil bagaimana dia menjadi Spider-Man. Spider-Man: Homecomingmengambil tempat sesaat setelah Peter Parker membantu Tony Stark menghentikan Captain America di film Civil War. Pergelutannya berkutat di kesehariannya sebagai anak sekolah sekaligus mencari cara agar Iron Man tertarik merekrutnya menjadi anggota Avengers.

Demi menyajikan film Spider-Man yang lebih fresh, Spider-Man: Homecoming pun dikembangkan dengan cara yang berbeda. Di sini Peter Parker dikembangkan dengan cara lebih personal dan tampil membumi sebisa mungkin. Peter Parker pun dibuat seandainya anak seusianya tiba-tiba mendapat kekuatan super. Manusia biasa mendapat kekuatan super tentu memiliki perjuangan yang tidak mudah. Mulai dari bagaimana mengontrol kekuatannya, sampai ke hal yang memengaruhi perkembangan kepribadiannya. Dan Tom Holland sukses memerankan Peter Parker yang sangat menyenangkan.

Tom Holland memang seolah lahir menjadi seorang Peter Parker. Fisiknya sempurna sebagai Peter Parker. Andrew Garfield mungkin memiliki akting yang bagus saat menjadi Peter Parker, tetapi tubuhnya terlalu jangkung sebagai si manusia laba-laba. Fisik Tobey Maguire sebenarnya cukup pas, sayangnya dia terlalu tua (berusia 29 tahun saat tampil di Spider-Man 2002) untuk menjadi Peter Parker masa sekolah. Di luar soal fisik, Tom Holland berhasil menjelma menjadi Peter Parker yang ideal. Di film ini, selalu seru menyaksikan tingkah polah Tom Holland baik sebagai Spider-Man maupun Peter Parker. Tom Holland adalah Peter Parker dan Spider-Man terbaik sejauh ini, melebihi Tobey maupun Andrew.

Musuh utama pun jadi kekuatan lain. Film-film Marvel selalu dikritik soal kehadiran musuh utama mereka, tapi Spider-Man: Homecoming tidak menderita kekurangan ini. Michael Keaton sanggup tampil mengerikan menjadi Adrian Toomes atau Vulture. Motivasinya menjadi penjahat pun masuk akal, berbeda dengan villain kebanyakan di film-film superhero.Interaksinya dengan Spider-Man juga menarik diikuti.

Faktor lain yang membuat Spider-Man: Homecoming jadi luar biasa adalah cara unik Jon Watts sebagai sutradara mengemas film ini secara keseluruhan. Ketika Spider-Man diposisikan sebagai anak SMA, maka Watts pun memfokuskan hidup Peter Parker pada pergulatannya di dunia sekolah. Pendekatannya pun dibuat ala film SMA tahun 1980-an besutan John Hughes seperti Sixteen Candles, The Breakfast Club, atau yang legendaris Ferris Bueller’s Day Off. Kalau memperhatikan dengan seksama, maka kamu akan menemukan easter egg Ferris Bueller di Spider-Man: Homecoming.

Wisata Gili Ketapang Probolinggo

Ada yang tahu Wisata Gili Ketapang Probolinggo? Awalnya saya juga tidak tahu lokasi Gili Ketapang, ternyata lokasinya dekat dari Surabaya yaitu Probolinggo. Mencari informasi menuju Probolinggo bisa naik bus umum, kereta api dan kendaraan bermotor. Saya sedikit anti naik bus umum, karena lama dan capai di perjalanan. Alhamdulillah ada kereta api ekonomi Probowangi Surabaya – Probolinggo, cukup membayar Rp 29.000/orang dengan durasi perjalanan 2 jam.

Saya langsung memesan tiket kereta api ekonomi Probowangi untuk pulang pergi bersama istri Atiqoh Hasan. Beruntung, keberangkatan kereta api ekonomi Probowangi bisa berangkat dari Stasiun Wonokromo Surabaya, rumah kami cukup dekat dengan Stasiun Wonokromo dibanding Stasiun Gubeng. Persoalan kedua, jadwal keberangkatan kereta api ekonomi Probowangi sangat pagi 04:35 WIB sampai di Stasiun Probolinggo 06:35 WIB. Setelah sholat subuh, kami langsung tancap gas ke Stasiun Wonokromo.

Pukul 04:20 WIB kami sampai di Stasiun Wonokromo, saya langsung masuk parkiran motor dan Atiqoh menuju komputer check in kereta api untuk print tiket. Tiket kereta api ekonomi Probowangi kami beli lewat Traveloka. Kami langsung ke pintu masuk Stasiun Wonokromo dengan menunjukan kartu tanda penduduk dan tiket kereta api ekonomi Probowangi. Suasana pagi itu cukup ramai orang yang menunggu, mungkin ada kereta api lain selain kereta api ekonomi Probowangi.

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

Perjalanan 2 jam di kereta api ekonomi Probowangi cukup nyaman. Kereta api sekarang sudah dilengkapi air conditioner di setiap gerbong. Kami habiskan dengan membaca buku dan sesekali waktu melihat pemandangan di sepanjang perjalanan. Masih banyak sawah hijau dan sungai yang mengalir. Pagi itu kami belum sarapan, Atiqoh sudah menyiapkan sedikit buah anggur dan kelengkeng untuk teman perjalanan. Sepanjang perjalanan tidak ada petugas yang menawarkan makanan ringan di dalam kereta api.

