Arsip Kategori: Cycling

Car Free Day Surabaya 2017

Kemarin Minggu (26/3) saya mengunjungi car free day Surabaya untuk pertama kali sejak tinggal di Surabaya. Car free day Surabaya dilaksanakan setiap hari Minggu dari pukul 06:00 – 10:00 WIB dan lokasinya di Jalan Darmo Surabaya. Selama empat jam, Jalan Darmo Surabaya tidak boleh dilewati kendaraan bermotor (motor, mobil dan bus kota Surabaya).

Rencana awal datang ke car free day Surabaya mengikuti sunday morning run Indorunners Surabaya yang dimulai pukul 06:00 WIB di depan Apotek Kimia Farma Darmo Surabaya. Saya datang terlambat 10 menit, rombongan Indorunners Surabaya sudah tidak ada di lokasi start. Saya menanyakan ke orang-orang, tidak tahu rute lari Indorunners Surabaya.

10 menit saya menunggu di depan Apotek Kimia Farma Darmo Surabaya, mungkin ada teman lari yang juga datang terlambat, ternyata tidak ada yang datang. Saya melihat-lihat orang sekitar yang sedang asik senam, bersepeda dan berlari. Car free day Surabaya asik juga buat berkumpul warga Surabaya, banyak jajanan dan minuman sepanjang Jalan Darmo Surabaya.

image: bagus gowes

Terlalu lama menunggu di depan Apotek Kimia Farma Darmo juga bosan. Saya coba menghubungi teman sepeda tidak ada di sekitaran Jalan Darmo Surabaya. Akhirnya mengambil keputusan gowes ke Jembatan Suramadu Surabaya dengan mengandalkan Google Maps. Dari Jalan Raya Darmo ke Jembatan Suramadu tidak begitu jauh, hanya 18 kilometer dengan mengikuti jalan utama.

300 meter sampai ujung Jalan Raya Darmo bertemu Komunitas Sepeda Lipat Surabaya di depan Mcdonald Darmo Surabaya. Akhirnya memutuskan untuk bertemu mereka, rencana ke Jembatan Suramadu Surabaya gagal. Disana ketemu dengan Om Fahmi, Om Sartono, dll. mereka akan gowes dan kulineran ke Surabaya Barat. Saya bergabung gowes dengan Komunitas Sepeda Lipat Surabaya.

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

Gowes ke Air Terjun Gedad

Saya sudah lama tidak gowes bersama teman-teman komunitas sepeda, karena rute dan tempatnya sudah pernah dikunjungi. Februari di Jogja masih sering hujan, buat yang suka bersepeda mencari air terjun dan curug di wilayah Bantul dan Kulon Progo sangat cocok untuk bermain air. Air terjun dan curug di wilayah Bantul bagus dikunjungi saat musim hujan, rata-rata aliran air yang turun dari sungai yang posisinya tinggi.

Kemarin ada ajakan dari komunitas sepeda Jogja yaitu Ente Jogja bersepeda ke air terjun gedad. Nama air terjun gedad belum pernah dengar, saya coba mencari di internet masih sangat sedikit referensi yang mengarahkan rute menuju air terjun gedad. Mumpung masih di Jogja dan ada komunitas yang membuat trip tersebut kenapa tidak bergabung.

Pengumuman ajakan gowes ke air terjun gedad di Facebook Ente Jogja. Seorang teman yang bernama Dwi Elnino memposting di Ente Jogja dengan redaksi “Gowes Air Terjun Gedad ben podo kancane, Tikum Puskesmas Imogiri 1 ditunggu sampai jam 06.30. Jangan lupa bawa celana ganti kalau mau ciblon”. Selain postingan itu ada foto air terjun gedad yang terlihat arusnya sangat deras. Sepertinya menarik untuk dikunjungi.

Kebiasaan saya jika paginya memiliki agenda gowes akan tidur cepat sebelum pukul 21:00 dan bangun biasanya pukul 04:30. Pagi itu saya bangun sesuai waktu, lalu dilanjutkan sholat subuh dan mengisi botol minum sepeda dengan air putih. Cuaca pagi itu di rumah saya sedikit mendung dan tersisa air bekas hujan semalam. Sejenak melihat aplikasi cuaca di smartphone menunjukan cerah, saya mantab untuk melanjutkan persiapan bersepeda.

