Gowes ke Air Terjun Gedad

Saya sudah lama tidak gowes bersama teman-teman komunitas sepeda, karena rute dan tempatnya sudah pernah dikunjungi. Februari di Jogja masih sering hujan, buat yang suka bersepeda mencari air terjun dan curug di wilayah Bantul dan Kulon Progo sangat cocok untuk bermain air. Air terjun dan curug di wilayah Bantul bagus dikunjungi saat musim hujan, rata-rata aliran air yang turun dari sungai yang posisinya tinggi.

Kemarin ada ajakan dari komunitas sepeda Jogja yaitu Ente Jogja bersepeda ke air terjun gedad. Nama air terjun gedad belum pernah dengar, saya coba mencari di internet masih sangat sedikit referensi yang mengarahkan rute menuju air terjun gedad. Mumpung masih di Jogja dan ada komunitas yang membuat trip tersebut kenapa tidak bergabung.

Pengumuman ajakan gowes ke air terjun gedad di Facebook Ente Jogja. Seorang teman yang bernama Dwi Elnino memposting di Ente Jogja dengan redaksi “Gowes Air Terjun Gedad ben podo kancane, Tikum Puskesmas Imogiri 1 ditunggu sampai jam 06.30. Jangan lupa bawa celana ganti kalau mau ciblon”. Selain postingan itu ada foto air terjun gedad yang terlihat arusnya sangat deras. Sepertinya menarik untuk dikunjungi.

Kebiasaan saya jika paginya memiliki agenda gowes akan tidur cepat sebelum pukul 21:00 dan bangun biasanya pukul 04:30. Pagi itu saya bangun sesuai waktu, lalu dilanjutkan sholat subuh dan mengisi botol minum sepeda dengan air putih. Cuaca pagi itu di rumah saya sedikit mendung dan tersisa air bekas hujan semalam. Sejenak melihat aplikasi cuaca di smartphone menunjukan cerah, saya mantab untuk melanjutkan persiapan bersepeda.

Semua barang sudah disiapkan seperti botol minum sepeda, sarung, headset, dll. dimasukkan ke dalam tas pannier sepeda Eiger. Saya mengambil kesimpulan, biasanya jika gowes bersama komunitas sedikit lama karena menunggu teman-teman yang lain dan saya tidak tahu jalan menuju air terjun gedad persiapan sarung untuk sholat dhuhur. Saya pelan-pelan mengayuh sepeda ke arah Imogiri yang lokasinya di selatan.

Saya gowes menuju selatan dengan langit yang gelap, rintik-rintik hujan juga terus membasahi badan dan sepeda. Dalam hati saya berdoa semoga tidak hujan deras sampai Puskesmas Imogiri 1 Bantul, sampai depan Hotel Ros In Jogja ternyata hujan deras, akhirnya saya mencari tempat berteduh di samping hotel tersebut. Alhamdulillah menunggu 5 menit, hujan sudah berhenti dan saya melanjutkan perjalanan menuju Puskesmas Imogiri 1 Bantul.

Pukul 19:00 saya sampai Puskesmas Imogiri 1 Bantul sudah banyak teman-teman Ente Jogja yang mengobrol dan menunggu teman gowes lainnya. Tradisi bertemu dengan teman sepeda bersalaman dengan lainnya, sekitar 10 orang saya menyalami teman-teman. 20 menit menunggu di Puskesmas Imogiri 1 Bantul tidak ada tambahan teman lain yang datang. Kami putuskan untuk berangkat menuju air terjun gedad.

Nikmatnya bersepeda di hari minggu, bertemu dengan komunitas sepeda lain menuju lokasi yang sama. Di jalan yang tujuannya air terjun gedad kami bertemu dengan komunitas sepeda kolaborasi yang isinya pesepeda berumur (diatas 50 tahun), lebih seru untuk bersepeda bersama. Sepanjang perjalanan kami berkomunikasi dengan teman-teman pesepeda lainnya. Jangan anggap remeh pesepeda senior, mereka kuat melahap tanjakan panggang!

Tidak begitu jauh bersepeda ke air terjun gedad di Playen, Gunung Kidul, saya mengaktifkan Garmin untuk mengetahui jarak dan waktu tempuh. Dari rumah Ngadinegaran sampai air terjun gedad sejauh 35 kilometer dengan rute yang cukup menguras keringat. Saya kira air terjun gedad lokasinya di Bantul ternyata di daerah Playen, Gunung Kidul. Jika ditarik arus airnya, sama dengan air terjun sri gethuk yang berada di sisi utara air terjun gedad.

Rute yang mudah dan cepat menuju air terjun gedad dari Jogja yaitu Jogja – Imogiri Barat/Imogiri Timur – Siluk Bantul – Panggang Bantul terus saja sampai bertemu arah SPN Selopamioro Imogiri Bantul. Sampai bertemu papan SPN Selopamioro Imogiri Bantul jangan belok ke SPN-nya terus saja sampai bertemu perempatan yang mengarah Wisata Watu Alam Panggang, belok saja ke kiri dan ikuti jalan sampai bertemu wisata tersebut. Dari Wisata Watu Alam Panggang lanjut saja mengikuti jalan sampai di kiri jalan ada banner bertuliskan Air Terjun Gedad.