Akhirnya sampai juga di Probolinggo tepat pukul 06:35 WIB. Kereta api Probowangi yang kami pilih berakhir di Stasiun Banyuwangi Baru, Kota Banyuwangi. Setelah kami turun ada yang melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Kami langsung turun dan keluar dari Stasiun Probolinggo, penasaran dengan kotanya. Ternyata di pagi hari itu ada semacam pasar tumpah di depan Stasiun Probolinggo, bahasa kerennya car free day. Kami jalan-jalan di pasar tumpah sambil mencoba bubur kacang hijau, rasanya enak.

Setelah kenyang menyantap bubur kacang hijau, kami langsung membuka Google Map menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga. Pelabuhan Tanjung Tembaga merupakan jalur utama menuju Gili Ketapang Island. Tidak begitu jauh dari tempat makan bubur kacang hijau tadi ke Pelabuhan Tanjung Tembaga, hanya 1 kilometer dan kami sepakat untuk jalan kaki sambil menikmati Kota Probolinggo. Di perjalanan kami sempat kesasar, salah membaca Google Map. Tapi menemukan hal yang unik yaitu wisuda anak-anak SD yang diarak menggunakan becak.

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

Hari itu Probolinggo cukup panas, baru 08:30 WIB kami jalan kaki ke Pelabuhan Tanjung Tembaga rasanya kaya di padang pasir. Atiqoh sampai cemberut kepanasan dan sesekali berhenti di bawah pohon. Kurang lebih 45 menit kami berjalan kaki dengan pemandangan pantai dan kampung laut yang kotor. Di sepanjang perjalanan masuk komplek pelabuhan banyak warga yang menjemur ikan hasil tangkapan. Buat yang tidak suka berjalan kaki dari Stasiun Probolinggo ke Pelabuhan Tanjung Tembaga bisa menggunakan jasa ojek motor atau becak.

Wisata Gili Ketapang kali ini kami menggunakan jasa paketan Gili Ketapang yang kami dapatkan infonya di Instagram. Cukup membayar Rp 85.000,- sudah termasuk transportasi perahu pulang pergi dari Pelabuhan Tanjung Tembaga – Gili Ketapang Islandsnorkelling termasuk masker, dokumentasi under waterguide wisata lain di Gili Ketapang Island dan makan siang setelah snorkelling. Bayar jasanya di akhir setelah kami puas mendapatkan fasilitas tersebut.

Pukul 09:30 WIB kami dijemput guide dari jasa paketan Gili Ketapang, kami berkomunikasi dengan jasa paketannya menggunakan WhatsApp. Orangnya cukup ramah dan mengingatkan keberangkatan menuju Gili Ketapang. Dari Pelabuhan Tanjung Tembaga ke Gili Ketapang Island membutuhkan waktu 30-45 menit, tergantung angin dan ombak saat itu. Perahu yang kami naiki menggunakan mesin pemotong rumput jadi sedikit lambat.

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

Tips buat yang pertama naik perahu dan mabuk laut, usahakan duduk di tengah jangan duduk di paling depan dan belakang. Pengalaman saya duduk di paling depan, terkena panas matahari dan ombak dari depan. Jika duduk di paling belakang, terdengar mesin perahu yang super berisik dan asap yang mengepul hitam. Sebaiknya duduk di tengah tidak di sebelah pinggir. Saya ambil posisi depan awalnya ingin foto-foto langit dan ombak yang terkena perahu. Ternyata sangat panas dan anginnya kencang.

30 menit perjalanan dengan perahu terlihat dari jauh sudah banyak wisatawan lain yang sedang snorkelling dan bermain pasir. Hari itu sangat ramai wisatawan dan hanya ada 3 titik snorkelling untuk melihat keindahan kedalaman laut Gili Ketapang. Kami langsung diarahkan ke Goa Kucing Gili Ketapang yang lokasinya di paling ujung pulau. Kami turun dari perahu beramai-ramai dengan 20 orang wisatawan lain yang 1 perahu. Selain Goa Kucing ada sumur sakral, tapi saya tidak mau masuk karena tempatnya sempit.

Masyarakat di Gili Ketapang Island mayoritas orang Madura yang merantau dari Pulau Madura, semua beragama Islam. Saya sempat ngobrol dengan salah satu guide yang mengantar kami menunjukan lokasi wisata lain, bahwa Wisata Gili Ketapang Island baru dibuka 3 bulan. Di hari Minggu kurang lebih ada 200-300 orang yang mengunjungi Gili Ketapang Island. Masyarakat sangat terbantu dengan memfasilitasi makanan dan penginapan. Pilihan makanan berat disana tidak bervariasi, hanya ada rujak dan mie instan. Jangan bayangkan ada mini market disana ya!

wisata gili ketapang probolinggo

image: bagus gowes

1 jam kami dibiarkan untuk eksplorasi daratan di Gili Ketapang. Setelah itu kami dijemput untuk menuju perahu yang kami tumpangi sesuai keberangkatan, usahakan diingat warna dan model perahunya. Kami pindah ke daratan yang dekat dengan pemukiman warga Gili Ketapang, kami dibiarkan menunggu 30 menit di gazebo bambu tidak ada komando disuruh beraktifitas. Saya mengambil kesimpulan, hari itu spot snorkelling penuh dan peralatannya dipakai semua. Bergantian untuk menikmati snorkelling.

Cukup puas kami menikmati snorkelling di beberapa tempat, sudah lama saya tidak snorkelling dan melihat keindahan bawah laut. Ombak saat itu cukup tenang, saya dan istri explore tempat snorkelling lain yang tidak ramai dengan wisata lain. Pukul 16:00 WIB kami diminta untuk naik ke perahu, karena ombak sudah kencang. Di Gili Ketapang cukup banyak Nemo atau ikan badut yang disebar oleh penduduk. Semoga warga Gili Ketapang bisa menjaga keindahan bawah laut Gili Ketapang, tidak hanya mencari pemasukan dari alamnya saja.