Semua barang sudah disiapkan seperti botol minum sepeda, sarung, headset, dll. dimasukkan ke dalam tas pannier sepeda Eiger. Saya mengambil kesimpulan, biasanya jika gowes bersama komunitas sedikit lama karena menunggu teman-teman yang lain dan saya tidak tahu jalan menuju air terjun gedad persiapan sarung untuk sholat dhuhur. Saya pelan-pelan mengayuh sepeda ke arah Imogiri yang lokasinya di selatan.

Saya gowes menuju selatan dengan langit yang gelap, rintik-rintik hujan juga terus membasahi badan dan sepeda. Dalam hati saya berdoa semoga tidak hujan deras sampai Puskesmas Imogiri 1 Bantul, sampai depan Hotel Ros In Jogja ternyata hujan deras, akhirnya saya mencari tempat berteduh di samping hotel tersebut. Alhamdulillah menunggu 5 menit, hujan sudah berhenti dan saya melanjutkan perjalanan menuju Puskesmas Imogiri 1 Bantul.

Pukul 19:00 saya sampai Puskesmas Imogiri 1 Bantul sudah banyak teman-teman Ente Jogja yang mengobrol dan menunggu teman gowes lainnya. Tradisi bertemu dengan teman sepeda bersalaman dengan lainnya, sekitar 10 orang saya menyalami teman-teman. 20 menit menunggu di Puskesmas Imogiri 1 Bantul tidak ada tambahan teman lain yang datang. Kami putuskan untuk berangkat menuju air terjun gedad.

Nikmatnya bersepeda di hari minggu, bertemu dengan komunitas sepeda lain menuju lokasi yang sama. Di jalan yang tujuannya air terjun gedad kami bertemu dengan komunitas sepeda kolaborasi yang isinya pesepeda berumur (diatas 50 tahun), lebih seru untuk bersepeda bersama. Sepanjang perjalanan kami berkomunikasi dengan teman-teman pesepeda lainnya. Jangan anggap remeh pesepeda senior, mereka kuat melahap tanjakan panggang!

Tidak begitu jauh bersepeda ke air terjun gedad di Playen, Gunung Kidul, saya mengaktifkan Garmin untuk mengetahui jarak dan waktu tempuh. Dari rumah Ngadinegaran sampai air terjun gedad sejauh 35 kilometer dengan rute yang cukup menguras keringat. Saya kira air terjun gedad lokasinya di Bantul ternyata di daerah Playen, Gunung Kidul. Jika ditarik arus airnya, sama dengan air terjun sri gethuk yang berada di sisi utara air terjun gedad.

Rute yang mudah dan cepat menuju air terjun gedad dari Jogja yaitu Jogja – Imogiri Barat/Imogiri Timur – Siluk Bantul – Panggang Bantul terus saja sampai bertemu arah SPN Selopamioro Imogiri Bantul. Sampai bertemu papan SPN Selopamioro Imogiri Bantul jangan belok ke SPN-nya terus saja sampai bertemu perempatan yang mengarah Wisata Watu Alam Panggang, belok saja ke kiri dan ikuti jalan sampai bertemu wisata tersebut. Dari Wisata Watu Alam Panggang lanjut saja mengikuti jalan sampai di kiri jalan ada banner bertuliskan Air Terjun Gedad.

Alternatif rute lain menuju air terjun gedad dari arah Wonosari bisa mengambil rute wilayah Gading, Playen, Gunung Kidul yang arahnya sama dengan air terjun sri gethuk. Lokasi air terjun gedad masuk ke dalam kampung, tidak disarankan untuk membawa kendaraan besar seperti bus. Untuk mobil rata-rata juga parkir di jalan utama, karena jalannya sempit dan berbatu. Cukup menarik air terjun gedad, menambah wisata baru di Gunung Kidul.

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes

Gowes ke Plunyon Kali Kuning Yogyakarta

Agenda gowes Minggu (22/1) awalnya bike camping ke Plunyon Kali Kuning Yogyakarta ajakan teman gowes Supriyadi Plat AB  tapi karena cuaca saya hanya bersepeda tidak mengikuti camping hingga sore hari. Minggu pagi saya datang terlambat untuk kumpul di parkiran Monumen Jogja Kembali, seharusnya jam 06:00 WIB tapi saya datang 06:30 WIB. Ditengah perjalanan menuju Monumen Jogja Kembali saya dihubungi Eskawan Azis, dia mengalami kecelakaan serempetan dengan motor.