Alternatif rute lain menuju air terjun gedad dari arah Wonosari bisa mengambil rute wilayah Gading, Playen, Gunung Kidul yang arahnya sama dengan air terjun sri gethuk. Lokasi air terjun gedad masuk ke dalam kampung, tidak disarankan untuk membawa kendaraan besar seperti bus. Untuk mobil rata-rata juga parkir di jalan utama, karena jalannya sempit dan berbatu. Cukup menarik air terjun gedad, menambah wisata baru di Gunung Kidul.

image: bagus gowes
image: bagus gowes

 

image: bagus gowes
image: bagus gowes

 

image: bagus gowes
image: bagus gowes

 

image: bagus gowes
image: bagus gowes

Gowes ke Plunyon Kali Kuning Yogyakarta

Agenda gowes Minggu (22/1) awalnya bike camping ke Plunyon Kali Kuning Yogyakarta ajakan teman gowes Supriyadi Plat AB  tapi karena cuaca saya hanya bersepeda tidak mengikuti camping hingga sore hari. Minggu pagi saya datang terlambat untuk kumpul di parkiran Monumen Jogja Kembali, seharusnya jam 06:00 WIB tapi saya datang 06:30 WIB. Ditengah perjalanan menuju Monumen Jogja Kembali saya dihubungi Eskawan Azis, dia mengalami kecelakaan serempetan dengan motor.

Langsung saya gowes sedikit cepat untuk menuju lokasi kecelakaan Azis, katanya dekat dengan perempatan Monumen Jogja Kembali. 10 menit bertemu dengan Azis menceritakan kejadiannya, siku kanan tangannya lecet jatuh kena aspal. Luka dicuci dengan air sambil membetulkan handle bar yang mirip dan bar end yang patah. Kami lanjutkan bersepeda menuju parkiran Monumen Jogja Kembali, mungkin Azis tidak fokus saat bersepeda.

Biasanya rombongan gowes agak telat-telatan untuk berangkat, saya dan Azis menunggu di Parkiran Monumen Jogja Kembali sampai pukul 07:00 WIB tidak ada goweser yang lewat untuk berkumpul di parkiran. Akhirnya kami putuskan untuk menuju Plunyon Kali Kuning pelan-pelan melewati jalan desa sampai Warung Ijo Pakem. Sepanjang jalan kami bercerita macam-macam dan sepakat untuk berhenti di Warung Ijo Pakem untuk sarapan.

Rute yang kami lewati menuju Warung Ijo Pakem campuran antara aspal dan tanah sawah, kebetulan sepeda yang kami pakai support untuk jalan offroad. Dari Monumen Jogja Kembali – Desa Rejodani Sleman – Warung Ijo Pakem, cukup seru rutenya hampir 80% melewati desa dengan sawah yang hijau. Bertemu warga yang sedang kerja bakti di desanya, kami turun dari sepeda untuk menghormati dan menyapa untuk numpang lewat, hehe..

Pukul 08:30 WIB kami sampai di Warung Ijo Pakem, karena hari Minggu masih banyak pesepeda yang berkumpul di sekitaran warung. Saya bertemu teman-teman sepeda dari lintas komunitas seperti MTB Federal Jogja, Keong Gowes Roadbike, Jogja Gowes, dll. Saya langsung masuk Warung Ijo untuk mengambil nasi dengan menu khasnya Brongkos dan telur balado. Cukup ekonomis, Nasi Brongkos + Telur Balado + Bakwan = Rp 8.000,-

30 menit menyantap makanan tersebut. Saya dan Azis bersiap-siap menuju Plunyon Kali Kuning, kebetulan ada teman lain RD Syarani dan Andi Mardianto tapi tidak ingin ikut kesana. Sebelumnya saya sudah pernah ke Plunyon Kali Kuning bersama komunitas sepeda Ente Jogja, tapi lupa-lupa ingat. Kami pelan-pelan menuju arah Kaliurang, melewati perkampungan yang masih sepi. Jika melewati jalan utama banyak kendaraan bermotor.

Plunyon Kali Kuning sebelum erupsi Gunung Merapi 2010 adalah camping ground yang dikelola Pemerintah Kabupaten Sleman. Setelah erupsi tersebut tempat ini tidak dijadikan apa-apa, masih ada spot yang bisa dijadikan tempat camping dan aliran sungai masih ada sampai sekarang. Setiap orang datang ke Plunyon Kali Kuning untuk menikmati suasana alam disana. Tenang, sepi dan udara yang bersih bisa dinikmati di Plunyon Kali Kuning.

Jalan paling mudah dari Kota Jogja menuju Plunyon Kali Kuning yaitu melewati Jalan Kaliurang terus ke utara sampai ketemu Pasar Pakem. Kalau sudah bertemu Pasar Pakem sebentar lagi ketemu belokan ke timur arah Cangkringan. Tanda paling mudah di timur jalan ada papan Jeep Offroad Merapi itu belok ke kanan/timur, ikuti jalan saja sampai loket tiket Merapi. Banyak sekali mobil jeep di sepanjang jalan, berhati-hatilah jika bersepeda menuju sana. Jika naik sepeda tidak dimintai uang tiket loket.

Setelah melewati loket tiket masih terus ke utara dengan rute yang cukup menanjak, hehe.. Sampai bertemu pertigaan yang ada pohon beringinnya belok ke kiri ikuti jalan aspal saja nanti ada tanda arah Plunyon. Cukup mudah, jika kesulitan untuk menemukan banyak warga yang mengarahkan. Itu gowes saya minggu kemarin dengan rute uphill. Bagaimana rutemu?

image: bagus gowes
image: bagus gowes

 

image: bagus gowes
image: bagus gowes

Sunday Morning Run Indorunners Jogja

Minggu-minggu ini setiap pagi Jogja selalu hujan, kadang-kadang cuma gerimis yang membuat gagal untuk berolahraga di luar rumah. Kemarin Minggu (15/1) cuaca Jogja hujan tapi tidak begitu deras, saya sudah niat berangkat lari sunday morning run bersama komunitas Indorunners Jogja. Dari rumah Ngadinegaran sudah hujan yang intensitasnya teratur. Saya paksakan untuk memakai jaket menuju lokasi kumpul di Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada.

Sepanjang perjalanan menuju Graha Sabha Pramana hujan masih terus turun dan tidak pernah berhenti sedikit pun. Pukul 18:00 sampai di sisi barat Graha Sabha Pramana, ternyata sudah 6 orang berkumpul melakukan pemanasan. Hujannya sudah cukup reda menunggu teman lain yang bergabung lari pagi. Kami sepakati pukul 18:20 berangkat dari Graha Sabha Pramana mengikuti rute yang sudah dibuat teman lari David Pande.

Sunday morning run merupakan agenda rutin Indorunners Jogja yang diadakan tiap hari Minggu dengan start/finish di sisi barat Graha Sabha Pramana. Tahun 2017 hari minggu kemarin pertama kali sunday morning run dengan rute yang cukup jauh 14 kilometer, mengelilingi Kota Jogja sampai Alun-Alun Kidul. Saya sudah lama tidak long run cukup pegal setelah lari kemarin, hehe.. Rute sunday morning run bisa dilihat di Strava.

indorunners jogja

Tepat pukul 18:20 kami ber-15 berlari dari Graha Sabha Pramana UGM menuju Jl. C. Simanjuntak dengan hujan yang belum berhenti. Kami bukan atlit, cuma penghobi, kecepatan rata-rata hanya pace 7/km. Di setiap ada spot menarik yang bagus untuk foto-foto, kami berhenti untuk istirahat dan mendokumentasikan sunday morning run. Alhamdulillah tidak ada cedera atau tertinggal rombongan, semua bisa menyesuaikan ritme lari.

Spot-spot yang abadikan untuk foto bersama yaitu Tugu Jogja, Malioboro dengan tampilan baru. Malioboro yang sekarang sangat nyaman untuk pejalan kaki, ada kran air minum yang bisa langsung diminum di tengah-tengah Malioboro. Spot selanjutnya kami berhenti di 0 kilometer dengan background Kantor Pos Besar Yogyakarta. Tidak jauh dari Kantor Pos Besar Yogyakarta, kami berhenti di Alun-Alun Kidul sambil mengabadikan di belakang pohon beringin.

indorunners jogja

14 kilometer bukan jarak yang pendek untuk pelari pemula. Disarankan tiap 5 kilometer harus minum agar tidak dehidrasi. Kami sempat berhenti di Indomaret untuk beristirahat dan membeli minuman. Jangan sekali-kali meremehkan minum karena alasan tidak haus, itu akan fatal mengganggu otak. Terakhir kami semua finish sekitar pukul 09:00 – 09:30 dengan cuaca yang cerah, tidak begitu panas. Semua senang dan sehat setelah sunday morning run.

indorunners jogja

 

indorunners jogja

Test Rute J150K 2017

Minggu (8/1) saya bersama panitia dan marshal SESAT J150K 2017 mencoba rute SESAT J150K 2017. SESAT J150K 2017 adalah event sepeda lipat terbuka untuk umum dengan jarak tempuh 150 kilometer dan dibatasi ukuran roda 16 inch sampai 22 inch.

Kurang lebih 30 orang berkumpul di tempat start acara SESAT J150K 2017 yaitu LPP Garden Hotel Yogyakarta. Tepat pukul 06:00 WIB kami semua berangkat menelusuri rute J150K. Karena test rute ini diikuti teman-teman lain, ada yang menggunakan sepeda MTB.

Dari LPP Garden Hotel Yogyakarta menuju Jalan Solo – Jalan Babarsari terus ke utara sampai ketemu UPN Yogyakarta. Jalan yang dilewati masih relatif datar, karena jalur utama Jogja. Dari UPN Yogyakarta kami belok ke arah timur melewati ringroad timur sampai ketemu arah Maguwoharjo.

image: spica
image: spica

Tanjakan awal bertemu di wilayah Tajem, Maguwoharjo. Saat test rute kemarin cuaca cukup nyaman di pagi hari, ketika bertemu tanjakan dari Tajem sampai Pakem masih cukup nyaman. Pemandangan sepanjang perjalanan masih hijau dengan sawah dan rumah-rumah khas pedesaan.