Langsung saya gowes sedikit cepat untuk menuju lokasi kecelakaan Azis, katanya dekat dengan perempatan Monumen Jogja Kembali. 10 menit bertemu dengan Azis menceritakan kejadiannya, siku kanan tangannya lecet jatuh kena aspal. Luka dicuci dengan air sambil membetulkan handle bar yang mirip dan bar end yang patah. Kami lanjutkan bersepeda menuju parkiran Monumen Jogja Kembali, mungkin Azis tidak fokus saat bersepeda.

Biasanya rombongan gowes agak telat-telatan untuk berangkat, saya dan Azis menunggu di Parkiran Monumen Jogja Kembali sampai pukul 07:00 WIB tidak ada goweser yang lewat untuk berkumpul di parkiran. Akhirnya kami putuskan untuk menuju Plunyon Kali Kuning pelan-pelan melewati jalan desa sampai Warung Ijo Pakem. Sepanjang jalan kami bercerita macam-macam dan sepakat untuk berhenti di Warung Ijo Pakem untuk sarapan.

Rute yang kami lewati menuju Warung Ijo Pakem campuran antara aspal dan tanah sawah, kebetulan sepeda yang kami pakai support untuk jalan offroad. Dari Monumen Jogja Kembali – Desa Rejodani Sleman – Warung Ijo Pakem, cukup seru rutenya hampir 80% melewati desa dengan sawah yang hijau. Bertemu warga yang sedang kerja bakti di desanya, kami turun dari sepeda untuk menghormati dan menyapa untuk numpang lewat, hehe..

Pukul 08:30 WIB kami sampai di Warung Ijo Pakem, karena hari Minggu masih banyak pesepeda yang berkumpul di sekitaran warung. Saya bertemu teman-teman sepeda dari lintas komunitas seperti MTB Federal Jogja, Keong Gowes Roadbike, Jogja Gowes, dll. Saya langsung masuk Warung Ijo untuk mengambil nasi dengan menu khasnya Brongkos dan telur balado. Cukup ekonomis, Nasi Brongkos + Telur Balado + Bakwan = Rp 8.000,-

30 menit menyantap makanan tersebut. Saya dan Azis bersiap-siap menuju Plunyon Kali Kuning, kebetulan ada teman lain RD Syarani dan Andi Mardianto tapi tidak ingin ikut kesana. Sebelumnya saya sudah pernah ke Plunyon Kali Kuning bersama komunitas sepeda Ente Jogja, tapi lupa-lupa ingat. Kami pelan-pelan menuju arah Kaliurang, melewati perkampungan yang masih sepi. Jika melewati jalan utama banyak kendaraan bermotor.

Plunyon Kali Kuning sebelum erupsi Gunung Merapi 2010 adalah camping ground yang dikelola Pemerintah Kabupaten Sleman. Setelah erupsi tersebut tempat ini tidak dijadikan apa-apa, masih ada spot yang bisa dijadikan tempat camping dan aliran sungai masih ada sampai sekarang. Setiap orang datang ke Plunyon Kali Kuning untuk menikmati suasana alam disana. Tenang, sepi dan udara yang bersih bisa dinikmati di Plunyon Kali Kuning.

Jalan paling mudah dari Kota Jogja menuju Plunyon Kali Kuning yaitu melewati Jalan Kaliurang terus ke utara sampai ketemu Pasar Pakem. Kalau sudah bertemu Pasar Pakem sebentar lagi ketemu belokan ke timur arah Cangkringan. Tanda paling mudah di timur jalan ada papan Jeep Offroad Merapi itu belok ke kanan/timur, ikuti jalan saja sampai loket tiket Merapi. Banyak sekali mobil jeep di sepanjang jalan, berhati-hatilah jika bersepeda menuju sana. Jika naik sepeda tidak dimintai uang tiket loket.