50 kilometer pertama untuk rute J150K 2017 sangat nyaman, walaupun sedikit menanjak. Dari wilayah Tajem, Maguwoharjo belok ke barat masuk wilayah Jl. Kaliurang lalu terus ke utara sampai ketemu kampus UII Yogyakarta. Di jalanan tersebut sering dilewati pesepeda menuju Warung Ijo Pakem atau Kaliurang.

Sampai kampus UII Yogyakarta terus ke utara bertemu perempatan kecil belok ke barat yang tembusnya ke Jalan Palagan Tentara Pelajar. Dari Jl. Palagan Tentara Pelajar ikuti jalan terus sampai masuk wilayah Kabupaten Sleman – Terminal Jombor, check point 1 di Kecamatan Minggir kilometer 44. Kami berisitirahat 10 menit menikmati jajanan arem-arem dan nagasari.

image: spica
image: spica

Perjalanan selanjutnya dilanjutkan ke wilayah Yogyakarta bagian selatan menyusuri pantai-pantai di Bantul ada Pantai Baru. Cuaca sangat panas dan angin kencang. Kami sempatkan untuk istirahat di check point 2, patung Pantai Baru yaitu Harimau dan Ikan Hiu. Saya tidak tahu kenapa harimau menjadi logo di Pantai Baru tersebut, apakah jaman dahulu daerah ini hutan dan menjadi sarang harimau.

Pantai Baru masuk di kilometer 87, cukup 5 menit kami istirahat lalu dilanjutkan makan siang di bebek goreng hanya berjarak 6 kilometer. Tepat pukul 11:30 sampai 12:30 kami makan dan sholat dhuhur di warung bebek goreng. Perjalanan terakhir menuju check point terakhir di Museum Sejarah Purbakala Pleret Bantul, dari Pantai Baru kami mengambil jalan pintas melewati Sanden – Imogiri. Sepanjang perjalanan melewati sawah kering yang cukup kencang anginnya.

Pemberhentian terakhir dari Museum Sejarah Purbakala Pleret kami lanjutkan sampai titik finish di LPP Garden Hotel Yogyakarta, tiba-tiba diperjalanan sampai daerah Piyungan hujan besar tapi kami terus melanjutkan perjalanan karena sudah sore sekitar pukul 15:00. Dari Piyungan terus ke utara sampai Blok O Yogyakarta. Tidak langsung belok ke arah Janti, rutenya diputar ke arah Gembira Loka Zoo lalu belok arah pabrik susu SGM Jogja dan kampus UIN Yogyakarta dilanjutkan LPP Garden Hotel Yogyakarta.

image: spica
image: spica

 

image: spica
image: spica

 

image: spica
image: spica

Membangun Kembali Surly Troll 650b

Selamat pagi.. Selamat tahun 2017! Tahun 2017 kembali ingin bersepeda dengan sepeda touring lama yaitu Surly Troll (2013). Kalau aslinya Surly Troll orange, bosan dengan warnanya saya repaint dengan black doff powder coating. Bosan dengan set-up yang gitu-gitu aja: flat handle bar, saya pernah ubah dengan drop bar dan bar-end shifter.

Tahun 2017 kembali mengubah set-up Surly Troll membangun kembali dengan roda 650b atau 27’5 inch. Kenapa memilih 650b? Awalnya ingin mencoba tren baru di dunia persepedaan yaitu roda 650b, terasa dengan roda 26 inch sangat lambat dan terlalu kecil untuk tinggi badan 175 cm. Saya kembali merakit roda 650b menggunakan rims ARAYA dan ruji XLR8, hub-freehub tetap menggunakan Shimano SLX.

Mengganti roda ke 650b, otomatis juga mengganti ban luar dan dalam. Ban luar saya memilih Panaracer Comet 27’5 x 2.00 dengan kembangan ban yang semi offroad, jadi bisa dipakai di jalan aspal dan cross country ringan. Ban dalam saya menggunakan Kenda yang kualitasnya cukup bagus dan mudah dicari di pasaran. Overall cukup nyaman dipakai untuk bike to work dan touring.

Perubahan lain, saya mengganti flat bar dengan loop bar yang sedang kekinian untuk sepeda touring di luar negeri. Loop bar saya memakai merk Oval mirip dengan Jones loop bar dengan harga yang jauh lebih murah, hehe.. Variasi lain, saya menambahkan front rack Surly Bikes yang sangat kokoh untuk membawa bawaan hingga 40 kg. Mari kita touring!

Frameset

  • Frame: Surly Troll 26″, Horizontal slotted with derailleur hanger
  • Fork: 4130 chromoly. 51mm I.S. Disc Mount
  • Seatpost Clamp: Surly Stainless, 30mm

Drivetrain

  • Crankset: Shimano Deore 42/32/22
  • Bottom Bracket: Shimano Deore M590
  • Front Derailleur: Shimano Deore FD-M590
  • Rear Derailleur: Shimano Deore RD-M590 9 Speed
  • Cog or Cogset: Shimano 9 Speed 12-36T
  • Chain: Shimano 9 Speed

Components

  • Headset: Ritchey Comp Headset Bearings
  • Brakes: Avid BB5, 160mm rear rotor and 180mm front rotor
  • Brake Levers: Avid FR-5
  • Shifters: Shimano Deore M590
  • Stem: Funn
  • Handlebar: Oval Loop Bar 710mm
  • Saddle: WTB Volt Sport
  • Seatpost: Kalloy SP-342

Wheels

  • Front Hub: Shimano SLX M675 32h
  • Rear Hub: Shimano SLX M675 32h
  • Rims: Araya DM-650 32h
  • Tires: Panaracer Comet 27’5 x 2.00

Berenang di The 101 Hotel Tugu Yogyakarta

Seberapa sering kamu berenang? 1 minggu sekali? 1 bulan sekali? Saya cukup 1 bulan sekali berenang, biasanya di kolam renang UNY atau kolam renang depok sport center. Kalau lagi bertemu teman yang menginap di hotel yang ada kolam renangnya, pasti selalu mencoba kolam renangnya. Kemarin Jum’at (16/12) ada teman lama yang satu kosan dulu dan sekarang tinggal di Garut menginap di The 101 Hotel Tugu Yogyakarta.

Saya sering melewati The 101 Hotel Tugu Yogyakarta, lokasinya di Jalan Margoutomo (Mangkubumi) no. 103, Yogyakarta 55232 – tepatnya di 200 meter ke selatan dari Tugu Jogja. Teman saya Alex Junianto bersama istri dan 2 anaknya penasaran menginap di The 101 Hotel Tugu Yogyakarta. Mereka datang ke Jogja Kamis (16/12) saya bisa menemuinya Jum’at pagi, sekalian membawakan bubur bayi buat anaknya.

Pukul 05:30 WIB saya bersiap untuk menuju The 101 Hotel Tugu Yogyakarta dan Alex pesan dibelikan bubur bayi di pasar untuk anaknya. Pukul 06:00 WIB saya sampai di The 101 Hotel Tugu Yogyakarta, langsung menuju kamarnya di lantai 8. Baru pertama saya menginjakan kaki di The 101 Hotel Tugu Yogyakarta cukup bagus dan megah di dalamnya. Dari lantai 8 terlihat semua bangunan di kota Jogja yang sangat rapat.

Tidak begitu lama mengobrol, kurang lebih 15 menit kami turun ke bawah untuk berenang dan sarapan. Lokasi kolam renang disamping lobby hotel dan gazebo tempat sarapan gabung dengan kolam renang. Bisa mengawasi anak-anak yang sedang berenang dan orang tuanya sambil sarapan. Saya mencoba kolam renang dewasa, cukup lega dan nyaman untuk seukuran hotel. Untuk anak-anak ada kolam renang terpisah yang bisa diisi sampai 10 anak. Buat anak-anak yang masih membutuhkan balon atau pelampung, The 101 Hotel Tugu Yogyakarta menyediakan persewaan Rp 30.000/pelampung.

Menurut saya, The 101 Hotel Tugu Yogyakarta sudah cukup bagus fasilitas kolam renang, air yang bersih dan selalu mengalir dengan yang baru. Ada kolam renang untuk anak-anak, tapi tetap diawasi karena model tangga untuk naik turunnya cukup banyak lantainya. Mungkin untuk pelampung, bisa disediakan gratis karena sudah termasuk fasilitas hotel yang cukup mahal harga per malamnya. 😀

view dari lantai 8
view dari lantai 8

 

view dari lantai 8
view dari lantai 8

 

view dari lantai 8
view dari lantai 8

 

kolam renang the 101 hotel tugu yogyakarta
kolam renang the 101 hotel tugu yogyakarta

 

kolam renang the 101 hotel tugu yogyakarta
kolam renang the 101 hotel tugu yogyakarta

Sepatu Baru! Nike Lunarepic Low Flyknit Black 2016

Alhamdulillah bisa beli sepatu baru: Nike Lunarepic Low Flyknit Black. Dari awal keluar videonya di Youtube Nike Running 4 bulan yang lalu, bikin penasaran pengen pakai dan punya sepatu ini. Cerita di videonya Juni 2016, Nike membuat inovasi di kain dan solnya baru ada di Nike Lunarepic Flyknit. Nike Lunarepic Flyknit ada 2 tipe yang low dan high. Karena yang masuk di Indonesia Nike Lunarepic Low Flyknit saya membeli yang ada saja dan memilih warna hitam dengan alasan netral.

Berikut video Nike Lunarepic Flyknit:

Alasan utama beli sepatu baru ini, karena sepatu saya: Skechers Go Run Ride 4 dipakai dari bulan Februari 2016 sampai Agustus – Bali Marathon 2016 kurang nyaman untuk long run. Apakah hanya saya saja yang merasakan? Tapi sering saya pakai untuk latihan half marathon tiap bulan, diatas 15 kilometer sudah tidak nyaman. Sepatu Skechers terkenal dengan empuk dan ringannya, tapi dipakai lama kaki cepat panas dan sol menipis atau bahasa lainnya trepes.