Setelah melewati loket tiket masih terus ke utara dengan rute yang cukup menanjak, hehe.. Sampai bertemu pertigaan yang ada pohon beringinnya belok ke kiri ikuti jalan aspal saja nanti ada tanda arah Plunyon. Cukup mudah, jika kesulitan untuk menemukan banyak warga yang mengarahkan. Itu gowes saya minggu kemarin dengan rute uphill. Bagaimana rutemu?

image: bagus gowes

image: bagus gowes

 

image: bagus gowes

image: bagus gowes

Test Rute J150K 2017

Minggu (8/1) saya bersama panitia dan marshal SESAT J150K 2017 mencoba rute SESAT J150K 2017. SESAT J150K 2017 adalah event sepeda lipat terbuka untuk umum dengan jarak tempuh 150 kilometer dan dibatasi ukuran roda 16 inch sampai 22 inch.

Kurang lebih 30 orang berkumpul di tempat start acara SESAT J150K 2017 yaitu LPP Garden Hotel Yogyakarta. Tepat pukul 06:00 WIB kami semua berangkat menelusuri rute J150K. Karena test rute ini diikuti teman-teman lain, ada yang menggunakan sepeda MTB.

Dari LPP Garden Hotel Yogyakarta menuju Jalan Solo – Jalan Babarsari terus ke utara sampai ketemu UPN Yogyakarta. Jalan yang dilewati masih relatif datar, karena jalur utama Jogja. Dari UPN Yogyakarta kami belok ke arah timur melewati ringroad timur sampai ketemu arah Maguwoharjo.

image: spica

image: spica

Tanjakan awal bertemu di wilayah Tajem, Maguwoharjo. Saat test rute kemarin cuaca cukup nyaman di pagi hari, ketika bertemu tanjakan dari Tajem sampai Pakem masih cukup nyaman. Pemandangan sepanjang perjalanan masih hijau dengan sawah dan rumah-rumah khas pedesaan.

50 kilometer pertama untuk rute J150K 2017 sangat nyaman, walaupun sedikit menanjak. Dari wilayah Tajem, Maguwoharjo belok ke barat masuk wilayah Jl. Kaliurang lalu terus ke utara sampai ketemu kampus UII Yogyakarta. Di jalanan tersebut sering dilewati pesepeda menuju Warung Ijo Pakem atau Kaliurang.

Sampai kampus UII Yogyakarta terus ke utara bertemu perempatan kecil belok ke barat yang tembusnya ke Jalan Palagan Tentara Pelajar. Dari Jl. Palagan Tentara Pelajar ikuti jalan terus sampai masuk wilayah Kabupaten Sleman – Terminal Jombor, check point 1 di Kecamatan Minggir kilometer 44. Kami berisitirahat 10 menit menikmati jajanan arem-arem dan nagasari.

image: spica

image: spica

Perjalanan selanjutnya dilanjutkan ke wilayah Yogyakarta bagian selatan menyusuri pantai-pantai di Bantul ada Pantai Baru. Cuaca sangat panas dan angin kencang. Kami sempatkan untuk istirahat di check point 2, patung Pantai Baru yaitu Harimau dan Ikan Hiu. Saya tidak tahu kenapa harimau menjadi logo di Pantai Baru tersebut, apakah jaman dahulu daerah ini hutan dan menjadi sarang harimau.

Pantai Baru masuk di kilometer 87, cukup 5 menit kami istirahat lalu dilanjutkan makan siang di bebek goreng hanya berjarak 6 kilometer. Tepat pukul 11:30 sampai 12:30 kami makan dan sholat dhuhur di warung bebek goreng. Perjalanan terakhir menuju check point terakhir di Museum Sejarah Purbakala Pleret Bantul, dari Pantai Baru kami mengambil jalan pintas melewati Sanden – Imogiri. Sepanjang perjalanan melewati sawah kering yang cukup kencang anginnya.

Pemberhentian terakhir dari Museum Sejarah Purbakala Pleret kami lanjutkan sampai titik finish di LPP Garden Hotel Yogyakarta, tiba-tiba diperjalanan sampai daerah Piyungan hujan besar tapi kami terus melanjutkan perjalanan karena sudah sore sekitar pukul 15:00. Dari Piyungan terus ke utara sampai Blok O Yogyakarta. Tidak langsung belok ke arah Janti, rutenya diputar ke arah Gembira Loka Zoo lalu belok arah pabrik susu SGM Jogja dan kampus UIN Yogyakarta dilanjutkan LPP Garden Hotel Yogyakarta.

image: spica

image: spica

 

image: spica

image: spica

 

image: spica

image: spica