Puncaknya saat Full Marathon Bali Marathon 2016, berlari di atas 21 kilometer kaki pegel-pegel semua dan rasanya pakai sepatu yang tidak ada busanya. Waktu ke Jakarta kemarin hari Sabtu sebelum race Jakarta Marathon 2016 jalan-jalan ke Nike Mall Grand Indonesia, melihat penampakan Nike Lunarepic Low Flyknit Black. Awalnya mencoba dengan ukuran yang sesuai, tapi udah suka dengan bentuk dan warnanya. Banyar aja laah.. Sekalian coba sepatu baru di Jakarta Marathon 2016, hehe..

Nike Lunarepic Flyknit diperuntukkan untuk easy ride jadi tidak cocok untuk pelari yang hobi ngebut dengan pace 3 atau 4. Saya berlari di Mandiri Jakarta Marathon 2016 dengan pace 6 – 7, sangat nyaman dan pas di kaki. Sampai finish tidak pegal-pegal. Terasa bedanya dengan teknologi sol yang baru Nike, katanya membuat stabil untuk berlari. Terbukti emang stabil dan mantab buat melangkah.

Pagi ini saya coba berlari lagi dengan Nike Lunarepic Low Flyknit tapi tidak 21 km hanya 10 km dengan stabil pace yang sama 6 atau 7, ini catatan di Stravanya. Secara keseluruhan saya suka dengan sepatu ini, teknologi flyknit membuat sepatu menjadi ringan dan pas di kaki. Nike Lunarepic Low Flyknit menjadi sepatu yang akan saya pakai di setiap latihan dan race kedepannya.

Mandiri Jakarta Marathon 2016

Mandiri Jakarta Marathon 2016, tepatnya Minggu (23/10) sudah 1 minggu yang lalu. Tapi eforianya masih kebawa sampai sekarang. Pertama kalinya saya berlari dan mengikuti event race di Jakarta yaitu Mandiri Jakarta Marathon 2016. Akhirnya di tahun 2016 bisa mengikuti 2 acara lari yaitu Maybank Bali Marathon 2016 dan Mandiri Jakarta Marathon 2016. Untuk yang di Bali saya mengambil kategori full marathon dan di Jakarta half marathon.

Niatan awal ikutan Mandiri Jakarta Marathon 2016, penasaran dengan rute yang dilewati di Jakarta. Kapan lagi lari di Jakarta dengan jalur steril tanpa kendaraan lewat, tapi faktanya masih ada motor, mobil dan bus yang nylonong saat acara berlangsung. Sabtu (22/10) pagi saya sampai Jakarta dan menumpang mandi di kosan teman sepeda Jogja: Haris Rizaka. Sudah lama gak bertemu Haris, sejak bekerja di Jakarta. Terima kasih yah Ris!

Rencana sabtu siang saya mengambil racepack Mandiri Jakarta Marathon 2016 bersama teman Jogja yang berangkat beda kereta: Sujarwadi. Mas Jarwadi sudah datang dan mengambil racepack duluan di Mall Kuningan City Jakarta. Dari kosan saya bersama Haris naik Grab Car yang hari itu sedang promo, hehe.. Saya bertemu dengan Mas Jarwadi di pintu masuk pengambilan racepack. Tidak begitu lama pengambilan racepack 10 menit selesai dan lanjut ke stand pameran sponsor.

Salah satu sponsor kesehatan Mandiri Jakarta Marathon 2016 ada Dompet Dhuafa yang membuka stand sumbangkan sepatu olahragamu yang masih layak pakai. Saya dari Jogja sudah berniat membawa sepatu lama: Nike Zoom Structure 17 – sepatu lari pertama yang sudah 800 kilometer. Saya sumbangkan dengan Dompet Dhuafa, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.

mandiri jakarta marathon 2016

Setelah pengambilan racepack saya dan Mas Jarwadi jalan-jalan keliling Mall Kuningan City tentunya melihat toko olahraga. Barang yang dijual sama dengan mall yang ada di Jogja, tapi ukuran lebih besar sedikit di Jakarta. Setelah selesai jalan-jalan, kami putuskan untuk check-in hotel di sekitaran Harmoni dekat dengan lokasi start/finish Mandiri Jakarta Marathon yaitu Monumen Nasional. Agar lebih cepat untuk datang ke lokasi start besok paginya.

Sampai di hotel kami beristirahat dan malas untuk keluar, tapi perut masih lapar dan promo Grab Car masih ada. Kami putuskan untuk jalan-jalan ke Mall Grand Indonesia, mallnya sangat besar dan kelasnya menengah ke atas. Sampai malam kami berjalan-jalan keliling Mall Grand Indonesia, pulang ke hotel sekitaran pukul 21:00. Karena besok paginya kami akan mulai berlari pukul 05:00 WIB, langsung tidur saja.

Minggu (23/10) waktunya berlari di Mandiri Jakarta Marathon, kami bangun pukul 04:00 WIB mempersiapkan semua perlengkapan lari. Dari hotel ke Monumen Nasional cukup dekat hanya 800 meter, tapi kami manfaatkan Grab Car agar cepat menuju start. Cuaca pagi itu mendung dan dipastikan hujan mengguyur Jakarta. Kami langsung berkumpul dengan peserta lari yang lain dari seluruh Indonesia dan mancanegara.

Saya dan Mas Jarwadi mengambil kategori 21 kilometer atau half marathon. Startnya selisih 15 menit dari kategori full marathon yang mulai start pukul 05:00 WIB. Banyak teman yang ikutan Mandiri Jakarta Marathon, tetapi tidak bisa berjumpa semua. Karena banyaknya peserta hampir 16.000 orang berkumpul di Monumen Nasional. Saya masuk ke rombongan yang terdekat dari garis start, tepat pukul 05:15, kategori half marathon dilepas oleh panitia.

mandiri jakarta marathon 2016

Saya bukan pelari cepat, hanya penghobi yang menikmati rute dan keseruan lari. Dari kilometer satu sampai kilometer 5 saya stabil berlari dengan pace 6, karena heart rate monitor di Garmin Fenix 3 masih membaca pemanasan. Mulai KM 5, hujan deras mengguyur peserta Mandiri Jakarta Marathon 2016 kurang lebih 30 menit. Teman saya Mas Jarwadi sudah ngacir di depan dengan pace 4, terbukti dia nomor 24 untuk kategori half marathon.

Rute yang dilewati sepanjang Mandiri Half Marathon 2016 sangat asyik melewati kota lama Jakarta dan jalan kecil rumah penduduk di pinggiran Jakarta. Karena hujan tidak begitu panas dari start sampai finish, tapi kaos kaki dan sepatu basah semua membuat langkah semakin berat dan ingin sekali kencing. Saya mencari toilet portabel yang disediakan panitia, tapi tidak menemukan. Untuk kedepannya panitia harus memikirkan itu.

Jakarta berbeda dengan Bali, kalau di Bali di sepanjang perjalanan warga menyambut semua pelari dengan tarian dan musik tradisional Bali. Jakarta warganya menonton dan beberapa orang yang menutupi jalan, karena bersamaan dengan car free day di wilayah Sudirman – Thamrin. Saya menyayangkan sampai kilometer 10 – 13, semua peserta kategori 5, 10 dan 21 kilometer berkumpul di jalur yang sama. Saya ingin berlari kencang, tapi terhalang dengan peserta lain yang sedang ngobrol dan jalan kaki.

Di kilometer 13, ada jalur pemisah antara 10 kilometer dan 21 kilometer. Di wilayah itu, kendaraan bermotor ada yang tidak sabaran ingin menerobos jalur pelari. Saya mendapat info, kalau sosialisasi jalur Mandiri Jakarta Marathon 2016 sudah diinfokan seluruh warga Jakarta, tapi ada yang belum mengetahui. Saya sabar melewati jalur tersebut dengan berjejalan dengan motor yang tidak sabaran.

Terakhir di kilometer 19-21 yang melewati jalur car free day ada sebagian orang yang tidak paham bahwa sedang ada acara Mandiri Jakarta Marathon 2016. Masih ada pesepeda yang masuk ke jalur lari dan sengaja mengayuhnya pelan-pelan. Untuk keseluruhan, kesiapan panitia Mandiri Jakarta Marathon 2016 cukup bagus. Di setiap 2,5 kilometer ada water station yang disiapkan, ada juga panitia yang menjaga water station tidak siap siaga mengisi airnya.

mandiri jakarta marathon 2016

Review SONY MDR-AS200 Sports Headphone

Mendengarkan musik saat menunggu, berolahraga dan traveling bagi saya adalah kebutuhan. Aktifitas pagi saya adalah berolahraga sendirian, daripada bosan berlari dan bersepeda menghitung kilometer. Saya lebih suka mendengarkan musik penyemangat, agar olahraga lebih menyenangkan. Banyak sekali aplikasi musik gratis di smartphone yang menyediakan playlist/kumpulan lagu sesuai mood yang dibutuhkan saat itu. Tidak perlu lagi mendownload musik dan memasukannya di smartphone.

Selesai dengan aplikasi musik yang menyediakan jutaan musik yang bisa kamu dengar setiap saat. Persoalan kedua, untuk olahraga membutuhkan perangkat headphone atau earphone yang menunjang aktifitas olahraga. Selain dari kualitas suara headphone atau earphone, untuk berolaharga dibutuhkan yang tahan kena air dan keringat. Tahan kena air bukan kuat dimasukkan ke dalam air/kolam renang, tetapi terkena cipratan air atau guyuran air hujan saat berolahraga.

Memilih sport headphone gampang-gampang susah. Pertama pilihan yang beragam, masing-masing pabrikan headphone mengeluarkan tipe sport headphone. Kedua, harga dan kualitas yang bermacam-macam. Contohnya sport headphone yang bluetooth pasti lebih mahal daripada wire headphone. Pengennya beli yang bluetooth, tapi harganya diatas 1 jutaan dan kualitasnya belum tentu bagus. Banyak yang bilang kalau bluetooth, lebih sering dicharge ketahanan batrenya belum bagus.

image: sony
image: sony

Setelah membaca review dan melihat harga yang pas di dompet, akhirnya membeli SONY MDR-AS200. Alasan utama memilih SONY MDR-AS200 karena harganya tidak begitu mahal Rp 279.000, kalau kualitas suaranya tidak begitu bagus ya gak rugi-rugi amat lah, hehe.. Keperuntukan headphone ini memang untuk berolahraga, jadi tidak perlu untuk takut kena keringat dan mengakibatkan lengket setelah pemakaian. Sebelum memakai SONY MDR-AS200 saya memakai earphone bawaan iPhone 6S, awalnya cukup nyaman tapi lama-kelamaan sering terkena keringat tombol volumenya bermasalah.

Saya memilih warna biru, karena warna hitam dan putih terlihat biasa sama dengan headphone bawaan smartphone. Warna birunya juga lebih fresh, enak dilihat saat dipakai dan lebih gaya. Alasan lain dari bentuknya yang lingkaran mengunci telinga, untuk kenyamanan dan keamanan menghindari terjadinya jatuh saat berlari. Desain yang minimalis, terlihat bahwa itu sport headphone.

Sudah 1 bulan saya mencoba SONY MDR-AS200 untuk berlari, jalan kaki dan bersepeda. Untuk kualitas suara cukup bagus, bagian hitam di headphone menutup rapat di telinga. Playlist lagu untuk lari saya selalu memasang lagu EDM dan POP, asik tidak pecah dan liriknya masih terdengar. SONY mendesain MDR-AS200 ini dengan gaya clip-on membentuk vertikal di telinga untuk segala ukuran. Karet yang lentur bisa dipaskan sebelum dipakai. Jangan khawatir tertukar antara kanan dan kiri, karena tidak bisa dipasang di telingan jika tertukar kanan dan kiri.

Terakhir, keunggulan dari SONY MDR-AS200 ini yaitu di kabelnya. Walaupun panjang, SONY mengembangkan teknologi kabel bergerigi untuk mengurangi kusut pada kabel. Saya puas memakai SONY MDR-AS200 ini. Buat pertimbangan SONY ke depan agar memberikan semacam kemasan agar headphone ini mudah dibawa-bawa saat olahraga maupun travelling. Ukuran dan desainnya sangat minimalis untuk dibawa-bawa. Buat teman-teman yang ingin melihat spesifikasi lengkapnya bisa buka disini.

image: sony
image: sony

Thursday Night Run Indorunners Jogja

Setiap kamis malam acara rutin saya adalah pacaran lari bersama komunitas Indorunners Jogja yang biasa dikenal Playon Jogja. Kamis (14/10) dengan cuaca yang galau setelah hujan badai sore hari dan malamnya sedikit gerimis, saya beranikan diri untuk tetap berlari dengan Playon Jogja. Buat teman-teman yang penasaran dengan serunya lari malam Playon Jogja bisa datang langsung pukul 18:30 di BCA Sudirman Jogja. Ada sekitar 20-30 orang setiap kamis malam, seru!

Buat pemula yang baru belajar lari yang benar, banyak senior yang siap memberikan arahan cara berlari yang benar. Lari malam untuk sebagian orang memang mengerikan, tapi tenang ada tim sweeper yang setia menunggu di barisan paling belakang jika ada yang tidak kuat mengikuti rutenya. Untuk rutenya terbagi menjadi 3 kelompok: Kelompok 1 (jarak 10 km dengan pace 4-5), Kelompok 2 (jarak 7 km dengan pace 6-7) dan kelompok 3 (jarak 5 km dengan pace 8). Silahkan pilih sesuai keyakinan dan tenaga masing-masing. Kalau saya gabung di kelompok 2 dengan rute ini.

Special untuk Kamis, 14 Oktober 2016 selain berlari Playon Jogja membuka penggalangan dana untuk Eni Rosita – pelari lomba lintas gunung yang disiram air keras saat mengikuti lomba lari Mesastila Peak Challenge 2016. Eni peserta lomba lari untuk kategori 100 km, yang melintasi lima gunung, yaitu Gunung Andong, Merbabu, Merapi, Telomoyo dan Gilibetung. Lomba ini merupakan event internasional. Start dan finish lomba dari Mesastila Resort di Magelang dan berlangsung selama dua hari Sabtu hingga Minggu. Beritanya silahkan dibaca sendiri.

Semoga Eni Rosita cepat sembuh dan berlari kembali. Saya iseng-iseng stalking Facebook Eni Rosita, melihat keadaannya sungguh kasihan sampai dioperasi plastik. Setelah terkumpul, total penggalangan dana untuk Eni Rosita: Rp 257.000. Dengan dana tersebut akan langsung diberikan oleh beliau, untuk membantu kesembuhannya.

image: bagus
image: bagus
image: bagus
image: bagus
image: bagus
image: bagus
image: indra
image: indra